Pura Penegil Dharma Berawal dari Kerajaan Kawista
Pura
Penegil Dharma berada di wilayah Desa Kubutambahan
Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.
Pura yang tergolong Kahyangan Jagat
Nusantara ini sering pula disebut Pura Puseh Penegil
Dharma atau Penyusu Dharma.
Berdasarkan penuturan Ulu Krama Pura Penegil Dharma
Prof. Putu Armaya, pura ini merupakan pura tertua di
Bali dan menjadi
cikal-bakal Bali.
Sebagai pusat kesucian bhuwana agung.
Sejarah
pendirian pura ini dimulai pada 915 Masehi.
========================================================
Menurut Prof. Armaya, keberadaan Pura Penegil Dharma
tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Ugrasena,
pendiri Dinasti Warmadewa dan Maha Rsi Markania atau
yang disebut masyarakat Bali sebagai Rsi Markandea.
Pura Penegil Dharma sudah ada
sebelum Majapahit datang ke
Bali.
Saat itu
Bali masih
menyatu dengan Pulau Jawa dan berada di ujung timur
pulau itu.
Dahulu Bali bernama Prawali.
"Itu
berdasarkan prasasti Mataram I," ucap ahli sejarah yang
pernah jadi Ketua DPRD Buleleng pada 1977 ini.
Dalam prasasti itu juga tertulis bahwa Gunung Merapi
meletus hebat pada 914 Masehi.
Letusannya menghancurkan ibu
kota
Kerajaan Mataram I yang berpusat di Candi Boko, Jawa
Tengah, di mana penduduknya menganut agama Siwa.
Raja Mataram I Sri Sanjaya meninggal
karena bencana itu.
Kemudian masyarakat setempat yang selamat
dipimpin Mpu Sindok mencari tempat baru untuk mendirikan
kerajaan.
Mereka menyusuri perbukitan selatan Pulau Jawa.
Di lereng Gunung Semeru rombongan
itu menemukan aliran sungai bernama Berantas.
Akhirnya di tepi sungai itu, Mpu Sindok yang begelar
Rakai Hino membangun kerajaan yang diberi
nama Kahuripan.
Sementara Ugrasena, salah seorang anggota keluarga Raja
Mataram I tidak ingin turut membangun Kahuripan.
Hal tersebut karena dalam
meditasinya di Candi Boko, Ugrasena yang seorang
spiritualis tinggi itu melihat pralingga Ida Sang Hyang
Widhi di ujung timur Pulau Jawa yaitu Prawali bersinar
berkilauan.
Ugrasena lalu berniat membangun pusat
kerajaan baru di Prawali.
Di Kahuripan, Ugrasena mendengar bahwa ada parekan Ida
Sang Hyang Widhi sedang bertapa di Puncak Gunung Semeru.
Namanya Maha Rsi Markania. Nama "Markania" berasal dari
kata "parekan". Ugrasena lalu
menghubungi Maha Rsi itu dan bersama-sama mencari
pralingga di Prawali. Bersama sebagian rakyat
Mataram I mereka akhirnya menemukan pralingga tersebut
di tepi danau yang kemudian diberi
nama Kawista yang artinya buah bila.
Kawista ini juga singkatan dari "Kawi Prayascita",
bermakna wilayah Kawista sebagai ibu
kota
yang sudah suci karena titah (takdir) sebelum campur
tangan manusia yang mengupacarai kesuciannya.
Maha Rsi Markania
mengatakan tempat itu Gigir Manuk yang berada di wilayah
Desa Kubutambahan hingga Air Lutung (Ponjok Batu).
Kawista dibangun menjadi pusat kerajaan, istana, agama
dan petirtaan karena di dalam danau itu ada 118 mata air
suci.
Ugrasena menjadi Raja Kawista dengan
gelar Kesari Warmadewa.
Sementara Senapati Kuturan atau Menteri Agama dijabat
Rsi Markania yang merangkap sebagai penasihat raja.
Kawista inilah
nantinya menjadi Pura Penegil Dharma.
Batas wilayah Kawista di arah utara adalah laut yang ada
hutan bakau sepanjang 200 meter.
Di dalamnya terdapat laguna yaitu
danau air tawar yang tembus ke laut. Timur:
Ponjok Batu (Air Lutung). Selatan: Paradayan Air Tabar (sekarang
jadi Desa Bayad, Tajun, Tunjung, Depeha). Barat daya:
Bila (sekarang jadi Bila Tua, Bila Bajang, Bengkala,
Tamblang) dan di arah barat:
Air Raya (Tukad Aya).
Di Istana Kawista inilah lahir keturunan Dinasti
Warmadewa yaitu putra-putra Kesari Warmadewa.
Pertama Janasadhu Warmadewa dengan
permaisurinya Sri Wijaya Mahadewi yang menurunkan
Udayana. Udayana memiliki
permaisuri Mahendradatta, yaitu mindon-nya dari Kerajaan
Kahuripan. Keturunan
selanjutnya dari Dinasti Warmadewa yaitu Marakata
Pangkaja dan Anak Wungsu tidak menghasilkan keturunan (ceput)
sehingga tidak ada penerus Kerajaan Kawista yang masih
menyatu dengan Pulau Jawa itu.
Kawista akhirnya jadi
hutan rimba yang ditempati para bromocorah.
Sementara pada 1248, di Singosari dinobatkan dua
pangeran muda menjadi raja kembar, setelah perebutan
kekuasaan di Daha.
Kedua pangeran bersepupu itu
masing-masing Ranggawuni dan Mahesa Cempaka.
Ranggawuni dinobatkan sebagai raja
Jawa bergelar Jaya Wisnu Wardana, sedangkan Mahesa
Cempaka menjadi Raja Mancanegara Nusa Atepan yang
terdiri tujuh gugusan kepulauan selain Jawa.
Dia juga disebut Nara Jaya atau Jaya
Pangus. Sebagai raja dia
bergelar Narasinga Murti. Sementara Nusa Atepan
diberi nama Narasinga Negara
dengan lambang singa bersayap.
Selanjutnya, Wisnu Wardana memperistri adik Narasinga
Murti bernama Waninghiun.
Mereka memiliki putra Kertanegara.
Sejak itulah terjadi keretakan
antara keluarga Wisnu Wardana dengan Narasinga Murti.
Muncul isu Narasinga Murti tidak
dikehendaki berada di Jawa karena dia raja mancanegara.
Maka pada 1250, Narasinga Murti
melacak jejak istana leluhurnya di Prawali.
Tujuannya untuk dijadikan pusat
kerajaan Narasinga Negara.
Saat itu Prawali sudah terputus dengan Pulau Jawa dan
menjadi pulau tersendiri bernama
Bali.
Kedua pulau itu terpisah laut sempit yang lebarnya
kurang dari 100 meter sehingga diberi
nama "Segara Rupet".
Akhirnya Narasinga Murti yang saat itu bernama Suradipa
atau Ksatria tanah leluhur menemukan Kawista.
Lahirlah istilah Pakraman I Bulian
dari kata "muloyo iki pusering jagat prawali". I
Bulian juga berarti tanah yang lain.
Pada 1260 sesuai permintaan Pakraman Paradayan Bulian,
Narasinga Murti menjadi Pasek di tempat tersebut karena
sudah lama terjadi kekosongan kekuasaan di Bali.
Kawista juga sudah ditempati para
bromocorah yang merampok pedagang yang melewati tempat
itu. Dengan menyandang nama
Jayasakti, dia lalu menumpas para penjahat itu.
Pura Penegil Dharma
Setelah
menumpas para penjahat, Kawista dibangun kembali menjadi
areal pura.
Di Pura Puseh Panegil Dharma dibangun lima pura yaitu
Pura Pucaking Giri (selatan), Pura Patih Patengen Agung
(utara), Pura Kertapura yang berfungsi sebagai pesamuan
para raja dan patih di Narasinga Nagara (tengah), dalam
telaga, Pura Taman Sari Mutering Jagat Istana
Dharmadyaksa (timur) dan Pura Kerta Negara Mas sebagai
istana raja.
Sementara pusat itu dikelilingi delapan pura lainnya
masing-masing Pura Negara Gambuh Anglayang, Dalem Puri,
Maduwe Karang, Patih, Pandita, Candri Manik, Gede dan
Pura Sang Cempaka.
Menurut Prof. Armaya, di Pura Penegil Dharma semua umat
harus mohon kesadaran terhadap fungsi panumadian supaya
perjuangan hidup berhasil dengan baik.
Orang yang
bersembahyang ke pura ini harus dalam keadaan bersih
lahir batin seperti balita.
"Jangan
meminta hal-hal aneh seperti kekayaan berlebihan karena
tidak akan berhasil.
Begitupun niat-niat buruk, tidak
akan mempan dilakukan di Pura Penegil Dharma,"
ucapnya.
Sementara itu, salah seorang pemangku di Pura Penegil
Dharma Jro Mangku Gede Nyoman Sara mengatakan pura ini
berada di lahan seluas sekitar 1,5
hektar. Piodalan di pura ini
berlangsung setiap enam bulan, yaitu saat Buda Manis
Julungwangi. Pura ini
disungsung seluruh masyarakat Buleleng dan
Bali.
Pangemongnya dari Desa Pakraman Kubutambahan yang
terdiri atas Pasaren, Teruna dan Pemaksan.
Jumlahnya lebih dari 500 orang.
Para
pangemong ini yang menyiapkan segala upacara yang
berlangsung di Pura Penegil Dharma.
* arie sri lestari