Putu Yuliani dan Ketut Aryadana .....
Bocah Malang yang Terjerat Kemiskinan
BULELENG
memang menyimpan banyak warga miskin. Kesan itu terasa
saat Bali Post menyusuri Dusun Pamesan Desa Lokapaksa,
Seririt, Selasa (25/7) kemarin. Jejeran rumah-rumah
sederhana. Balita yang sakit karena kekurangan gizi,
kekumuhan dan udara kering bercampur debu. Semua
menyiratkan suasana muram karena satu hal, kemiskinan.
Begitu pun yang tampak di rumah pasangan Kadek Sasmita
(35) dan Luh Kadi (34). Di rumah sederhana itu tampak
pemandangan memilukan, seorang bocah berusia 10 tahun
bernama Putu Yuliani. Anak bungsu dari tiga bersaudara
itu tampak begitu lemah. Badannya kurus dan kedua
kakinya begitu kecil menyangga badannya yang ringkih. ''Sebenarnya
sejak kecil anak saya itu tidak pernah sakit. Saya
pernah membawanya ke dokter spesialis anak. Kata dokter
itu, pertumbuhan anak saya memang lambat,'' tutur Luh
Kadi.
Dia menceritakan, anaknya lahir 5 Juli 1996 dalam
keadaan normal. Ketika berusia lima bulan, Putu Yuliani
tidak bisa duduk. Kepalanya lemas, tidak bisa ditegakkan.
Saat anaknya berusia 6 dan 7 bulan, Kadi dan suaminya
sempat membawanya dokter. Namun kondisi itu tambah parah
waktu sang anak berusia 3 tahun. Kakinya mengecil dan
dia tak bisa bicara. Berat badannya hingga berusia 10
tahun ini hanya sekitar 12 kg. ''Dia cuma bisa tidur,
tidak bisa duduk. Kalau mau makan, saya yang menyuapinya,''
imbuh Kadi.
Tak banyak yang bisa dilakukan pasutri yang hidup
serbakekurangan ini untuk mengupayakan kesembuhan
anaknya. Penghasilan mereka sebagai buruh pemetik anggur
tak seberapa. Upaya yang pernah mereka lakukan untuk
menyembuhkan anaknya hanya berobat tradisional ke balian.
Tak kurang 15 kali dia bolak-balik ke balian. Namun,
kondisi Yuliani tak berubah. ''Saya ingin anak saya
mendapat pengobatan, seperti terapi. Tapi kami tidak
punya biaya. Kami berharap ada yang bersedia membantu,''
ujarnya lirih.
Jerat kemiskinan juga menimpa Ketut Aryadana (1 tahun, 2
bulan). Anak keempat pasangan Ketut Kardi (35) dan Gede
Sumadi (37) menderita semacam tumor di hidungnya. Ketut
Kardi, ibu bocah malang itu mengatakan benjolan itu
mulai tampak saat Aryadana lahir. Benjolan itu makin
membesar ketika dia berusia 3 bulan. Aryadana mulai
sering menangis. Mereka sempat memeriksakan anak itu ke
RSUD Buleleng. Menurut pihak RS, Aryadana harus
dioperasi di RS Sanglah yang memiliki perlengkapan medis
lebih baik. ''Tetapi kami mendapat biaya dari mana? Ya,
sudah. Akhirnya kami membiarkan saja benjolan di hidung
anak kami itu membesar seperti sekarang ini,'' ucap
Kardi.
Karena benjolan itu makin besar, Aryadana jadi sulit
bernapas. Kadang napasnya tersengal karena hidungnya
terdesak oleh benjolan semacam tumor itu. Seringkali
Kardi tak tega melihat penderitaan anaknya. Namun, dia
tak bisa berbuat apa-apa. ''Pihak desa sudah
mengupayakan membuatkan kartu miskin, namun bila harus
operasi di Denpasar kami tidak punya biaya untuk bekal,''
ucapnya.
Sementara Kepala Dusun Pamesan Putu Lanus yang juga
datang ke rumah Aryadana bersama seorang guru TK Ni
Wayan Budi mengakui kondisi warganya yang banyak berada
dalam kemiskinan. Kesulitan ekonomi menjadi penyebab
sehingga pihaknya tak berdaya. Pihaknya telah berupaya
membantu membuatkan surat keterangan miskin dan
sebagainya tetapi tetap saja terganjal soal biaya, bekal
orang tua itu saat mengantarkan anaknya berobat. Hal
yang dilakukan aparat desa hanyalah mendata,
melaporkannya kepada kepala desa dan melakukan
koordinasi dengan bidan dan pihak puskesmas Seririt.
(ari)