kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 12 Juli 2006

 Nusatenggara


Puluhan
Pejabat Dompu Diperiksa KPK
- Diduga Turut Nikmati Dana tak Tersangka

Dompu (Suara NTB)-
Sebanyak
62 pejabat, mantan pejabat, wartawan dan cleaning service di Kabupaten Dompu diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena disebut-sebut turut menikmati dana tak tersangka tahun 2003, 2004 dan 2005, yang menyebabkan Bupati Dompu, H. Abubakar Ahmad, S.H. dijebloskan ke tahanan Polda Metro Jaya. Para pejabat ini diperiksa tim penyidik KPK di Mapolres Dompu, Selasa (11/7) kemarin, dan dijadwalkan berakhir Kamis (13/7).

Sebelumnya, sebanyak 62 pejabat ini didaftar biodata dan diambil sumpahnya oleh tim penyidik KPK yang terdiri dari Ade Raharja (Direktur Penyidik), Karyoto, Rahmat Setiadi dan Nababan. Sementara itu, 15 orang yang diperiksa Selasa kemarin di antaranya, Kompol Abdullah (mantan salah satu Kabag di Polres Dompu yang kini menjadi salah satu Kabag di Polres Sumbawa), H. M. Jusuf Jamaluddin (Ketua Komisi D DPRD periode 1999-2004), H. Ramli Yadam (anggota DPRD  1999-2004), Dra. Sri Suzana (Kabag Pemdes), M. Saleh To'o (Kasubdin pada Dinas Pariwisata), Moh. Syaiun, S.H. (Kasubdin Penyuluhan dan Pengaman Hutan Dishut), dan Ir. Ridwansyah (mantan Kadis Perhubungan).

Moh. Syaiun yang dimintai keterangan usai pemeriksaan KPK di Mapolres Dompu, mengatakan, dirinya diperiksa terkait penggunaan dana APBD 2005 senilai Rp 85 juta yang dipergunakan untuk pengamanan hutan. Tim penyidik KPK, kata dia, hanya melontarkan beberapa pertanyaan untuk menindaklanjuti keterangan yang diberikan H. Abubakar tentang penyaluran dana tak tersangka. Tapi kami tidak tahu bahwa dana itu dana tak tersangka. Yang jelas kami sudah mengajukan surat, meminta dana untuk pengamanan hutan, kata Syaiun yang didampingi Edi Kurniadi, Kasi pengamanan hutan, yang juga diperiksa terkait hal yang sama.

Informasi yang dihimpun Suara NTB di Mapolres Dompu -- tempat dilakukannya pemeriksaan oleh KPK -- dana tak tersangka yang digunakan oleh KPU Dompu untuk pemilu senilai Rp 500 juta, disusuli Bakesbanglinmas senilai Rp 300 juta untuk pengamanan pemilu. Sementara terendah dipergunakan oleh M. Saleh To'o senilai Rp 650 ribu saat menjadi Subdin Pengairan PU Dompu. Penyaluran dana tak tersangka yang diperiksa ini mulai dari yang ratusan ribu sampai ratusan juta, kata Dra. Sri Suzana.

Dari 62 pejabat yang akan diperiksa KPK, 2 diantaranya sudah meninggal dunia yaitu Drs. H. Didik Kadir (mantan Kepala Linmas) dan Imansyah MK (manta Kepala Inkom). Sementara yang sakit yaitu H. Ali Muhammad (anggota DPRD periode 1999/2004). Sedangkan yang berada di luar daerah yaitu mantan Dandim Dompu, Agus Nedi dan Muchlis Hendri. Kalau tidak hadir pemeriksaan di sini, maka akan dipanggil untuk diperiksa di Jakarta, kata salah seorang anggota Polres Dompu yang ikut membantu tim penyidik KPK.

Adapun pejabat lainnya yang akan diperiksa KPK selama di Dompu yaitu AM Thalib H. M. Ali (Ketua DPRD), Iwan Kurniawan, S.E. (Wakil Ketua DPRD), Amrullah (mantan Kepala PLN Dompu), Ir. Rusdianto (Ketua KPUD), Mahyuddin, S.H. (mantan Ketua Panwaslu), Hj. Maani H. Abubakar (Ketua Tim Penggerak PKK), Drs. H. Usman Idris (mantan Sekwan yang kini menjadi Asisten Tata Praja), Drs. Burhanuddin HM (mantan Kepala Bakesbang Linmas), Ir. Ridwansyah (mantan Kadis Perhubungan). Anggota DPRD periode 1999-2004 di antaranya, Imansyah Soebari (Wakil Ketua DPRD), dan Arif Rahman, S.H. (mantan Ketua Komisi B DPRD).

Dari pejabat eselon III di antaranya, Islam, S.H. (Kepala Kantor Inkom), Drs. M. Khaeruddin (kepala Kantor Sosial), Drs. Syayuti Melik AM (Kepala Dinas Ketahanan Pangan), Ir. Rusdin (Kasubdin Bina Marga), Ir. Rusdi Taufik (Kasubdin pada Dinas Kehutanan Dompu), Sukardin HS, S.Sos. (Kabag Sosial). Terdapat pula Drs. A. Najib Abdullah (Sekretaris KPU). Iwan Kurniawan, S.H. (kuasa hukum Bupati), Kisman Pangeran (ajudan Bupati/anggota Pandawa 5), dan Abdul Muis, S.H. (wartawan).

Sambil menunggu giliran pemeriksaan, beberapa pejabat merasa gelisah dan bahkan ada yang mengaku sakit mendengar dirinya dipanggil KPK sebagaimana diakui Imansyah Soebari. Tadi malam saya sampai meriang dan sekarang masih gemetar, katanya. Sementara itutim penyidik KPK yang hendak dimintai keteranganya oleh sejumlah wartawan yang ikut memantau pelaksanaan pemeriksaan, tidak satu pun yang mau membuka mulut. (ula)


Klik di Sini
 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)