Melakukan
Kehidupan
Hening
Yogangganustana
Dasudhi
ksaye
jnyanadiiptira
viveka
khyateh
(Yoga Sutra III. 28)
Maksudnya:
Dengan
melaksanakan
tahapan-tahapan
ajaran
Yoga, ketidaksucian
itu
akan hilang
dan
keheningan diri
karena
kesadaran batin
itu
akan bersinar
cemerlang
untuk
berwiweka.
AGAR
dapat
melakukan kehidupan
yang hening,
baik
kehidupan individu
maupun
kehidupan bersama
diperlukan
upaya
kerohanian yang
sungguh-sungguh. Upaya
untuk
terus mengheningkan
diri
itu diajarkan
dalam
ajaran Yoga seperti
yang diajarkan
oleh
Resi Patanjali.
Ajaran Yoga
itu
dapat dilakukan
di
tengah-tengah kehidupan
bersama
dalam masyarakat
dan
dapat dilakukan
dengan
cara sendiri-sendiri
dalam
kegiatan kotemplasi
ke
dalam diri.
Ajaran
Yama
dan Niyama
Brata
misalnya, sebagai
bagian
dari delapan
tahapan
ajaran Yoga dapat
dilakukan
dalam
kehidupan bersama.
Seorang
pemimpin seperti
seorang raja
misalnya
membutuhkan
kemampuan yang
seimbang
antara
menguasai diri
sendiri
dan memimpin
masyarakatnya.
Karena
itu seorang raja
membutuhkan
tempat
suci sebagai
sarana
memperoleh kemampuan
untuk
mengheningkan dirinya.
Karena
hanya diri yang
maha
ening itulah yang
mampu
memiliki wiweka
jnyana.
Dengan
wiweka
jnyana itulah
berbagai
langkah
membangun kehidupan
rakyat
akan dapat
berhasil
dengan
baik. Wiweka
jnyana
itu adalah
kemampuan
untuk
membeda-bedakan mana
yang baik,
mana yang
tidak
baik, mana yang
benar
dan mana yang
tidak
benar, mana yang
patut
dan mana yang
tidak
patut, dst.
Sebagai
pemimpin kemampuan
ini
mutlak dimiliki.
Demikianlah
Pura
Mengening itu
adalah
sebagai sarana
bagi sang raja
membangun
diri
memperoleh diri yang
''maha
ening''. Konon
nama
Pura Mangening
ini
berasal dari
kata ''maha
ening''.
Di Pura
Mengening
inilah
sebagai salah
satu
tempat Raja Udayana
dan
keluarga kerajaan
melakukan
upaya
kerohanian untuk
membangun
diri yang ''maha
ening''.
Pura
ini terletak
di
Banjar Saraseda
Desa
Tampaksiring, Gianyar.
Upacara
piodalan di
Pura
Mengening ini
jatuh
pada hari
Saniscara
Pon
Wuku Sinta.
Menurut
M.P. Sukarto. K.
Atmojo yang
pernah
menjadi Kepala
Kantor
Purbakala di Bali
menyatakan
bahwa
nama Pura
Mengening
ini
berasal dari
kata ''cening''
yang artinya
anak.
Karena dalam
salah
satu prasasti yang
ada
hubungannya dengan
Raja Udayana
menyatakan ''lumahi
banyu
wka'' yang artinya
wafat
di air wka.
Kata
wka inilah yang
diduga
berasal dari ''oka''
diidentikan
dengan
anak. Nampaknya
nama ''Mengening''
ini
lebih logis
diduga
berasal dari
kata ''maha
ening'' yang
artinya
amat suci.
Pura
Mengening ini
pada
awalnya sebagai
tempat
pertapaan Raja Udayana
dan
keluarganya. Sedangkan
candi-candi
di Pura
Gunung
Kawi sebagai
Padharman Raja
Udayana
dan keluarganya.
Dalam
kitab Negara
Kertagama
ada
istilah ''dinarma''
yang maksudnya
menstanakan
roh
suci raja (Dewa
Pitara)
di suatu
tempat
pemujaan seperti
candi
upacara ''didharma''-kan
ini
dilakukan setelah
upacara
Sradha. Saat raja
meninggal
dilakukan
upacara
pembakaran jenazah
raja. Kelanjutan
dari
upacara pembakaran
itu
disebut upacara
Sradha.
Setelah
upacara
Sradha itulah
ada
upacara ''dinarma''
atau
didharmakan yang artinya
menstanakan
roh
suci raja di
candi.
Upacara didharmakan
ini
juga disebut
Cinandi
atau pendirian
candi
sebagai stana
suci
bagi sang raja setelah
berbadan
roh
suci atau
Dewa
Pitara.
Analog dengan
itu
dalam Lontar
Gayatri
dinyatakan bahwa
saat
meninggal roh atman
orang
meninggal disebut
Preta.
Setelah upacara
pembakaran
atau
ngaben roh
itu
disebut pitara.
Terus
dilanjutkan dengan
upacara
Atma Wedana
dan sang
roh pun
disebut Dewa
Pitara.
Setelah Atman sebagai
Dewa
Pitara itulah
ada
upacara menstanakan
roh
suci yang disebut
Dewa
Pitara Pratista
atau
Ngalinggihang Dewa
Hyang
di Kamulan.
Upacara
Dewa Pitara
Pratista
inilah yang
identik
dengan upacara
didharmakan
atau
Cinandi atau
mendirikan
candi
untuk stana sang
raja.
Kalau
raja distanakan
di
candi atau
tempat
suci lainnya,
sedangkan
di Bali
setelah upacara
Atma
Wedana ada
upacara
Dewa Pitara
Pratista
di
Kamulan. Hal ini
sangat
rinci dijelaskan
dalam
Lontar Purwa
Bumi
Kamulan. Di
Pura
Gunung Kawi, Raja
Udayana,
permaisuri,
selir
dan putra-putranya
didharmakan
di
candi-candi Pura
Gunung
Kawi. Sedangkan
letak
tempat pemujaan
atau
tempat pertapaannya
di Pura
Mangening.
Di
Pura
Mangening itulah raja
mempraktikkan
ajaran Yoga Sutra
sampai
memperoleh keadaan
diri ''Maha
Ening''.
Dalam
keadaan
diri yang maha
ening
itulah raja mendapatkan
kemampuan
diri
untuk ber-wiweka
dalam
membangun kesejahteraan
rakyatnya
lahir
batin. Sebab,
memimpin
suatu
masyarakat dalam
mengupayakan
hidup
rakyatnya agar sejahtera
lahir
batin dibutuhkan
kemampuan
Wiweka
Jnyana yang mumpuni.
Pelinggih
utama
di Pura
Mangening
adalah
pelinggih Prasada
dan
atau sering
juga
disebut Meru
Prasada
sebagai tempat
menstanakan Raja
Udayana
sebagai Dewa
Pitara
atau roh
suci yang
diyakini
telah
mencapai apa yang
disebut
Sidha Dewata.
Sidha
Dewata artinya
sukses
mencapai alam
dewata.
Atma yang telah
mencapai
Sidha
Dewata itulah yang
disebut
Dewa Pitara.
Prasada
inilah sebagai
pelinggih yang paling
menonjol
di Pura
Mangening
ini.
Di
depan
palinggih Prasada
ini
terdapat pelinggih
pasimpangan
Pura
Gunung Kawi
dan
pasimpangan Pura
Tirtha
Empul. Di
depan
pelinggih pasimpangan
tersebut
terdapat
dua
pelinggih Pepelik.
Dua
pelinggih Pepelik
ini
berfungsi sebagai
tempat
mempersembahkan sesaji.
Mengapa
ada dua
pelinggih
Pepelik.
Dalam
Sarasamuscaya persembahan
itu
hendaknya ada
dua
jenis yaitu
Ista
dan Purta.
Ista
adalah persembahan
untuk
memohon kedamaian
rohani,
sedangkan Purta
adalah
persembahan untuk
memohon
kesejahtraan sosial
ekonomi.
Tujuan
memuja
Tuhan bagi
masyarakat
awam
adalah untuk
mendapatkan
hidup
seimbang lahir
batin.
Sebelah utara
dari
pelinggih Prasada
terdapat
pelinggih Limas
Catu
dan Limas Mujung.
Dua
pelinggih ini
sebagai
Pesimpangan ke
Gunung
Agung dan
Gunung
Batur. Ini
juga
sebagai lambang
Purusa
dan Predana
sebagai media
memohon
keseimbangan hidup
alam
semesta beserta
isinya
termasuk semua
makhluk
hidup. Di
sudut paling
barat
daya ada
pelinggih
Pegat.
Ini tempat
memohon
tirtha pengelukatan
untuk
memutuskan ikatan
duniawi
menuju perjalanan
rohani.
Sembahyang tidak
akan
berhasil apabila
konsentrasi
tidak
terpusat pada
Tuhan.
*
I Ketut
Gobyah