Mencari Spirit Kehidupan di Pura Gunung Kawi
Deretan
anak tangga yang jumlahnya ratusan kian membentang
tatkala masuk areal Gunung Kawi. Ini merupakan salah
satu pengujian ketaatan hati dalam menghadapi cobaan
hidup. Bentangan Sungai Pekerisan yang mengalir dengan
jernihnya menambah magis keberadaan Pura Gunung Kawi.
Pura yang terletak di Tampaksiring ini dalam perjalanan
sejarah Indonesia juga tak melupakan tokoh proklamator
RI Ir. Soekarno. Setiap datang ke Bali, Soekarno sendiri
sering melakukan meditasi di salah satu goa yang
terletak di kawasan utama mandala Pura Gunung Kawi. Di
samping itu, beberapa pejabat dan politisi sengaja
datang ke tempat ini untuk menyatukan pikiran atau
mencari pewisik.
===========================================================
Keberadaan goa itu sendiri, menurut Mangku Wayan Watja,
merupakan tempat pertapaan bagi raja di zaman Udayana
hingga Anak Wungsu. Selain goa, di tempat tersebut juga
ada Geni Sala atau Geni Atra yang diperkirakan sebagai
tempat pengasepan untuk memuja kebesaran Tuhan. Di
samping itu, di beberapa dinding di Pura Gunung Kawi
banyak terdapat tempat pertapaan yang menyerupai goa,
yang diperuntukkan bagi punggawa dan prajurit-prajurit
untuk melakukan pertapaan saat mengikuti rajanya bertapa.
Goa yang terdapat di Pura Gunung Kawi sendiri erat
kaitannya dengan perjalanan sejarah Dharmodayana
Warmadewa saat memerintah di Bali. Sementara goa yang
ada di Gunung Kawi dahulunya disebut dengan Pertapaan
Amarawati. Dalam Prasasti Tengkulak yang berangka tahun
945 Caka (1023) disebutkan keberadaan pertapaan Katyagan,
Amarawati, di tepi Kali Pekerisan.
Dalam pertapaan Amarawati atau yang kini disebut sebagai
Gunung Kawi ini didirikan candi-candi atau persada
raja-raja dari Dharmodayana sampai Anak Wungsu. Anak
Wungsu ini merupakan anak ketiga dari Udayana. Dalam
sejarahnya, Udayana mempunyai tiga putra antara lain
Airlangga yang kemudian menjadi Raja di Jawa Timur.
Di kawasan Gunung kawi sendiri terdapat 10 candi, yaitu
lima candi terdapat di areal Pura Gunung Kawi, empat
candi di Pura Kawan, dan satu di Geria Bukit Gundul.
Sedangkan abu jenazah dari Dharamodayana Warmadewa
sendiri ditanam di candi yang terdapat di areal Gunung
Kawi, yang merupakan salah satu wujud penghormatan bagi
beliau.
Selain Dharmodayana, dua putra beliau -- Marakata dan
Anak Wungsu -- juga dilakukan penghormatan di candi
tersebut. Tempat penghormatan kepada keluarga raja ini
diketahui dari ditemukannya periuk-periuk kecil yang
berisi abu jenazah dan benda-benda lainnya.
Di atas pintu gerbang atau gapura yang disebut Cikhara
tertulis kalimat pendek yang berbunyi ''Aji Lumahing
Jalu''. Selain itu dalam chikara lainnya juga tercantum
''Rua Anak Nire''. Tulisan ini sendiri dibuat dengan
huruf Bali kuno, kwadrat Kediri.
Kalimat yang terdapat pada Chikara ''Rua Anak Nire''
dibandingkan dengan Prasasti Bila (II) yang berangka
tahun 995 Caka menimbulkan keraguan.
Dikatakan
dalam prasasti tersebut, Raja Marakata dimakamkan di
Bukit Cemara. Dalam hal ini selalu diingat suatu
kebiasaan yang sering dilakukan oleh para raja, di mana
seorang yang sudah dikuburkan dengan sederhana sekali
lalu dipindahkan kemudian abu jenazah ditanam dan
didirikan bangunan besar di sana. Bahkan disebutkan
Dharmodayana Warmadewa konon dimakamkan di Banyuweka.
Setelah candi di Gunung Kawi rampung, abu jenazahnya
dipindahkan dari Banyu Weka ke Prasada yang baru di Kawi.
Pemindahan abu ini juga dilakukan terhadap abu jenazah
dari Marakata yang sebelumnya berada di Cemara
dipindahkan dan kemudian dikumpulkan dengan abu jenazah
Anak Wungsu yang merupakan saudaranya sendiri. Bila
dilihat dari prasasti yang ada di mana ketiga abu dari
raja-raja ini dikubur di candi Gunung Kawi, maka tiga
candi yang tersisa masih dalam keadaan kosong.
Kemungkinan maksud dari pembangunan candi tersebut akan
dipergunakan untuk anak-anaknya yang lain yang akan
mangkat (meninggal) di kemudian hari.
Dari sarjana yang pernah melakukan penelitian di Gunung
Kawi, salah satunya L.C Damais mengatakan tulisan yang
terdapat di atas candi bentar Gunung Kawi itu berbunyi
''Aji Lumah i Julu'', itu merupakan sebuah monogram atau
angka tahun.
Menurut L.C Damais, kata ''Aji'' itu berarti angka, ''Lumah''
berarti angka 0, sedangkan ''Jalu'' diartikan 1. Dari
uraian tersebut jika disatukan menjadi 101, dengan
ditambahka nol satunya lagi maka menjadi 1001 Caka. Jadi
''Aji'' yang dimakamkan di candi itu adalah pada tahun
1001 Caka.
Pura Gunung Kawi
Di
Pura Gunung Kawi sendiri yang disungsung adalah Udayana
Warmadewa, Anak Wungsu dan Marakata Pankaja. Untuk
piodalan yang dilakukan di Pura Gunung Kawi sendiri
diselenggarakan setiap Purnama Ketiga setiap tahunnya.
Sedangkan untuk piodalan enam bulannya diselenggarakan
bertepatan dengan hari raya Kuningan.
Pura Gunung Kawi sendiri, menurut Mangku Wayan Wetja,
letak awalnya bukan di tempat yang ada sekarang ini.
Pura Gunung Kawi pertamanya terletak tepat di depan
bangunan Lima Candi. Pada tahun 1958, oleh Presiden
Soekarno, Pura Gunung Kawi digeser ke selatan di tempat
sekarang ini. Mengenai alasan digesernya areal pura
tersebut, ia mengatakan kemungkinan untuk menata agar
kelihatan lebih bagus karena candi dan pura tersebut
merupakan salah satu peninggalan sejarah yang termasuk
dalam cagar budaya nasional.
Pura Gunung Kawi sendiri seperti konsep pura yang ada di
Bali terdiri atas Tri Mandala. Hanya di pura yang banyak
dikunjungi oleh pemedek dari seluruh Bali tidak
mempunyai wantilan pura untuk menampung para pemedek
yang datang untuk bersembahyang. Permasalahan ini
dikeluhkan oleh Bendesa Pura Gunung Kawi, Wayan Sinarka,
Selasa (25/7) kemarin.
Dari pihak krama Banjar Penaka yang berjumlah sekitar 66
KK ini telah bersepakat akan membangun wantilan Pura
Gunung Kawi sebagai tempat untuk masanekan (istirahat)
ketika di dalam pura sedang penuh melakukan upacara.
Untuk pembangunan wantilan ini rencananya akan
dipergunakan laba pura yang jumlahnya sekitar 1 hektar.
''Kemungkinan beberapa are dari laba pura tersebut akan
kami pergunakan untuk membangun wantilan,'' katanya.
* ag dharmada