Ekonomi Susah, Dewan jangan Terus Minta Jatah
JATAH BBM
anggota DPRD Badung dipangkas. Jika dulu anggota Dewan
mendapat jatah BBM per bulan melalui kupon, sekarang hal
itu ditiadakan. Itulah berita Bali Post, Senin (17/7).
Jatah BBM yang biasa diterima anggota Dewan itu mulai
bulan ini distop. Menurut Ketua DPRD Badung Gde Adnyana,
mulai bulan ini Dewan tidak lagi diberikan kupon BBM.
Apa pasalnya? Ternyata, menurut Sekwan Badung I Gusti
Agung Ngurah Alit Agung, pemangkasan jatah BBM bagi
anggota DPRD dilakukan karena tidak ada aturan tentang
pemberian itu.
Kalau demikian halnya jelas itu salah. Namun, kalaupun
ada aturannya, apakah harus semua diikuti? Apakah untuk
BBM saja tiap anggota Dewan harus diberi gratisan tiap
bulan? Sementara masyarakat umum harus membeli BBM yang
harganya naik berkali-kali. Di mana toleransi hati
nurani kepada rakyat kalau demikian?
Apakah anggota Dewan mau dituding sebagai orang-orang ''miskin''
yang beli BBM sendiri saja tak mampu? Soal jatah BBM
kepada tiap anggota Dewan ini beberapa waktu lalu sempat
mencuat jadi sorotan publik karena tiap wakil rakyat
mendapat hingga ratusan liter BBM per bulannya. Di saat
pemerintah melakukan kebijakan menaikkan harga BBM dan
masyarakat umum terhimpit oleh melonjaknya harga BBM dan
harga-harga kebutuhan lainnya, wajar apabila jatah BBM
anggota Dewan ini mendapat cibiran. Anggota Dewan yang
sudah mengantongi gaji, berbagai tunjangan dan fasilitas
jauh melebihi masyarakat umum per bulannya, memang tidak
pantas mendapat BBM gratis. Sebab, dengan gaji dan
berbagai tunjangan mereka bukan kelompok masyarakat kere
yang tak mampu beli bensin untuk kendaraan pribadi
maupun dinasnya. Toh ketika melakukan tugas-tugas dinas
berkelompok atau bersama, kendaraan dinas yang digunakan
sudah dijatah BBM. Apalagi, ternyata pemberian jatah BBM
itu tidak ada dasar aturannya.
''Kecerobohan'' seperti ini seharusnya tidak terjadi,
dan kita berharap tidak terulang. Juga tidak terjadi
untuk jatah-jatah lainnya. Sebab, bukan saja akan
bermuara pada kekecewaan rakyat terhadap perilaku
anggota Dewan, tetapi juga turut menyengsarakan rakyat.
Karena anggaran untuk Dewan akan membesar terus
apabila terus-menerus menambah daftar jatahnya.
Sekalipun jatah BBM dipangkas, masih ada gaji besar plus
berbagai tunjangan bagi anggota Dewan. Sehingga take
home pay wakil rakyat tetap tinggi. Karena itu,
pemangkasan jatah BBM yang tidak ada dasar aturannya ini
jangan sampai mengendorkan semangat wakil rakyat
melakukan tugas-tugasnya. Teristimewa sekali untuk
memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Coba dengarkan suara rakyat. Pernahkah mereka merasa
kesejahteraannya diperjuangkan oleh para wakilnya di
Dewan? Masyarakat bahkan sering menyoroti rendahnya
kinerja dan perilaku Dewan, baik secara lembaga maupun
individu. Kelakuan-kelakuan yang tidak mencerminkan
kinerja positif, seperti sering studi banding tanpa
hasil kongkret, ada oknum yang tertangkap nyabu, berjudi
dan lainnya, sangat mengecewakan rakyat. Hal-hal
demikian sudah seharusnya berhenti ''dipertontonkan''
kepada rakyat, diganti dengan ketekunan melaksanakan
tugas-tugas yang mencerminkan keberpihakan kepada nasib
rakyat.
Rakyat masih belum terbebas dari keterhimpitan masalah
ekonomi, kesulitan hidup, tingginya biaya pendidikan,
kesehatan, dan lain-lain. Belum lagi ancaman bencana,
gagal panen, banjir, kekeringan dan lain-lain.
Di masa ekonomi susah ini Dewan dan para pejabat
janganlah terus minta berbagai macam jatah -- yang tidak
ada aturannya atau dibuat-buatkan aturan. Sehingga,
anggaran pemerintah bisa dialokasikan untuk pembangunan
dan menolong kesulitas rakyat.