Ramos Horta
Mundur
Dili
-
Partai
Fretilin yang
saat
ini berkuasa
di Timor
Leste
menolak untuk
memecat
Perdana Menteri Mari
Alkatiri,
Minggu (25/6)
kemarin.
Langkah
ini sekaligus
tidak
menghiraukan tuntutan
dari
Presiden Zanana
Gusmao
dan ribuan
demonstran.
Perkembangan
politik
di negara
kecil
ini tidak
sampai
di
sana
saja,
penolakan itu
berbuntut
panjang.
Dua
menteri negara,
termasuk
di
antaranya peraih
Nobel Perdamaian Jose Ramos
Horta
kemudian mengundurkan
diri.
Pengunduran
diri
dua menteri
ini
nampaknya akan
menambah
masalah
negara dan
semakin
memperdalam krisis
dengan
sistem pemerintahan
negara yang
sudah
sangat kacau. Ramos
Horta yang
kini
menjabat Menteri
Luar
Negeri dan
peraih Nobel
Perdamaian 1996
mengatakan
ia
mengundurkan diri "hingga
sebuah
pemerintahan baru
terbentuk."
Partai
Fretilin yang
melakukan
pertemuan
darurat
Minggu kemarin
menyatakan
Alkatiri
menerima
permohonan
mutlak
dari komite
untuk
tidak mundur,
dan
mengabaikan protes-protes
dari
masyarakat luas.
Melihat
hal
tersebut Menteri
Transportasi
Ovideo
Amaral kemudian
mengikuti
jejak
Horta untuk
mundur
dari jabatannya.
"Anggota
Fretilin
harus
berpikir secara
realistis,"
kata
Amaral kepada
wartawan. "Ada
banyak
tekanan dari
masyarakat.
Mereka
tidak menginginkan
Alkatiri
untuk
tetap di
kursi PM,
jadi
mengapa pihak
Fretilin
mendukungnya?"
Namun,
pemimpin
partai
Fretilin Francisco Guteres
dalam
sebuah pernyataannya
yang dibacakan
di
lokasi markas
besar
partai mengatakan,
pejabat
partai sepakat
bahwa
baik Alkatiri
maupun
Gusmao harus
tetap
pada posisi
mereka
masing-masing. "Jadi
mereka
tidak dapat
terlepas
dari
tanggung jawab
konstitusi
untuk
mencari sebuah
pemecahan
dalam
krisis rumit yang
sekarang
sedang
terjadi," katanya,
di mana
ketika
itu terlihat
Alkatiri
duduk
tanpa memberikan
satu
komentar pun kepada
media.
Guteres
mengatakan
partainya
sudah
mengajukan sebuah
proposal di
mana di
dalamnya
tercantum
ajakan dialog yang
melibatkan
Presiden,
Gereja
Katolik, partai-partai
politik
dan organisasi non-pemerintah
untuk
dengan segera
dapat
mencari pemecahan
konflik.
Sesaat
sebelum
petang, sebanyak
5.000 demonstran anti-Alkatiri
menggelar
aksi
mereka di
luar
gedung pemerintahan.
Semangat
para
demonstran membara,
namun
terlihat kebanyakan
dari
mereka belum
mengetahui
keputusan
Fretilin
untuk
mempertahankan Alkatiri.
Di
sana
terlihat satu
grup
pemuda yang mengenakan
kaos
hitam-hitam mengitari
sebuah
peti kayu.
Pada
peti kayu
tersebut
terlihat
foto
Alkatiri dan
sebuah poster
bertuliskan "Lelaki
Vampir". (ton/ap/afp)