
Perlu membuat perencanaan program tersebut dengan matang
serta relevan, pelaksanaan yang baik, praktis dan penuh
persahabatan, tentu juga pengawasan yang efektif dari
para penanggung jawab serta masyarakat.
--------------------------
Siapa Memulai
MOS Paradigma Baru?
Oleh Pradnyaparamita
MASA
orientasi yang diberlakukan bagi siswa maupun mahasiswa
baru memang dibutuhkan. Hal ini dirasa sangat bermanfaat
terutama untuk mengenal bagaimana proses
belajar-mengajar di tempat baru mereka, fasilitas yang
disediakan, berbagai kegiatan intra-ekstra sekolah yang
ada, dan lain sebagainya. Apalagi bagi mereka yang
datang dari daerah lain maupun negara lain bagi sekolah
maupun fakultas-universitas yang sudah terbuka secara
nasional dan internasional. Namun hal ini akan menjadi
''lain'' dan mengkhawatirkan manakala makna orientasi
tersebut terdistorsi menjadi sebuah ''perpeloncoan'',
ajang ''balas dendam'', tanpa tujuan dan manfaat yang
jelas, bahkan sampai berjatuhan ''korban'' sebagaimana
sering diekspos di media massa.
--------------------------
Masa Orientasi
Melakukan orientasi adalah sesuatu hal yang lumrah
dilakukan bagi siapa saja yang memasuki tempat baru. Hal
ini seringkali dilakukan secara informal, otomatis dan
atas inisiatif sendiri. Tentunya akan lebih tersusun
sistematis bilamana proses tersebut dilakukan secara
formal.
Berbagai masalah yang dianggap ''rawan'' dan penting,
telah diidentifikasi terlebih dulu oleh para pendahulu
sesuai pengalaman yang dialaminya, sebelum ''tamu''
pendatang baru mampu mengidentifikasinya.
Masa orientasi merupakan suatu proses yang relevan
dilakukan, terutama bagi para siswa maupun mahasiswa
yang masuk dalam jenjang pendidikan lebih tinggi.
Apa yang Diorientasikan?
Sangat menarik bila membicarakan apa yang seharusnya
diorientasikan atau disosialisasikan kepada ''para tamu''
ketika mereka datang di ''rumah'' kita. Konsep paling
awal adalah agar ''para tamu'' kita dapat menikmati
(enjoy) dengan suasana ''rumah'' yang ada. Bukan
sebaliknya.
Berikutnya, kita berharap agar mereka bisa terbiasa
(familiar) sehingga mampu mengerjakan dan memanfaatkan
segala sesuatu dengan baik, sesuai rencana. Agar dapat
berjalan harmonis, bila perlu apa yang dilakukan sesuai
juga dengan berbagai hal yang telah ditetapkan,
kebiasaan yang ada serta berbagai prosedur, tata-krama
yang ada. Untuk hal ini sebagai contoh, bagaimana proses
belajar-mengajar yang ada, fasilitas yang disediakan
serta berbagai sumber daya lain yang dimiliki atau bisa
dimanfaatkan. Bahkan bagi tuan-rumah yang menerima ''tamu''
dari berbagai daerah lain maupun negara lain, hal-hal
yang disosialisasikan menjadi lebih luas lingkupnya,
meliputi berbagai fasilitas yang secara tak langsung
dapat mendukung kelancaran proses belajar-mengajar ''tamu''
atau ''calon keluarga'' kita. Hal-hal tersebut dapat
berupa informasi berbagai sarana belajar di kota kita,
perpustakaan, museum, tempat hiburan, fasilitas
transportasi, dan lain sebagainya. Bahkan bagi tuan
rumah yang sudah ''mapan'' bisa memperkirakan biaya
hidup calon keluarga besar kita.
Hal di atas tentu bukan mengada-ada. Banyak sekolah dan
universitas di negara-negara maju melakukannya dengan
penuh keramah-tamahan, persahabatan, dan memberi kesan
menyenangkan. Bukan sebaliknya seperti yang banyak
dirasakan di negeri kita. Guna memenuhi harapan tersebut,
orientasi dilakukan tidak hanya di sekitar sekolah,
kampus, tapi juga dilakukan city tour berkaitan dengan
fasilitas publik yang dapat menunjang kelancaran proses
belajar-mengajar.
Siapa Pelaksananya?
Kegiatan ''penerimaan'' atau orientasi ini dilakukan
oleh para pengajar yang sudah terbiasa menerima para ''tamu''.
Mereka dibantu oleh para siswa atau mahasiswa yang
bekerja sukarela namun dibekali pengetahuan dan
keterampilan ''bagaimana menerima tamu'' dengan ramah
dan berkesan. Sebagai contoh, bagaimana membuka
pembicaraan agar para ''tamu'' yang diketahui biasanya
''pendiam'', masih asing dan ragu-ragu, mau berbicara,
bertanya, meminta informasi. Suasana alamiah, segar,
santai dan akrab terlihat di mana-mana. Pelaksanaannya
pun tidak terlalu melelahkan, sesuai jam kerja biasa.
Hal ini disadari karena proses adopsi baik kognitif,
sikap dan perilaku tidak mungkin dapat dilakukan dalam
suasana lelah, ketakutan dan penuh ancaman.
Keuntungan bagi siswa maupun mahasiswa pemandu juga tak
diragukan. Selain belajar berkomunikasi, berinteraksi,
ada pengalaman lain yang menguntungkan, mengelola suatu
tugas dengan senang serta hasil yang baik.
Era Relevansi
Mengingat pentingnya tujuan kegiatan tersebut dan agar
bisa bermanfaat maksimal, perlu membuat perencanaan
program tersebut dengan matang serta relevan,
pelaksanaan yang baik, praktis dan penuh persahabatan,
tentu juga pengawasan yang efektif dari para penanggung
jawab serta masyarakat. Hal ini pernah disampaikan
Mendiknas tahun lalu sebagai berikut, ''masa orientasi
sekolah yang penting ini harus tetap mematuhi ketentuan.
Jangan mengulangi kegiatan yang dirasakan sebagai
penekanan oleh siswa baru.'' Bahkan sikap tegas akan
diambil dengan memberikan sanksi, bila terjadi
pelanggaran.
Hal ini tidak bisa dianggap enteng, program jelas harus
disusun sebaik mungkin dengan menetapkan tujuan yang
jelas serta melibatkan berbagai komponen yang ada di
lingkungannya. Apalagi di zaman yang serba sulit seperti
saat ini. Program seyogianya disusun berdasarkan
relevansinya dengan dunia pendidikan. Tak ada lagi alibi
yang dipakai ''bemper'' bahwa kegiatan yang keras dan
memeras bertujuan untuk membentuk disiplin. Yang ada
adalah ''model'' kekerasan, akan ditiru dan terulang
lagi mengikuti mata-rantai lingkaran setan. Lantas siapa
yang berkenan memulai paradigma baru ini?
Penulis, pengajar di PTN dan pemerhati masalah-masalah
sosial, tinggal di Denpasar