kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 12 Juli 2006

 Bali


Tanpa
Pelestarian Alam--
Pariwisata
Bali tak Bisa Apa-apa 

Bali Post/dok
HUTAN BAKAU - Kondisi hutan bakau di Bali kini memprihatinkan. Akibatnya abrasi juga makin mengganas.

Kini bencana alam silih berganti terjadi di berbagai daerah.  Murka alam itu terjadi sebagian besar karena ulah manusia; rakus, tamak dan tak peduli. Bagaimana dengan Bali? Sebagai pihak yang paling ''menikmati'' alam Bali, apa kontribusi sektor pariwisata terhadap pelestarian alam Bali?

------------------------------------------------------ 

MENYITIR sejumput syair lagu Ebiet G. Ade, nasib Bali tinggal menunggu giliran, kalau kita tak segera berbenah.

Dr. Ketut Kartini mengingatkan, kondisi lingkungan dan alam Bali saat ini sudah sangat memprihatinkan. Hutan menyusut, debit air di beberapa danau menurun, dan laju alih fungsi lahan kian tak terkendali. ''Kalau kita tak segera berbenah, kita juga akan menuai petaka seperti daerah lain,'' tandas Kartini.

Ia mengingatkan, mumpung belum terlambat, berbagai tragedi lingkungan seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di daerah hendaknya menjadi pelajaran. Sebab, kalau kita tidak segera berbenah, kita akan mengalami hal yang sama. Bahkan kalau tak segera menghutankan kembali, Kartini memprediksi suatu saat Bali akan bernasib seperti Etiopia. ''Semuanya gersang, tandus, dan kita semua jatuh miskin,'' tandas Kartini.

Ia sesungguhnya sudah mengingatkan kondisi apa yang terjadi sekarang sekitar 15 tahun lalu. Sayangnya tidak ada yang menggubris, karena pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat hanya berpikir tentang pertumbuhan ekonomi. ''Lingkungan selalu dianggap tidak penting sehingga diletakkan pada urutan kesekian. Akibatnya berbagai upaya pelestarian lingkungan kurang mendapat dukungan yang luas dari pemerintah,''' ujar dosen Unud ini.

Baginya, ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan Bali selama ini. Bali yang dikenal memiliki alam indah, lalu dijual sebagai produk pariwisata mendatangkan gemerincing dolar. Para pengelola usaha pariwisata menikmati dan pemerintah melalui PHR juga ikut mencicipi. Mereka mestinya punya komitmen melestarikan alam Bali, karena tanpa kelestarian alam, pariwisata tak bisa apa-apa.

''Tetapi coba tanya, apa yang telah mereka perbuat untuk pelestarian alam Bali? Siapa yang peduli dengan kerusakan hutan atau turunnya debit air di danau-danau di Bali?'' gugat Kartini seraya mengingatkan, alam Bali sudah begitu murah hati memberi berkah ekonomis kepada kita semua. Namun, kalau kita tak pandai berterima kasih, alam punya cara tersendiri menuntut balas.

 

Peran Leaderhip

 

Menurutnya, sebelum semuanya telanjur, semua pihak harus segera menyadari dan beraksi nyata (action) untuk mengembalikan keseimbangan alam. Antara lain melalui gerakan penanaman pohon di lahan-lahan kritis dan hutan-hutan yang ''bolong'' di seantero Bali. Semua ini, lanjutnya, memang tergantung leadership. ''Pak Gubernur mestinya langsung turun tangan. Persoalan lingkungan di Bali sudah serius,'' ujar Kartini.

Saat ini, lanjutnya, merupakan momentum yang pas. Di tengah masyarakat dan pemerintah sedang ''demam'' recovery (pemulihan). Namun, ia mengingatkan, pemahaman recovery Bali itu harus diluruskan. ''Saya sepakat dengan pernyataan Pak Satria Naradha di Bali Post bahwa recovery Bali bukan hanya promosi ke luar, tetapi harus juga membenahi ke dalam. Kalau kita sudah baik, tanpa promosi pun turis akan datang lagi,'' ujar Kartini.

Dihubungi terpisah, Ketua Bali Tourism Board (BTB) Bagus Sudibya sepakat recovery Bali tak hanya ditujukan untuk pemulihan pariwisata secara langsung. Dikatakannya, program yang disebut Bali Recovery disusun dalam suasana emergency, beberapa saat setelah bom Jimbaran-Kuta. Kendati demikian, ke depan bisa saja program rehabilitasi lingkungan menjadi bagian dari upaya pemulihan Bali. Di antaranya penanaman pohon di lahan kritis. Kalau disepakati, bisa saja dananya diambil dari PHR.

Untuk menindaklanjuti itu, pihaknya akan mendata lahan kritis yang ada di seluruh Bali di masing-masing kabupaten. ''Kita minta data pada bupati se-Bali bagaimana kondisi lahan kritis di daerahnya. Dengan mempekerjakan masyarakat setempat, lahan-lahan itu nantinya ditanami pohon, selain untuk konservasi juga untuk produksi. Misalnya tanaman jarak, sengon atau albasia, yang kayunya bisa dimanfaatkan untuk kerajinan,'' ujar Sudibya.

Ditambahkannya, pola seperti ini telah populer di Finlandia, di mana ekspor kayu meningkat namun areal hutannya juga tiap tahun bertambah. Hal itu membuktikan setiap penebangan kayu segera diikuti penanaman pohon jauh lebih banyak dari yang dipanen. ''Selama ini memang harus diakui, orang hanya berpikir tentang pariwisata. Padahal pariwisata itu ibaratnya hilir, sementara pertanian, kehutanan, dan lainnya merupakan hulu. Kita benahi dulu hulunya, dengan sendirinya hilirnya akan baik,'' tukas Bagus Sudibya. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)