kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 12 Juli 2006

 Artikel

 

Perlu membuat perencanaan program tersebut dengan matang serta relevan, pelaksanaan yang baik, praktis dan penuh persahabatan, tentu juga pengawasan yang efektif dari para penanggung jawab serta masyarakat.

--------------------------

Siapa Memulai MOS Paradigma Baru?
Oleh Pradnyaparamita
 

MASA orientasi yang diberlakukan bagi siswa maupun mahasiswa baru memang dibutuhkan. Hal ini dirasa sangat bermanfaat terutama untuk mengenal bagaimana proses belajar-mengajar di tempat baru mereka, fasilitas yang disediakan, berbagai kegiatan intra-ekstra sekolah yang ada, dan lain sebagainya. Apalagi bagi mereka yang datang dari daerah lain maupun negara lain bagi sekolah maupun fakultas-universitas yang sudah terbuka secara nasional dan internasional. Namun hal ini akan menjadi ''lain'' dan mengkhawatirkan manakala makna orientasi tersebut terdistorsi menjadi sebuah ''perpeloncoan'', ajang ''balas dendam'', tanpa tujuan dan manfaat yang jelas, bahkan sampai berjatuhan ''korban'' sebagaimana sering diekspos di media massa.

--------------------------

Masa Orientasi

 

Melakukan orientasi adalah sesuatu hal yang lumrah dilakukan bagi siapa saja yang memasuki tempat baru. Hal ini seringkali dilakukan secara informal, otomatis dan atas inisiatif sendiri. Tentunya akan lebih tersusun sistematis bilamana proses tersebut dilakukan secara formal.

Berbagai masalah yang dianggap ''rawan'' dan penting, telah diidentifikasi terlebih dulu oleh para pendahulu sesuai pengalaman yang dialaminya, sebelum ''tamu'' pendatang baru mampu mengidentifikasinya.

Masa orientasi merupakan suatu proses yang relevan dilakukan, terutama bagi para siswa maupun mahasiswa yang masuk dalam jenjang pendidikan lebih tinggi.

 

Apa yang Diorientasikan?

Sangat menarik bila membicarakan apa yang seharusnya diorientasikan atau disosialisasikan kepada ''para tamu'' ketika mereka datang di ''rumah'' kita. Konsep paling awal adalah agar ''para tamu'' kita dapat menikmati (enjoy) dengan suasana ''rumah'' yang ada. Bukan sebaliknya.

Berikutnya, kita berharap agar mereka bisa terbiasa (familiar) sehingga mampu mengerjakan dan memanfaatkan segala sesuatu dengan baik, sesuai rencana. Agar dapat berjalan harmonis, bila perlu apa yang dilakukan sesuai juga dengan berbagai hal yang telah ditetapkan, kebiasaan yang ada serta berbagai prosedur, tata-krama yang ada. Untuk hal ini sebagai contoh, bagaimana proses belajar-mengajar yang ada, fasilitas yang disediakan serta berbagai sumber daya lain yang dimiliki atau bisa dimanfaatkan. Bahkan bagi tuan-rumah yang menerima ''tamu'' dari berbagai daerah lain maupun negara lain, hal-hal yang disosialisasikan menjadi lebih luas lingkupnya, meliputi berbagai fasilitas yang secara tak langsung dapat mendukung kelancaran proses belajar-mengajar ''tamu'' atau ''calon keluarga'' kita. Hal-hal tersebut dapat berupa informasi berbagai sarana belajar di kota kita, perpustakaan, museum, tempat hiburan, fasilitas transportasi, dan lain sebagainya. Bahkan bagi tuan rumah yang sudah ''mapan'' bisa memperkirakan biaya hidup calon keluarga besar kita.

Hal di atas tentu bukan mengada-ada. Banyak sekolah dan universitas di negara-negara maju melakukannya dengan penuh keramah-tamahan, persahabatan, dan memberi kesan menyenangkan. Bukan sebaliknya seperti yang banyak dirasakan di negeri kita. Guna memenuhi harapan tersebut, orientasi dilakukan tidak hanya di sekitar sekolah, kampus, tapi juga dilakukan city tour berkaitan dengan fasilitas publik yang dapat menunjang kelancaran proses belajar-mengajar.

 

Siapa Pelaksananya?

Kegiatan ''penerimaan'' atau orientasi ini dilakukan oleh para pengajar yang sudah terbiasa menerima para ''tamu''. Mereka dibantu oleh para siswa atau mahasiswa yang bekerja sukarela namun dibekali pengetahuan dan keterampilan ''bagaimana menerima tamu'' dengan ramah dan berkesan. Sebagai contoh, bagaimana membuka pembicaraan agar para ''tamu'' yang diketahui biasanya ''pendiam'', masih asing dan ragu-ragu, mau berbicara, bertanya, meminta informasi. Suasana alamiah, segar, santai dan akrab terlihat di mana-mana. Pelaksanaannya pun tidak terlalu melelahkan, sesuai jam kerja biasa. Hal ini disadari karena proses adopsi baik kognitif, sikap dan perilaku tidak mungkin dapat dilakukan dalam suasana lelah, ketakutan dan penuh ancaman.

Keuntungan bagi siswa maupun mahasiswa pemandu juga tak diragukan. Selain belajar berkomunikasi, berinteraksi, ada pengalaman lain yang menguntungkan, mengelola suatu tugas dengan senang serta hasil yang baik.

 

Era Relevansi

Mengingat pentingnya tujuan kegiatan tersebut dan agar bisa bermanfaat maksimal, perlu membuat perencanaan program tersebut dengan matang serta relevan, pelaksanaan yang baik, praktis dan penuh persahabatan, tentu juga pengawasan yang efektif dari para penanggung jawab serta masyarakat. Hal ini pernah disampaikan Mendiknas tahun lalu sebagai berikut, ''masa orientasi sekolah yang penting ini harus tetap mematuhi ketentuan. Jangan mengulangi kegiatan yang dirasakan sebagai penekanan oleh siswa baru.'' Bahkan sikap tegas akan diambil dengan memberikan sanksi, bila terjadi pelanggaran.

Hal ini tidak bisa dianggap enteng, program jelas harus disusun sebaik mungkin dengan menetapkan tujuan yang jelas serta melibatkan berbagai komponen yang ada di lingkungannya. Apalagi di zaman yang serba sulit seperti saat ini. Program seyogianya disusun berdasarkan relevansinya dengan dunia pendidikan. Tak ada lagi alibi yang dipakai ''bemper'' bahwa kegiatan yang keras dan memeras bertujuan untuk membentuk disiplin. Yang ada adalah ''model'' kekerasan, akan ditiru dan terulang lagi mengikuti mata-rantai lingkaran setan. Lantas siapa yang berkenan memulai paradigma baru ini?

Penulis, pengajar di PTN dan pemerhati masalah-masalah sosial, tinggal di Denpasar

 

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)