kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 26 Juli 2006

 Budaya


Mencari Spirit Kehidupan di Pura Gunung Kawi

Deretan anak tangga yang jumlahnya ratusan kian membentang tatkala masuk areal Gunung Kawi. Ini merupakan salah satu pengujian ketaatan hati dalam menghadapi cobaan hidup. Bentangan Sungai Pekerisan yang mengalir dengan jernihnya menambah magis keberadaan Pura Gunung Kawi. Pura yang terletak di Tampaksiring ini dalam perjalanan sejarah Indonesia juga tak melupakan tokoh proklamator RI Ir. Soekarno. Setiap datang ke Bali, Soekarno sendiri sering melakukan meditasi di salah satu goa yang terletak di kawasan utama mandala Pura Gunung Kawi. Di samping itu, beberapa pejabat dan politisi sengaja datang ke tempat ini untuk menyatukan pikiran atau mencari pewisik.

=========================================================== 

Keberadaan goa itu sendiri, menurut Mangku Wayan Watja, merupakan tempat pertapaan bagi raja di zaman Udayana hingga Anak Wungsu. Selain goa, di tempat tersebut juga ada Geni Sala atau Geni Atra yang diperkirakan sebagai tempat pengasepan untuk memuja kebesaran Tuhan. Di samping itu, di beberapa dinding di Pura Gunung Kawi banyak terdapat tempat pertapaan yang menyerupai goa, yang diperuntukkan bagi punggawa dan prajurit-prajurit untuk melakukan pertapaan saat mengikuti rajanya bertapa.

Goa yang terdapat di Pura Gunung Kawi sendiri erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Dharmodayana Warmadewa saat memerintah di Bali. Sementara goa yang ada di Gunung Kawi dahulunya disebut dengan Pertapaan Amarawati. Dalam Prasasti Tengkulak yang berangka tahun 945 Caka (1023) disebutkan keberadaan pertapaan Katyagan, Amarawati, di tepi Kali Pekerisan. 

Dalam pertapaan Amarawati atau yang kini disebut sebagai Gunung Kawi ini didirikan candi-candi atau persada raja-raja dari Dharmodayana sampai Anak Wungsu. Anak Wungsu ini merupakan anak ketiga dari Udayana. Dalam sejarahnya, Udayana mempunyai tiga putra antara lain Airlangga yang kemudian menjadi Raja di Jawa Timur. 

Di kawasan Gunung kawi sendiri terdapat 10 candi, yaitu lima candi terdapat di areal Pura Gunung Kawi, empat candi di Pura Kawan, dan satu di Geria Bukit Gundul. Sedangkan abu jenazah dari Dharamodayana Warmadewa sendiri ditanam di candi yang terdapat di areal Gunung Kawi, yang merupakan salah satu wujud penghormatan bagi beliau.  

Selain Dharmodayana, dua putra beliau -- Marakata dan Anak Wungsu -- juga dilakukan penghormatan di candi tersebut. Tempat penghormatan kepada keluarga raja ini diketahui dari ditemukannya periuk-periuk kecil yang berisi abu jenazah dan benda-benda lainnya.

Di atas pintu gerbang atau gapura yang disebut Cikhara tertulis kalimat pendek yang berbunyi ''Aji Lumahing Jalu''. Selain itu dalam chikara lainnya juga tercantum ''Rua Anak Nire''. Tulisan ini sendiri dibuat dengan huruf Bali kuno, kwadrat Kediri.

Kalimat yang terdapat pada Chikara ''Rua Anak Nire'' dibandingkan dengan Prasasti Bila (II) yang berangka tahun 995 Caka menimbulkan keraguan.  

Dikatakan dalam prasasti tersebut, Raja Marakata dimakamkan di Bukit Cemara. Dalam hal ini selalu diingat suatu kebiasaan yang sering dilakukan oleh para raja, di mana seorang yang sudah dikuburkan dengan sederhana sekali lalu dipindahkan kemudian abu jenazah ditanam dan didirikan bangunan besar di sana. Bahkan disebutkan Dharmodayana Warmadewa konon dimakamkan di Banyuweka. Setelah candi di Gunung Kawi rampung, abu jenazahnya dipindahkan dari Banyu Weka ke Prasada yang baru di Kawi.  

Pemindahan abu ini juga dilakukan terhadap abu jenazah dari Marakata yang sebelumnya berada di Cemara dipindahkan dan kemudian dikumpulkan dengan abu jenazah Anak Wungsu yang merupakan saudaranya sendiri. Bila dilihat dari prasasti yang ada di mana ketiga abu dari raja-raja ini dikubur di candi Gunung Kawi, maka tiga candi yang tersisa masih dalam keadaan kosong.  

Kemungkinan maksud dari pembangunan candi tersebut akan dipergunakan untuk anak-anaknya yang lain yang akan mangkat (meninggal) di kemudian hari.

 Dari sarjana yang pernah melakukan penelitian di Gunung Kawi, salah satunya L.C Damais mengatakan tulisan yang terdapat di atas candi bentar Gunung Kawi itu berbunyi ''Aji Lumah i Julu'', itu merupakan sebuah monogram atau angka tahun.  

Menurut L.C Damais, kata ''Aji'' itu berarti angka, ''Lumah'' berarti angka 0, sedangkan ''Jalu'' diartikan 1. Dari uraian tersebut jika disatukan menjadi 101, dengan ditambahka nol satunya lagi maka menjadi 1001 Caka. Jadi ''Aji'' yang dimakamkan di candi itu adalah pada tahun 1001 Caka. 

Pura Gunung Kawi

Di Pura Gunung Kawi sendiri yang disungsung adalah Udayana Warmadewa, Anak Wungsu dan Marakata Pankaja. Untuk piodalan yang dilakukan di Pura Gunung Kawi sendiri diselenggarakan setiap Purnama Ketiga setiap tahunnya. Sedangkan untuk piodalan enam bulannya diselenggarakan bertepatan dengan hari raya Kuningan.  

Pura Gunung Kawi sendiri, menurut Mangku Wayan Wetja, letak awalnya bukan di tempat yang ada sekarang ini. Pura Gunung Kawi pertamanya terletak tepat di depan bangunan Lima Candi. Pada tahun 1958, oleh Presiden Soekarno, Pura Gunung Kawi digeser ke selatan di tempat sekarang ini. Mengenai alasan digesernya areal pura tersebut, ia mengatakan kemungkinan untuk menata agar kelihatan lebih bagus karena candi dan pura tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah yang termasuk dalam cagar budaya nasional.

Pura Gunung Kawi sendiri seperti konsep pura yang ada di Bali terdiri atas Tri Mandala. Hanya di pura yang banyak dikunjungi oleh pemedek dari seluruh Bali tidak mempunyai wantilan pura untuk menampung para pemedek yang datang untuk bersembahyang. Permasalahan ini dikeluhkan oleh Bendesa Pura Gunung Kawi, Wayan Sinarka, Selasa (25/7) kemarin.  

Dari pihak krama Banjar Penaka yang berjumlah sekitar 66 KK ini telah bersepakat akan membangun wantilan Pura Gunung Kawi sebagai tempat untuk masanekan (istirahat) ketika di dalam pura sedang penuh melakukan upacara. Untuk pembangunan wantilan ini rencananya akan dipergunakan laba pura yang jumlahnya sekitar 1 hektar. ''Kemungkinan beberapa are dari laba pura tersebut akan kami pergunakan untuk membangun wantilan,'' katanya.
* ag dharmada

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)