kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 26 Juli 2006

 Bali


Putu Yuliani dan Ketut Aryadana .....

Bocah Malang yang Terjerat Kemiskinan
 

BULELENG memang menyimpan banyak warga miskin. Kesan itu terasa saat Bali Post menyusuri Dusun Pamesan Desa Lokapaksa, Seririt, Selasa (25/7) kemarin. Jejeran rumah-rumah sederhana. Balita yang sakit karena kekurangan gizi, kekumuhan dan udara kering bercampur debu. Semua menyiratkan suasana muram karena satu hal, kemiskinan.

Begitu pun yang tampak di rumah pasangan Kadek Sasmita (35) dan Luh Kadi (34). Di rumah sederhana itu tampak pemandangan memilukan, seorang bocah berusia 10 tahun bernama Putu Yuliani. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu tampak begitu lemah. Badannya kurus dan kedua kakinya begitu kecil menyangga badannya yang ringkih. ''Sebenarnya sejak kecil anak saya itu tidak pernah sakit. Saya pernah membawanya ke dokter spesialis anak. Kata dokter itu, pertumbuhan anak saya memang lambat,'' tutur Luh Kadi.

Dia menceritakan, anaknya lahir 5 Juli 1996 dalam keadaan normal. Ketika berusia lima bulan, Putu Yuliani tidak bisa duduk. Kepalanya lemas, tidak bisa ditegakkan. Saat anaknya berusia 6 dan 7 bulan, Kadi dan suaminya sempat membawanya dokter. Namun kondisi itu tambah parah waktu sang anak berusia 3 tahun. Kakinya mengecil dan dia tak bisa bicara. Berat badannya hingga berusia 10 tahun ini hanya sekitar 12 kg. ''Dia cuma bisa tidur, tidak bisa duduk. Kalau mau makan, saya yang menyuapinya,'' imbuh Kadi.

Tak banyak yang bisa dilakukan pasutri yang hidup serbakekurangan ini untuk mengupayakan kesembuhan anaknya. Penghasilan mereka sebagai buruh pemetik anggur tak seberapa. Upaya yang pernah mereka lakukan untuk menyembuhkan anaknya hanya berobat tradisional ke balian. Tak kurang 15 kali dia bolak-balik ke balian. Namun, kondisi Yuliani tak berubah. ''Saya ingin anak saya mendapat pengobatan, seperti terapi. Tapi kami tidak punya biaya. Kami berharap ada yang bersedia membantu,'' ujarnya lirih.

Jerat kemiskinan juga menimpa Ketut Aryadana (1 tahun, 2 bulan). Anak keempat pasangan Ketut Kardi (35) dan Gede Sumadi (37) menderita semacam tumor di hidungnya. Ketut Kardi, ibu bocah malang itu mengatakan benjolan itu mulai tampak saat Aryadana lahir. Benjolan itu makin membesar ketika dia berusia 3 bulan. Aryadana mulai sering menangis. Mereka sempat memeriksakan anak itu ke RSUD Buleleng. Menurut pihak RS, Aryadana harus dioperasi di RS Sanglah yang memiliki perlengkapan medis lebih baik. ''Tetapi kami mendapat biaya dari mana? Ya, sudah. Akhirnya kami membiarkan saja benjolan di hidung anak kami itu membesar seperti sekarang ini,'' ucap Kardi.

Karena benjolan itu makin besar, Aryadana jadi sulit bernapas. Kadang napasnya tersengal karena hidungnya terdesak oleh benjolan semacam tumor itu. Seringkali Kardi tak tega melihat penderitaan anaknya. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa. ''Pihak desa sudah mengupayakan membuatkan kartu miskin, namun bila harus operasi di Denpasar kami tidak punya biaya untuk bekal,'' ucapnya.

Sementara Kepala Dusun Pamesan Putu Lanus yang juga datang ke rumah Aryadana bersama seorang guru TK Ni Wayan Budi mengakui kondisi warganya yang banyak berada dalam kemiskinan. Kesulitan ekonomi menjadi penyebab sehingga pihaknya tak berdaya. Pihaknya telah berupaya membantu membuatkan surat keterangan miskin dan sebagainya tetapi tetap saja terganjal soal biaya, bekal orang tua itu saat mengantarkan anaknya berobat. Hal yang dilakukan aparat desa hanyalah mendata, melaporkannya kepada kepala desa dan melakukan koordinasi dengan bidan dan pihak puskesmas Seririt. (ari)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)