kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 12 Juli 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post

Apakah ''Recovery'' Mampu Dilakukan?
Siapa akan Melakukan?


RECOVERY Bali semestinya tidak hanya dilihat dari mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, namun harus dilihat sebagai upaya mengembalikan kondisi Bali seperti sebelumnya. Tak hanya pariwisata, juga alam Bali yang telah rusak. Pesatnya perkembangan Bali saat ini berpengaruh terhadap kondisi alam Bali. Seluruh unsur lingkungan yang terkandung di dalamnya sudah terjamah. Oleh karena itu sangat diperlukan upaya seluruh komponen masyarakat Bali untuk merehabilitasi alam Bali. Namun, apakah recovery ini akam mampu dilakukan? Siapa yang akan menjalankannya? Masih adakah alam yang asri di Bali ini? Pantai sudah abrasi, hutan sudah digundul, jalak Bali sudah punah, dan areal pura juga sudah banyak terjual dengan alasan menunjang pariwisata serta sawah sudah berubah menjadi vila-vila, demikian pula tepian pantai sudah penuh dengan bangunan. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung oleh Radio Global FM Bali 96,5, Selasa (11/7) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

---------------------------------- 

Mudita di Kuta sangat setuju dengan adanya recovery ini, namun pertanyaannya mampu-enggak? Jika tanah-tanah setiap hari dijual bagaimana kita bisa menyelamatkan alam? Kebijaksanaan pemerintah sangat diperlukan.

Adnyana di Pedungan berharap agar hal ini benar-benar diwujudkan jangan hanya wacana. Melepas berbagai satwa langka adalah hal yang sangat bagus, namun jangan sampai ada yang menangkapnya lagi.

Sementara itu, Kak Nges menanyakan alam di mana yang perlu kita selamatkan? Masih adakah alam yang asri di Bali ini? Pantai sudah abrasi, hutan sudah digundul, jalak Bali sudah punah, dan areal pura juga sudah banyak terjual dengan alasan menunjang pariwisata. Jika sekarang masyarakat diimbau untuk menyelamatkan alam, tugas pemerintah apa saja? Pemerintah hanya bisa mengimbau agar masyarakat jangan menjual tanah, tetapi pajak tanah naik terus. Bali yang dulu seribu pura sekarang berubah menjadi seribu ruko dan sebentar lagi akan menjadi seribu tempat ibadah. Ini perlu diwaspadai.

Menurut Jujur, menyelamatkan alam Bali memang sangat baik dilakukan tetapi siapakah yang akan menjalankannya? Mampukah ini akan dilakukan? Semua kebijakan ada di tangan pemerintah.

Wayan Belog mengatakan untuk menyelamatkan alam adalah dengan tetap mempertahankan ekosistem yang ada. Ini adalah sebuah dilema, di satu sisi kita ingin agar pariwisata maju, namun di sisi lain alam juga perlu dipertahankan. Wayan mengimbau agar pemerintah lebih selektif dalam mengeluarkan izin-izin pendirian bangunan. Bagaimana pun pariwisata memang memerlukan sarana pendukung seperti hotel namun janganlah dibangun di daerah aliran sungai atau di pinggir-pinggir pantai.

Natri Udiyani juga setuju dengan dilakukannya recovery ini dan ini bisa dilakukan atau digagas dari anak-anak TK sampai Perguruan Tinggi. Pemerintah harus memfasilitasinya. Kemudian lapangan golf yang banyak tersebar di Bali ini lebih baik dihijaukan kembali. Sepanjang pantai yang selama ini dikapling-kapling hendaknya jangan dijadikan milik pribadi.

Manis di Ubung dan Marbun di Nusa Dua mengingatkan, jalak Bali sudah punah, macan Bali juga sudah hilang. Apa yang akan di-recovery? Yang benar saat ini adalah recovery dulu moral pemerintah. Harus ada usaha dari pemerintah, apa yang menjadi akar masalah.

Sementara itu, menurut Ade di Denpasar, sudah tidak ada yang bisa diselamatkan lagi. Recovery memang perlu dilakukan namun jika melihat keadaan di lapangan sangat sulit untuk melakukannya. Sawah sudah berubah menjadi vila-vila, tepian pantai juga sudah penuh dengan bangunan. Pemerintah adalah kuncinya, sebab semua aturan dan kebijakan ada di tangan pemerintah.

Jero Wijaya menambahkan, apa yang akan di-recovery? Apakah adat-istiadat atau pariwisata? Sudah tidak mungkin untuk melakukan recovery. Yang mungkin untuk dilakukan adalah diversifikasi.

Selanjutnya, menurut Jodog, untuk menyelamatkan alam Bali satu-satunya jalan adalah stop pariwisata. Jika tak ada gula maka semut tak akan datang. Jika gula ada maka semut akan datang sebanyak-banyaknya. Akibatnya alam Bali akan selalu dicari dan digerogoti. Jika pemerintah berpikir semut itu tak bisa dibendung maka sebenarnya tata ruang yang harus dipersiapkan dulu dan dilaksanakan dengan konsekuen dan tegas. Melihat keadaan sekarang, apa yang akan kita selamatkan?

Menurut Nang Tut Su, ibu pertiwi sudah memberikan banyak hal kepada kita semestinya kita menjaganya. Namun apa yang terjadi? Semuanya hancur. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa dan memohon kepada Tuhan agar alam bisa selamat.

Setia di Tabanan melihat bahwa fakta yang ada seperti gempa, banjir, tsunami dan lain-lain semua disebabkan rusaknya alam. Hutan gundul dan terjadi longsor di sana-sini. Ini adalah ulah manusia. Alam sudah rusak apa yang akan diselamatkan?

Namun, Nang Tualen tetap mengajak agar kita selalu optimis dalam menghadapi semuanya. Tidak hanya di Bali yang gersang, di beberapa daerah juga mengalami hal yang sama. * mei

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)