Lumpur Panas
Jadi
Objek Wisata
Surabaya (Bali Post) -
Tingginya
genangan
lumpur
panas di
ruas
jalan tol Surabaya -Gempol
km 38 menarik
masyarakat
sekitarnya,
Minggu (25/6)
kemarin.
Bahkan,
jumlah
pengunjung yang ingin
melihat
dari dekat
lumpur
panas akibat
eksplorasi
Lapindo
Brantas Inc. di
Banjar
Panji 1 Desa Siring
Sidoarjo
makin
meningkat.
Masyarakat
tidak
hanya berdatangan
dari
Sidoarjo, tetapi
dari
seluruh wilayah yang
ada di
Jatim,
Jateng, Jabar
dan Bali.
Umumnya
mereka
penasaran dan
ingin
melihat langsung
peristiwa
banjir
lumpur panas yang
sangat
langka itu.
Yang
juga
menarik masyarakat,
sejak
Sabtu (24/6) lalu
pada
setiap tepi
tanggul
untuk meredam
laju
lumpur, mulai
dipasangi
rambu (seperti
rambu
lalu lintas).
Rambu
itu
dimaksudkan agar para
pengunjung
maupun
warga sekitar yang
ingin
melihat banjir
lumpur
berhati-hati dan
tidak
menaiki tanggul
di
kawasan lumpur
di Desa
Siring, Kecamatan
Porong.
Terlihat
lebih
dari 15 rambu yang
dibuat
oleh Kementerian
Lingkungan
Hidup.
Di
antaranya bertuliskan
''Hati-hati Lumpur
Dalam,
Hati-hati Lumpur Panas,
dan
Hati-Hati! Lumpur
Panas
Dalam''.
''Rambu
ini untuk
peringatan
meski
tertulis agak
lucu
bila dibaca,''
kata
Syamsul, seorang
warga
Kedung Bendo
Tanggulangin, yang
setiap
hari ke
lokasi
bencana.
Syamsul
terpaksa setiap
hari
melihat sawahnya yang
terendam
lumpur
Lapindo setinggi 1,5
meter itu.
Dilarang
Genangan
lumpur
panas di
ruas
jalan tol Surabaya-Gempol
km 38 semakin
tinggi.
Semula
lumpur yang
masuk
ke jalan
tol
hanya setinggi 20
sentimeter
dan
masih bisa
dilewati
mobil
pribadi, truk, bus.
Tetapi
kini
genangan lumpur
panas
di ruas
jalan
tersebut makin
tinggi
sekitar 60 sentimeter.
Hal itu
disebabkan adanya
tiga
titik kebocoran
dari
arah utara
dan
selatan.
Akibatnya,
genangan
lumpur
panas di
ruas
jalan tol Surabaya-Gempol
km 38 semakin
tinggi
dan kendaraan
kecil
tidak diperbolehkan
lagi
melintas tol.
Sementara
truk
dan bus masih
diperbolehkan
lewat.
Bahkan,
kendaraan
kecil yang
nekat
tidak mematuhi
imbauan
polisi dan PT
Jasa
Marga harus
berputar
kembali
setelah sopir
mengetahui
genangan
lumpur
cukup tinggi
dan
tidak memungkinkan
bagi
kendaraan kecil
melintas
di ruas
jalan
itu.
Akibatnya,
kemacetan
di
jalur Porong-Gempol
(non-jalan
tol)
lewat Pasar
Porong
menuju
Malang
(pp) cukup
panjang.
Saking
tingginya
genangan
lumpur
panas, terdengar
empat kali ban
truk
meletus hingga
menambah
kemacetan.
Sementara
jalan
tol Gempol-Surabaya
sudah
sejak beberapa
hari
lalu ditutup
karena
memang digenangi
lumpur
cukup tinggi.
''Tingginya
lumpur
panas yang menggenangi
ruas
jalan tol
karena
ada semburan
lumpur
di tiga
titik,''
kata
Kepala Cabang PT
Jasa
Marga Surabaya-Gempol
Bachriansyah,
Minggu (25/6)
kemarin.
Ia
membenarkan
ada
empat ban truk yang
meletus
akibat melintasi
genangan
lumpur
di ruas
jalan
tol. (059)