Kinerja
RS Puri
Raharja Diragukan
Hanya
Setor
Rp 53 Juta per
Tahun---
Denpasar
(Bali Post) -
Kinerja
Rumah
Sakit (RS) Puri
Raharja
diragukan jajaran
DPRD Bali.
Pasalnya,
RS yang dikelola
Yayasan
Korpri Bali itu
hanya
mampu menyetor
ke kas
daerah
Rp 53 juta
setahun.
Padahal
telah menyedot
dana
Pemprop Bali
sekitar
Rp 9 milyar.
Demikian
mengemuka
dalam
pertemuan jajaran
Pansus
Anggaran DPRD Bali, Selasa
(18/7) kemarin.
Anggota
Dewan Ir. Ida Made Alit
dan
Mandira Natha, S.H.
mengatakan
hasil
tersebut sangat
mengejutkan
Dewan
karena dinilai
tak
seimbang dengan modal
yang ditanam.
Diakui,
memang RS
tersebut
juga
mengemban misi
sosial.
Namun,
bukan
berarti fasilitas
yang ada
diobral
begitu saja
tanpa
perhitungan.
Kalaupun
ada
misi sosial,
logikanya RS yang
cukup
berkembang itu
bisa
memberikan kontribusi
yang mendekati
sepadan
dengan investasi yang
ditanamkan.
''Yang kita
lihat
sekarang ini
sangat
tak masuk
akal
apa yang diberikan,''
tandas
Mandira Natha.
Beberapa
sumber
mengatakan tarif yang
dijual RS
Puri
Raharja terbilang
komersial.
Tarif
kamarnya
saja
mirip hotel berbintang.
RS di
jantung Kota
Denpasar
itu
juga terbilang
ramai
pasien.
Karena
itu
dinilai aneh
kalau
pengelolaan sekarang
hasilnya
tak
sebaik di
tahun-tahun
sebelumnya.
Dewan
bukan
saja menyoroti
kinerja RS
Puri
Raharja, juga
sejumlah BUMD yang
terkesan
jalan
di tempat.
Bahkan,
sebagian
seolah-olah ''milik''
orang
tertentu saja.
Seperti
aset
tanah pemprop yang
kini
dikuasai investor banyak
yang tak
jelas
hasilnya.
Aset
daerah
di sektor
perbankan
juga
tak jelas
targetnya.
Yang terjadi
justru
disinyalir ada
bagi-bagi
uang
untuk kalangan
tertentu.
Kata
Dewan, ini
sangat
menyakitkan karena
keuntungan yang
mestinya
dinikmati
krama Bali
justru
hanya digerogoti
segelintir
orang.
Dalam
catatan
Dewan, Pemprop Bali
banyak
memiliki aset yang
kini
dikelola secara
komersial.
Namun
karena
kurang terbuka
serta
pengelolaannya yang tak
profesional,
aset
itu tak
banyak
memberi kontribusi
bagi
daerah. Yang
muncul
sebagai alasan
pembenar
selalu
berdalih aset
tersebut
juga
mengemban misi
sosial.
Mestinya
bisa
dipilah mana yang
sosial
dan mana yang
komersial
dan
masing-masing jelas
targetnya.
''Meski
mengemban
misi
sosial bukan
berarti
tak ada
untung
atau sekadar
untung,''
tambah
Mandira Natha yang
juga
pengelola supermarket
tersebut. Pola
tender atau
swastanisasi
perlu
dikembangkan dalam
pengelolaan
aset
tersebut agar tak
disalahgunakan.
(031)