Proyek 10 Ribu MW bukan Istimewakan Pebisnis Cina
Jakarta (Bali Post) -
Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM)
Purnomo Yusgiantoro menegaskan, proyek crash program
pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara
10 ribu MW bukan mengistimewakan para pebisnis Cina.
Berdasarkan nota kesepahaman bersama PT Perusahaan
Listrik Negara (PLN) dengan Cina, tidak ada ikatan
keharusan keikutsertaan pengusaha Cina. "Jangan ada
praduga bahwa proyek diarahkan bagi pengusaha Cina,"
katanya di Jakarta, Selasa (11/7) kemarin.
Meski begitu, Purnomo
mengisyaratkan agar pembangunan pembangkit itu dilakukan
dengan tender terbuka, termasuk melalui penawaran
internasional. Saat ini antusias pengusaha dalam negeri
cukup besar terhadap proyek ini. "PLN melaporkan 100
perusahaan dalam negeri mau berpartisipasi dalam
pembangunannya," katanya.
Menneg BUMN Sugiharto menyatakan,
perusahaan dalam negeri dan asing akan mempunyai
kesempatan yang sama dalam tender proyek ini. Ada empat
parameternya, yakni teknologi, kapasitas yang bisa
dibangun, waktu yang dibutuhkan dan pembiayaannya. Untuk
kapasitas yang dibangun pengusaha dalam negeri, nantinya
akan mengerjakan proyek pembangkit skala menengah dan
kecil. BUMN seperti Boma atau PAL mungkin mampu. "Saat
ini sedang diupayakan sekurang-kurangnya 2000 MW yang
ditawarkan bisa dikelola oleh mereka," ujarnya.
Mengenai pendanaan, sambung
Sugiharto, 80 persen akan ditanggung kontraktornya.
"Dana 20 persen syukur bisa 15 persen disediakan PLN
dari cash flow, ya tidak apa-apa," ujarnya. PLN tengah
menjajaki pendanaan dari pasar yang salah satunya
dilakukan dengan menerbitkan obligasi jangka panjang. "Timur
tengah menjadi tujuan investor yang akan membeli
obligasi PLN jangka panjang. Saya optimis 15-20 persen
bisa tercapai," ujarnya.
Plt Dirut PLN, Djuanda Nugraha
Ibrahim menyatakan, ada dua skema pendanaan proyek crash
program pembangunan pembangkit listrik 10 ribu MW. Dua
skema itu, dana yang mengikat dan dana tidak mengikat.
Dana mengikat pelaksanaannya nanti akan melalui
pemilihan langsung. Jika lewat dana tidak mengikat, maka
akan dilakukan tender secara terbuka lewat penawaran
internasional. "Dana mengikat misalnya dana dari Cina
dan peralatan dari Cina," kata Djuanda.
Untuk proyek tersebut, sudah
diumumkan secara terbuka untuk 10 lokasi di Jawa dengan
total kapasitas 7 ribu MW. Sisanya 3 ribu MW di luar
Jawa, belum diumumkan. "Siapa tahu ada dana mengikat
sehingga bisa dilakukan pemilihan langsung lebih cepat
dari tender terbuka," ujarnya.
Ketua Kadin, MS Hidayat
menyarankan agar untuk investasi yang cukup besar
investor asing bisa bekerja sama dengan pengusaha lokal.
"Proyek di provinsi, saya inginkan semua teman yang
punya potensi di daerah bisa ambil bagian," urainya.
(kmb1)