kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 12 Juli 2006

 Ekonomi


Proyek 10 Ribu MW bukan Istimewakan Pebisnis Cina

Jakarta (Bali Post) -
Menteri
Energi dan Sumber Daya (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menegaskan, proyek crash program pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara 10 ribu MW bukan mengistimewakan para pebisnis Cina. Berdasarkan nota kesepahaman bersama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan Cina, tidak ada ikatan keharusan keikutsertaan pengusaha Cina. "Jangan ada praduga bahwa proyek diarahkan bagi pengusaha Cina," katanya di Jakarta, Selasa (11/7) kemarin.

Meski begitu, Purnomo mengisyaratkan agar pembangunan pembangkit itu dilakukan dengan tender terbuka, termasuk melalui penawaran internasional. Saat ini antusias pengusaha dalam negeri cukup besar terhadap proyek ini. "PLN melaporkan 100 perusahaan dalam negeri mau berpartisipasi dalam pembangunannya," katanya.

Menneg BUMN Sugiharto menyatakan, perusahaan dalam negeri dan asing akan mempunyai kesempatan yang sama dalam tender proyek ini. Ada empat parameternya, yakni teknologi, kapasitas yang bisa dibangun, waktu yang dibutuhkan dan pembiayaannya. Untuk kapasitas yang dibangun pengusaha dalam negeri, nantinya akan mengerjakan proyek pembangkit skala menengah dan kecil. BUMN seperti Boma atau PAL mungkin mampu. "Saat ini sedang diupayakan sekurang-kurangnya 2000 MW yang ditawarkan bisa dikelola oleh mereka," ujarnya.

Mengenai pendanaan, sambung Sugiharto, 80 persen akan ditanggung kontraktornya. "Dana 20 persen syukur bisa 15 persen disediakan PLN dari cash flow, ya tidak apa-apa," ujarnya. PLN tengah menjajaki pendanaan dari pasar yang salah satunya dilakukan dengan menerbitkan obligasi jangka panjang. "Timur tengah menjadi tujuan investor yang akan membeli obligasi PLN jangka panjang. Saya optimis 15-20 persen bisa tercapai," ujarnya.

Plt Dirut PLN, Djuanda Nugraha Ibrahim menyatakan, ada dua skema pendanaan proyek crash program pembangunan pembangkit listrik 10 ribu MW. Dua skema itu, dana yang mengikat dan dana tidak mengikat. Dana mengikat pelaksanaannya nanti akan melalui pemilihan langsung. Jika lewat dana tidak mengikat, maka akan dilakukan tender secara terbuka lewat penawaran internasional. "Dana mengikat misalnya dana dari Cina dan peralatan dari Cina," kata Djuanda.

Untuk proyek tersebut, sudah diumumkan secara terbuka untuk 10 lokasi di Jawa dengan total kapasitas 7 ribu MW. Sisanya 3 ribu MW di luar Jawa, belum diumumkan. "Siapa tahu ada dana mengikat sehingga bisa dilakukan pemilihan langsung lebih cepat dari tender terbuka," ujarnya.

Ketua Kadin, MS Hidayat menyarankan agar untuk investasi yang cukup besar investor asing bisa bekerja sama dengan pengusaha lokal. "Proyek di provinsi, saya inginkan semua teman yang punya potensi di daerah bisa ambil bagian," urainya. (kmb1)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)