Tanpa
Pelestarian
Alam--
Pariwisata
Bali tak
Bisa
Apa-apa

Bali Post/dok
HUTAN BAKAU - Kondisi hutan bakau di Bali kini
memprihatinkan. Akibatnya abrasi juga makin mengganas.
Kini
bencana
alam silih
berganti
terjadi
di berbagai
daerah.
Murka
alam
itu terjadi
sebagian
besar
karena ulah
manusia;
rakus,
tamak dan
tak
peduli.
Bagaimana
dengan
Bali?
Sebagai
pihak yang paling ''menikmati''
alam Bali,
apa
kontribusi
sektor
pariwisata terhadap
pelestarian
alam Bali?
------------------------------------------------------
MENYITIR
sejumput
syair
lagu Ebiet G.
Ade,
nasib
Bali
tinggal
menunggu giliran,
kalau
kita tak
segera
berbenah.
Dr. Ketut
Kartini
mengingatkan, kondisi
lingkungan
dan
alam Bali saat
ini
sudah sangat
memprihatinkan.
Hutan
menyusut, debit air
di
beberapa danau
menurun,
dan
laju alih
fungsi
lahan kian
tak
terkendali. ''Kalau
kita
tak segera
berbenah,
kita
juga
akan menuai
petaka
seperti daerah
lain,'' tandas
Kartini.
Ia
mengingatkan,
mumpung
belum terlambat,
berbagai
tragedi
lingkungan seperti
banjir
dan tanah
longsor yang
terjadi
di daerah
hendaknya
menjadi
pelajaran. Sebab,
kalau
kita tidak
segera
berbenah, kita
akan
mengalami
hal yang
sama.
Bahkan kalau
tak
segera menghutankan
kembali,
Kartini
memprediksi suatu
saat Bali
akan
bernasib
seperti
Etiopia.
''Semuanya
gersang,
tandus,
dan kita
semua
jatuh miskin,''
tandas
Kartini.
Ia
sesungguhnya
sudah
mengingatkan kondisi
apa yang
terjadi
sekarang sekitar 15
tahun
lalu.
Sayangnya
tidak
ada yang menggubris,
karena
pemerintah, pelaku
usaha
dan masyarakat
hanya
berpikir tentang
pertumbuhan
ekonomi.
''Lingkungan
selalu
dianggap tidak
penting
sehingga diletakkan
pada
urutan kesekian.
Akibatnya
berbagai
upaya
pelestarian lingkungan
kurang
mendapat dukungan
yang luas
dari
pemerintah,''' ujar
dosen
Unud ini.
Baginya,
ada
sesuatu yang salah
dalam
pengelolaan Bali selama
ini.
Bali yang
dikenal
memiliki alam
indah,
lalu dijual
sebagai
produk pariwisata
mendatangkan
gemerincing
dolar.
Para
pengelola
usaha
pariwisata menikmati
dan
pemerintah melalui
PHR juga
ikut
mencicipi.
Mereka
mestinya
punya
komitmen melestarikan
alam
Bali, karena
tanpa
kelestarian alam,
pariwisata
tak
bisa apa-apa.
''Tetapi
coba
tanya,
apa yang
telah
mereka perbuat
untuk
pelestarian alam
Bali? Siapa
yang peduli
dengan
kerusakan hutan
atau
turunnya debit air di
danau-danau
di
Bali?''
gugat
Kartini seraya
mengingatkan,
alam Bali
sudah
begitu murah
hati
memberi berkah
ekonomis
kepada
kita semua.
Namun,
kalau kita
tak
pandai berterima
kasih,
alam punya
cara
tersendiri
menuntut balas.
Peran
Leaderhip
Menurutnya,
sebelum
semuanya telanjur,
semua
pihak harus
segera
menyadari dan
beraksi
nyata (action) untuk
mengembalikan
keseimbangan
alam.
Antara
lain melalui
gerakan
penanaman pohon
di
lahan-lahan kritis
dan
hutan-hutan yang ''bolong''
di
seantero Bali.
Semua
ini,
lanjutnya, memang
tergantung leadership.
''Pak Gubernur
mestinya
langsung
turun
tangan.
Persoalan
lingkungan
di
Bali sudah
serius,''
ujar
Kartini.
Saat
ini,
lanjutnya, merupakan
momentum yang pas.
Di
tengah
masyarakat dan
pemerintah
sedang ''demam''
recovery (pemulihan).
Namun,
ia
mengingatkan,
pemahaman recovery Bali
itu
harus diluruskan.
''Saya
sepakat
dengan pernyataan Pak
Satria
Naradha di Bali Post
bahwa recovery
Bali
bukan
hanya promosi
ke luar,
tetapi
harus juga
membenahi
ke
dalam.
Kalau
kita sudah
baik,
tanpa promosi pun
turis
akan
datang
lagi,'' ujar
Kartini.
Dihubungi
terpisah,
Ketua Bali Tourism Board (BTB)
Bagus
Sudibya sepakat
recovery Bali tak
hanya
ditujukan untuk
pemulihan
pariwisata
secara
langsung.
Dikatakannya,
program yang disebut Bali
Recovery disusun
dalam
suasana emergency, beberapa
saat
setelah bom
Jimbaran-Kuta.
Kendati
demikian, ke
depan
bisa saja program
rehabilitasi
lingkungan
menjadi
bagian dari
upaya
pemulihan
Bali.
Di
antaranya
penanaman
pohon
di lahan
kritis.
Kalau
disepakati,
bisa
saja dananya
diambil
dari PHR.
Untuk
menindaklanjuti
itu,
pihaknya
akan
mendata
lahan kritis yang
ada di
seluruh Bali
di
masing-masing kabupaten.
''Kita minta
data pada
bupati se-Bali
bagaimana
kondisi
lahan kritis
di
daerahnya.
Dengan
mempekerjakan
masyarakat
setempat,
lahan-lahan
itu
nantinya ditanami
pohon,
selain untuk
konservasi
juga
untuk produksi.
Misalnya
tanaman
jarak, sengon
atau
albasia, yang kayunya
bisa
dimanfaatkan untuk
kerajinan,''
ujar
Sudibya.
Ditambahkannya,
pola
seperti ini
telah
populer di
Finlandia,
di mana
ekspor
kayu meningkat
namun
areal hutannya
juga
tiap tahun
bertambah.
Hal itu
membuktikan
setiap
penebangan kayu
segera
diikuti penanaman
pohon
jauh lebih
banyak
dari yang dipanen.
''Selama
ini
memang harus
diakui,
orang hanya
berpikir
tentang
pariwisata.
Padahal
pariwisata
itu
ibaratnya hilir,
sementara
pertanian,
kehutanan,
dan
lainnya merupakan
hulu. Kita
benahi
dulu hulunya,
dengan
sendirinya hilirnya
akan
baik,''
tukas Bagus
Sudibya.
(gre)