Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Apakah ''Recovery'' Mampu Dilakukan?
Siapa akan Melakukan?
RECOVERY
Bali semestinya tidak hanya dilihat dari mendatangkan
wisatawan sebanyak-banyaknya, namun harus dilihat
sebagai upaya mengembalikan kondisi Bali seperti
sebelumnya. Tak hanya pariwisata, juga alam Bali yang
telah rusak. Pesatnya perkembangan Bali saat ini
berpengaruh terhadap kondisi alam Bali. Seluruh unsur
lingkungan yang terkandung di dalamnya sudah terjamah.
Oleh karena itu sangat diperlukan upaya seluruh komponen
masyarakat Bali untuk merehabilitasi alam Bali. Namun,
apakah recovery ini akam mampu dilakukan? Siapa yang
akan menjalankannya? Masih adakah alam yang asri di Bali
ini? Pantai sudah abrasi, hutan sudah digundul, jalak
Bali sudah punah, dan areal pura juga sudah banyak
terjual dengan alasan menunjang pariwisata serta sawah
sudah berubah menjadi vila-vila, demikian pula tepian
pantai sudah penuh dengan bangunan. Demikian terungkap
dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung
oleh Radio Global FM Bali 96,5, Selasa (11/7) kemarin.
Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan
Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.
----------------------------------
Mudita di Kuta sangat setuju dengan adanya recovery ini,
namun pertanyaannya mampu-enggak? Jika tanah-tanah
setiap hari dijual bagaimana kita bisa menyelamatkan
alam? Kebijaksanaan pemerintah sangat diperlukan.
Adnyana di Pedungan berharap agar hal ini benar-benar
diwujudkan jangan hanya wacana. Melepas berbagai satwa
langka adalah hal yang sangat bagus, namun jangan sampai
ada yang menangkapnya lagi.
Sementara itu, Kak Nges menanyakan alam di mana yang
perlu kita selamatkan? Masih adakah alam yang asri di
Bali ini? Pantai sudah abrasi, hutan sudah digundul,
jalak Bali sudah punah, dan areal pura juga sudah banyak
terjual dengan alasan menunjang pariwisata. Jika
sekarang masyarakat diimbau untuk menyelamatkan alam,
tugas pemerintah apa saja? Pemerintah hanya bisa
mengimbau agar masyarakat jangan menjual tanah, tetapi
pajak tanah naik terus. Bali yang dulu seribu pura
sekarang berubah menjadi seribu ruko dan sebentar lagi
akan menjadi seribu tempat ibadah. Ini perlu diwaspadai.
Menurut Jujur, menyelamatkan alam Bali memang sangat
baik dilakukan tetapi siapakah yang akan menjalankannya?
Mampukah ini akan dilakukan? Semua kebijakan ada di
tangan pemerintah.
Wayan Belog mengatakan untuk menyelamatkan alam adalah
dengan tetap mempertahankan ekosistem yang ada. Ini
adalah sebuah dilema, di satu sisi kita ingin agar
pariwisata maju, namun di sisi lain alam juga perlu
dipertahankan. Wayan mengimbau agar pemerintah lebih
selektif dalam mengeluarkan izin-izin pendirian bangunan.
Bagaimana pun pariwisata memang memerlukan sarana
pendukung seperti hotel namun janganlah dibangun di
daerah aliran sungai atau di pinggir-pinggir pantai.
Natri Udiyani juga setuju dengan dilakukannya recovery
ini dan ini bisa dilakukan atau digagas dari anak-anak
TK sampai Perguruan Tinggi. Pemerintah harus
memfasilitasinya. Kemudian lapangan golf yang banyak
tersebar di Bali ini lebih baik dihijaukan kembali.
Sepanjang pantai yang selama ini dikapling-kapling
hendaknya jangan dijadikan milik pribadi.
Manis di Ubung dan Marbun di Nusa Dua mengingatkan,
jalak Bali sudah punah, macan Bali juga sudah hilang.
Apa yang akan di-recovery? Yang benar saat ini adalah
recovery dulu moral pemerintah. Harus ada usaha dari
pemerintah, apa yang menjadi akar masalah.
Sementara itu, menurut Ade di Denpasar, sudah tidak ada
yang bisa diselamatkan lagi. Recovery memang perlu
dilakukan namun jika melihat keadaan di lapangan sangat
sulit untuk melakukannya. Sawah sudah berubah menjadi
vila-vila, tepian pantai juga sudah penuh dengan
bangunan. Pemerintah adalah kuncinya, sebab semua aturan
dan kebijakan ada di tangan pemerintah.
Jero Wijaya menambahkan, apa yang akan di-recovery?
Apakah adat-istiadat atau pariwisata? Sudah tidak
mungkin untuk melakukan recovery. Yang mungkin untuk
dilakukan adalah diversifikasi.
Selanjutnya, menurut Jodog, untuk menyelamatkan alam
Bali satu-satunya jalan adalah stop pariwisata. Jika tak
ada gula maka semut tak akan datang. Jika gula ada maka
semut akan datang sebanyak-banyaknya. Akibatnya alam
Bali akan selalu dicari dan digerogoti. Jika pemerintah
berpikir semut itu tak bisa dibendung maka sebenarnya
tata ruang yang harus dipersiapkan dulu dan dilaksanakan
dengan konsekuen dan tegas. Melihat keadaan sekarang,
apa yang akan kita selamatkan?
Menurut Nang Tut Su, ibu pertiwi sudah memberikan banyak
hal kepada kita semestinya kita menjaganya. Namun apa
yang terjadi? Semuanya hancur. Yang bisa kita lakukan
sekarang hanyalah berdoa dan memohon kepada Tuhan agar
alam bisa selamat.
Setia di Tabanan melihat bahwa fakta yang ada seperti
gempa, banjir, tsunami dan lain-lain semua disebabkan
rusaknya alam. Hutan gundul dan terjadi longsor di
sana-sini. Ini adalah ulah manusia. Alam sudah rusak apa
yang akan diselamatkan?
Namun, Nang Tualen tetap mengajak agar kita selalu
optimis dalam menghadapi semuanya. Tidak hanya di Bali
yang gersang, di beberapa daerah juga mengalami hal yang
sama.
* mei