kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 19 Juli 2006

 Bias Bali


Melakukan
Kehidupan Hening 

Yogangganustana Dasudhi
ksaye
jnyanadiiptira viveka khyateh
(Yoga Sutra III. 28
) 

Maksudnya:
Dengan
melaksanakan tahapan-tahapan ajaran

Yoga, ketidaksucian itu akan hilang dan keheningan diri karena kesadaran batin itu akan bersinar cemerlang untuk berwiweka

AGAR dapat melakukan kehidupan yang hening, baik kehidupan individu maupun kehidupan bersama diperlukan upaya kerohanian yang sungguh-sungguh. Upaya untuk terus mengheningkan diri itu diajarkan dalam ajaran Yoga seperti yang diajarkan oleh Resi Patanjali. Ajaran Yoga itu dapat dilakukan di tengah-tengah kehidupan bersama dalam masyarakat dan dapat dilakukan dengan cara sendiri-sendiri dalam kegiatan kotemplasi ke dalam diri.  

Ajaran Yama dan Niyama Brata misalnya, sebagai bagian dari delapan tahapan ajaran Yoga dapat dilakukan dalam kehidupan bersama. Seorang pemimpin seperti seorang raja misalnya membutuhkan kemampuan yang seimbang antara menguasai diri sendiri dan memimpin masyarakatnya. Karena itu seorang raja membutuhkan tempat suci sebagai sarana memperoleh kemampuan untuk mengheningkan dirinya. Karena hanya diri yang maha ening itulah yang mampu memiliki wiweka jnyana.

 

Dengan wiweka jnyana itulah berbagai langkah membangun kehidupan rakyat akan dapat berhasil dengan baik. Wiweka jnyana itu adalah kemampuan untuk membeda-bedakan mana yang baik, mana yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang patut dan mana yang tidak patut, dst. Sebagai pemimpin kemampuan ini mutlak dimiliki.

 

Demikianlah Pura Mengening itu adalah sebagai sarana bagi sang raja membangun diri memperoleh diri yang ''maha ening''. Konon nama Pura Mangening ini berasal dari kata ''maha ening''. Di Pura Mengening inilah sebagai salah satu tempat Raja Udayana dan keluarga kerajaan melakukan upaya kerohanian untuk membangun diri yang ''maha ening''. Pura ini terletak di Banjar Saraseda Desa Tampaksiring, Gianyar. Upacara piodalan di Pura Mengening ini jatuh pada hari Saniscara Pon Wuku Sinta.

 

Menurut M.P. Sukarto. K. Atmojo yang pernah menjadi Kepala Kantor Purbakala di Bali menyatakan bahwa nama Pura Mengening ini berasal dari kata ''cening'' yang artinya anak. Karena dalam salah satu prasasti yang ada hubungannya dengan Raja Udayana menyatakan ''lumahi banyu wka'' yang artinya wafat di air wka. Kata wka inilah yang diduga berasal dari ''oka'' diidentikan dengan anak. Nampaknya nama ''Mengening'' ini lebih logis diduga berasal dari kata ''maha ening'' yang artinya amat suci. Pura Mengening ini pada awalnya sebagai tempat pertapaan Raja Udayana dan keluarganya. Sedangkan candi-candi di Pura Gunung Kawi sebagai Padharman Raja Udayana dan keluarganya.

 

Dalam kitab Negara Kertagama ada istilah ''dinarma'' yang maksudnya menstanakan roh suci raja (Dewa Pitara) di suatu tempat pemujaan seperti candi upacara ''didharma''-kan ini dilakukan setelah upacara Sradha. Saat raja meninggal dilakukan upacara pembakaran jenazah raja. Kelanjutan dari upacara pembakaran itu disebut upacara Sradha.

 

Setelah upacara Sradha itulah ada upacara ''dinarma'' atau didharmakan yang artinya menstanakan roh suci raja di candi. Upacara didharmakan ini juga disebut Cinandi atau pendirian candi sebagai stana suci bagi sang raja setelah berbadan roh suci atau Dewa Pitara.

 

Analog dengan itu dalam Lontar Gayatri dinyatakan bahwa saat meninggal roh atman orang meninggal disebut Preta. Setelah upacara pembakaran atau ngaben roh itu disebut pitara. Terus dilanjutkan dengan upacara Atma Wedana dan sang roh pun disebut Dewa Pitara. Setelah Atman sebagai Dewa Pitara itulah ada upacara menstanakan roh suci yang disebut Dewa Pitara Pratista atau Ngalinggihang Dewa Hyang di Kamulan. Upacara Dewa Pitara Pratista inilah yang identik dengan upacara didharmakan atau Cinandi atau mendirikan candi untuk stana sang raja.

 

Kalau raja distanakan di candi atau tempat suci lainnya, sedangkan di Bali setelah upacara Atma Wedana ada upacara Dewa Pitara Pratista di Kamulan. Hal ini sangat rinci dijelaskan dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan. Di Pura Gunung Kawi, Raja Udayana, permaisuri, selir dan putra-putranya didharmakan di candi-candi Pura Gunung Kawi. Sedangkan letak tempat pemujaan atau tempat pertapaannya di Pura Mangening.

Di Pura Mangening itulah raja mempraktikkan ajaran Yoga Sutra sampai memperoleh keadaan diri ''Maha Ening''.

 

Dalam keadaan diri yang maha ening itulah raja mendapatkan kemampuan diri untuk ber-wiweka dalam membangun kesejahteraan rakyatnya lahir batin. Sebab, memimpin suatu masyarakat dalam mengupayakan hidup rakyatnya agar sejahtera lahir batin dibutuhkan kemampuan Wiweka Jnyana yang mumpuni.

 

Pelinggih utama di Pura Mangening adalah pelinggih Prasada dan atau sering juga disebut Meru Prasada sebagai tempat menstanakan Raja Udayana sebagai Dewa Pitara atau roh suci yang diyakini telah mencapai apa yang disebut Sidha Dewata. Sidha Dewata artinya sukses mencapai alam dewata. Atma yang telah mencapai Sidha Dewata itulah yang disebut Dewa Pitara. Prasada inilah sebagai pelinggih yang paling menonjol di Pura Mangening ini.

 

Di depan palinggih Prasada ini terdapat pelinggih pasimpangan Pura Gunung Kawi dan pasimpangan Pura Tirtha Empul. Di depan pelinggih pasimpangan tersebut terdapat dua pelinggih Pepelik. Dua pelinggih Pepelik ini berfungsi sebagai tempat mempersembahkan sesaji. Mengapa ada dua pelinggih Pepelik. Dalam Sarasamuscaya persembahan itu hendaknya ada dua jenis yaitu Ista dan Purta. Ista adalah persembahan untuk memohon kedamaian rohani, sedangkan Purta adalah persembahan untuk memohon kesejahtraan sosial ekonomi.

 

Tujuan memuja Tuhan bagi masyarakat awam adalah untuk mendapatkan hidup seimbang lahir batin. Sebelah utara dari pelinggih Prasada terdapat pelinggih Limas Catu dan Limas Mujung. Dua pelinggih ini sebagai Pesimpangan ke Gunung Agung dan Gunung Batur. Ini juga sebagai lambang Purusa dan Predana sebagai media memohon keseimbangan hidup alam semesta beserta isinya termasuk semua makhluk hidup. Di sudut paling barat daya ada pelinggih Pegat. Ini tempat memohon tirtha pengelukatan untuk memutuskan ikatan duniawi menuju perjalanan rohani. Sembahyang tidak akan berhasil apabila konsentrasi tidak terpusat pada Tuhan.

 

* I Ketut Gobyah

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)