Korban Tewas 364 Orang
Pangandaran (Bali Post) -
Bali
Post/ap
PULUHAN - Mayat korban tsunami kini disemayamkan di
halaman kantor desa untuk diidentifikasi oleh
keluarganya. Puluhan mayat hingga kini masih belum
teridentifikasi.
Data
yang berhasil dihimpun Bali Post di Posko Pangandaran
dan sekitarnya, jumlah korban tsunami hingga Selasa
(18/7) kemarin sekitar 364 orang meninggal, 184 di
antaranya terdapat di Ciamis, termasuk 306 dirawat serta
30.400 pengungsi. Angka ini termasuk tujuh warga negara
asing, seperti dari Arab Saudi (3 orang), Pakistan,
Belanda, Jepang, dan Swedia masing-masing satu orang.
Nama-nama warga negara sing yang sudah teridentifikasi
antara lain Elman (58) asal Belanda, Kent Chlnet (46)
asal Swedia serta seorang wanita dan anak perempuannya
asal Pakistan yang belum diketahui namanya.
Sementara di Tasikmalaya tercatat 97 tewas, hilang 27
warga. Luka berat tercatat 22, luka ringan 58 orang. Di
Cilacap data yang masuk ke Depsos sebanyak 77 orang
meninggal, termasuk di Nusakambangan, dan 41 orang
hilang. Sedangkan di Kabupaten Kebumen tercatat 4 orang
meninggal.
Data sebelumnya yang dipampang di Posko Pangandaran
menunjukkan jumlah total meninggal di Kabupaten Ciamis
sebanyak 173 orang, 75 dirujuk, dan 376 diobati. Jumlah
ini tersebar di 10 titik posko bencana tsunami. Di
daerah Pangandaran ditemukan 108 korban tewas, 4 dirujuk
dan 158 orang diobati.
Posko Kalipucung, 7 meninggal, 7 dirujuk dan 36 orang
diobati. Posko Parigi 7 meninggal dan 67 orang diobati.
Posko Cijulang 12 meninggal dan 1 orang dirujuk. Posko
Cineruh, 30 orang meninggal dan 50 diobati. RSU Banjar 2
meninggal dan 63 orang diobati. RSU Ciamis 1 orang
dirujuk. Posko Cikombulan dua orang diobati dan Posko
Padaheang dua orang diobati.
Kurang Obat
Kondisi para pengungsi kini masih mengkhawatirkan.
Mereka kekurangan selimut, makanan siap saji, dan tikar.
Pantauan Bali Post di pengungisan Masjid Agung
Pangandaran menuturkan data lain. Mereka mengeluh
minimnya makanan cepat saji. Hingga sore mereka baru
makan sekali. Selimut dan tikar juga masih dikelukan
karena jumlahnya yang minim. Obat-obatan tampaknya masih
cukup. Sejumlah pengungsi yang menjadi korban sudah
mendapatkan pengobatan standar. Mereka cukup bersyukur
karena cepatnya penanganan medis ini. Sayangnya, bantuan
makanan dan kebutuhan hidup sehari-hari masih belum
memadai. Apalagi, toko dan warung masih banyak yang
tutup.
Puskesmas Pangandaran sendiri telah menyediakan ratusan
relawan dari berbagai organsiasi dan sejumlah dokter
bedah tulang (1 orang), ahli bedah (3 orang) dan dokter
umum (21). ''Tenaga medis cukup. Tetapi obat-obatan
masih kurang,'' kata dr. Joti.
Barang-barang medis yang dirasakan kurang antara lain
obat luka, kasa steril, sarung tangan, masker, dan spalg.
''Kebanyakan korban luka dan lebam-lebam. Sebagian
terkena aspirasi dan kami rujuk ke RSU Banjar,'' kata
dr. Joti.
Warga Pangandaran juga masih khawatir akan terjadi
tsunami susulan karena hingga kemarin gempa-gempa kecil
masih terjadi. Mereka rata-rata pergi dengan membawa
sejumlah perabotan.
Tiga Menteri
Tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Selasa (18/7)
kemarin mendatangi korban. Mereka adalah Menko Kesra
Aburizal Bakrie, Menkes Siti Fadilah Supari dan Mensos
Bachtiar Chamsyah. Tempat yang mereka kunjungi salah
satunya Puskesmas Pangandaran. Di sini dirawat sejumlah
orang yang terluka. Juga balai desa tempat puluhan
jenazah yang belum teridentifikasi.
Ade, korban luka-luka, mengadu kepada Menkes Fadilah
Supari bahwa rumah dan anaknya hilang. Aburizal Bakrie
menerima curhat Sri Muryati (27) yang mengutarakan dua
keponakannya hingga kini masih hilang. ''Pemerintah akan
membantu membangun rumah korban yang rusak berat atau
ambruk akibat gempa dan tsunami. Pemerintah tidak akan
memungut biaya,'' kata Aburizal Bakrie.
''Pemerintah pusat telah memberikan bantuan 5.000 sarung,
5.000 selimut dan 2 ton obat-obatan, juga beras 10 ton.
Kantong mayat 550,'' tutur Ical, sapaan Aburizal.
Dikatannya pula, pemerintah juga akan melakukan
pembangunan rumah warga. ''Pemerintah akan membantu
masyarakat dan pemda. Kita akan menunggu laporan dari
bupati,'' tuturnya. (kmb7)