kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 19 Juli 2006

 Artikel


Dengan
mengembangkan karakter yang baik dalam pendidikan, akan dapat membangkitkan sifat-sifat siswa yang sejati, sehingga tidak hanya terfokus pada kecerdasan yang mengandalkan akal sehat atau rasionalitas.

--------------------------

Pendidikan yang Mengembangkan Karakter
Oleh
Wayan Gede Suacana 

KEBIJAKAN pendidikan di Indonesia adalah sebuah eksperimen. Tidak ada sebuah kepastian, karena setiap kali pada pergantian pejabat menteri pendidikan nasional akan disertai pula kebijakan baru bidang pendidikan. Penyelenggaraan ujian nasional yang bersifat ambivalen untuk siswa SD, SMP dan SMA saat ini misalnya, banyak mendapatkan reaksi dan protes dari berbagai kalangan.

------------------------------

Pertama, kebijakan ini mengingkari semangat otonomi daerah yang mengakui keberagaman potensi daerah, termasuk dalam bidang pendidikan. Adanya perbedaan dalam kualitas antardaerah memang memungkinkan adanya campur tangan pemerintah pusat. Persoalannya, di mana dan bagaimana campur tangan tersebut dilakukan tanpa mengurangi hak otonomi daerah dalam mengurus pendidikannya. Selain itu, dengan penerapan pendidikan multikultural, campur tangan pemerintah pusat perlu dibatasi. Pendidikan multikultural ini lebih mengedepakan keanekaragaman kultural, hak-hak asasi manusia serta mengurangi bahkan menghapuskan berbagai jenis prasangka demi untuk membangun suatu kehidupan masyarakat yang adil dan tenteram di masing-masing daerah.

Pemerintah pusat seyogianya menganut prinsip pengaturan yang menghargai heterogenitas. Dengan prinsip demikian, keanekaragaman potensi daerah akan dapat dilihat sebagai sebuah hal yang positif dan produktif dalam upaya pengembangan berbagai bentuk kreativitas (daerah, suku, agama). Berbagai unsur budaya yang plural dalam pendidikan diberikan hak hidup secara adil sebagai muatan lokal, di dalam sebuah ruang demokrasi kultural.

Kedua, indikator kelulusan ujian nasional yang hanya ditentukan oleh tiga mata pelajaran: matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk siswa SMP dan SMA dianggap sangat tidak adil karena mengesampingkan peran penting mata pelajaran lain yang ditempuh selama tiga tahun studi. Dari ketiga mata pelajaran ''sakti'' yang paling menentukan lulus tidaknya siswa tersebut, tak satu pun yang mewakili mata pelajaran tentang akhlak dan budi pekerti siswa. Orientasi indikator kelulusan cenderung hanya menekankan kemampuan intelek, dan verbal semata dengan mengabaikan aspek budi pekerti dan spiritualitas. Penerapan indikator ini, juga tidak sesuai dengan ideal pendidikan yang membangun manusia Indonesia seutuhnya, karena condong pada pendidikan dengan mainstream rasionalisme Barat yang lebih mengarah pada material tendency forces (preyoshakti) daripada pendidikan kebijaksanaan Timur yang menekankan pada spiritual tendency forces (sreyoshakti).

Ketiga, sistem ujian nasional yang diterapkan akan menghasilkan pola pendidikan yang berorientasi hasil dengan mengabaikan proses. Siswa akan merasa tidak memerlukan prestasi dalam proses studi selama tiga tahun -- karena tidak diperhitungkan dalam indikator kelulusan. Sebaliknya sistem ini akan memunculkan siswa pintar secara ''instan'' dengan sistem ''kebut sebulan'' untuk mengejar target nilai ujian nasional. Ironisnya, tidak jarang siswa berprestasi atau malah yang sudah diterima PMDK di perguruan tinggi ternyata tidak berhasil lulus dalam ujian nasional.

Begitu pula, sekolah dan guru menjadi terbebani dengan target tetap bisa menjaga ''nama baik'' sekolah dengan kelulusan siswa seratus persen, atau bahkan (kalau mungkin) dengan menempatkan siswanya sebagai peraih nilai ujian nasional tertinggi di kabupaten/kota atau propinsi. Ujian nasional lalu menjadi semacam ajang perebutan status dengan segala cara dengan menempatkan prestasi dan moralitas siswa sebagai bidang yang terpisah.

 

Pendidikan Bagi Karakter

Salah satu dari tujuh dosa sosial yang menurut Mahatma Gandhi, cenderung dilakukan dalam kehidupan masyarakat modern adalah penyelenggaraan sistem pendidikan tanpa disertai pengembangan karakter. Pendidikan demikian hanya diarahkan pada tujuan kecerdasan intelektual guna menopang hidup siswa kelak, dengan mengabaikan fungsinya yang lain, yakni sebagai upaya mengembangkan kesadaran spiritual ke arah atma jnana.

Fisikawan kontemporer, Fritjof Capra juga menyatakan di antara kedua fungsi pendidikan itu idealnya terdapat hubungan paralel, di mana kecerdasan intelektual ''suprarasional'' dan kesadaran spiritual ''suprareligius' bisa disandingkan pada puncak-puncak pencapaian kreativitas manusia.

Tujuan dari penguasaan pendidikan yang mengembangkan karakter sesungguhnya adalah untuk ''membedah'' bidang yang tidak diketahui dengan pedang pembedaan (wiweka). Untuk itulah kenapa dalam pelajaran Raja Yoga dijelaskan agar dikuasai kemampuan membedakan bagian permukaan yang maya, yang terletak berlapis-lapis di bagian luar dengan yang sejati, yang lebih luas yang terletak di bawahnya.

Ada tiga tahap untuk mencapai kemampuan seperti itu.

Pertama, siswa diajarkan dan diajak berdiskusi tentang pusat jati diri (atman) yang merupakan letak sumber kehidupan yang sesungguhnya.

Kedua, siswa diajak berpikir melalui kontemplasi dan refleksi yang mendalam dan terus-menerus, sehingga apa yang telah muncul dalam tahap pertama sebagai kemungkinan abstrak dilihat sebagai sesuatu yang menimbulkan kesadaran hidup tentang atman yang mendasari kepribadian yang fenomenal ini. Pada saat demikian, siswa sudah siap memasuki tahap ketiga, yakni pengalihan identifikasi dirinya dari bagian hidup yang masih berlangsung hingga saat ini, ke bagian hidup yang sejati.

Cara melakukan hal ini, sebagaimana dijelaskan dalam Jnana Vahini, adalah tetap mengembangkan kesadaran dengan hidup meditatif, penyelidikan batin dengan mengingat diri sendiri sebagai atman sembari melakukan kegiatan-kegiatan rutin sehari-hari.

Dengan mengembangkan karakter yang baik dalam pendidikan, akan dapat membangkitkan sifat-sifat siswa yang sejati, sehingga tidak hanya terfokus pada kecerdasan yang mengandalkan akal sehat atau rasionalitas. Sistem ujian nasional yang diterapkan sekarang tampaknya lebih mengembangkan kecerdasan dan keterampilan daripada budi pekerti, kesadaran spiritual dan sifat-sifat yang baik. Padahal, dalam tradisi Veda sudah dijabarkan bahwa hidup lebih merupakan sebuah kesadaran, daripada kecerdasan semata.

Sistem ujian demikian tentu tak akan banyak gunanya bila kelak siswa yang dihasilkannya tidak mempunyai kesadaran dan karakter yang baik.

Penulis, dosen Universitas Warmadewa dan peneliti Yayasan Tri Hita Karana Bali

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)