Potensi
Indonesia dalam
Komoditi
Kelapa
Sawit
INDONESIA
masih
punya potensi
besar
untuk mengembangkan
kelapa
sawit, baik
dari
segi luas
areal
pertaniannya maupun
intensifikasi
untuk
meningkatkan produktivitas.
Saat
ini di
lapangan,
kelapa
sawit merupakan
primadona
perkebunan
di Indonesia.
Tanaman
ini sebenarnya
bukan
asli Indonesia. Tanaman
ini
didatangkan dari
Afrika
dan pertama
kalinya
diperkenalkan di
Indonesia sebagai
tanaman
hias. Walaupun
pengembangannya
berjalan
lambat
pada awalnya.
Kini
terjadi perluasan
perkebunan
kelapa
sawit yang sangat
besar. Dari
semula
hanya 1.605 hektar
pada 1917
kini
menjadi lebih
dari 5,5
juta
hektar. Bahkan
saat
ini kelapa
sawit
merupakan pemasuk
devisa
nonmigas penting
di Indonesia.
Meski
dari
segi luas
lahan, Indonesia
menempati
peringkat
pertama
di dunia,
dilihat
dari segi
produktivitasnya Indonesia
kalah
dibandingkan Malaysia.
Produktivitas kelapa
sawit
di Indonesia masih
jauh
lebih rendah
dibanding Malaysia.
Penyebabnya
adalah
pemakaian bibit
tidak
unggul maupun
bibit
palsu yang menyebabkan
menurunnya
produksi
hingga 50
persen.
Namun seiring
semakin
majunya pengetahuan
mengenai
kelapa
sawit, produktivitas
kelapa
sawit kini
mengalami
revolusi.
Sekarang
ini
luas perkebunan
kelapa
sawit di Indonesia
mencapai 5,7
juta
hektar dari
luas
potensial sebanyak
31,77 juta
hektar.
Pulau-pulau yang masih
potensial
mengembangkan
perkebunan
kelapa
sawit terutama
di Kalimantan
dan Papua.
Perubahan
besar-besaran
atas
produktivitas kelapa
sawit
ini terjadi
dalam
beberapa dekade
terakhir.
Sebelum 1960,
produktivitas
kelapa
sawit hanya
mencapai 4,3 ton per
hektar per
tahun.
Saat ini
dengan
adanya pemuliaan
yang semakin
berkembang
dengan
adanya dukungan
kultur
jaringan, maupun
biomolekular
telah
mampu menciptakan
varietas
kelapa
sawit yang mampu
berproduksi
jauh
lebih tinggi.
Di
bidang bibit pun,
saat
ini sudah
ada
produsen benih
kelapa
sawit di Indonesia
yang menghasilkan
bibit
unggul. Jumlah
produsen
benih
ini hingga
sekarang
hanya
ada tiga
yaitu PPKS, PT
Socfindo,
dan PT
Londsum. Sejauh
ini PPKS
merupakan
produsen
terbesa
dan tertua.
Di
samping
penggunaan varietas
unggul,
pemupukan dan
perawatan
tanaman
merupakan faktor yang
penting
menentukan keberhasilan
budi
daya kelapa
sawit.
Kemajuan-kemajuan dalam
pemupukan
mencakup
teknologi
mengurangi
jumlah
pupuk yang harus
diberikan
tanpa
mengurangi produksi.
Di
samping itu
juga
perlunya perbaikan
kesuburan
tanah
menggunakan asam
humat
dan pemupukan
menggunakan
limbah
dari pabrik
minyak
sawit, sehingga
limbah yang
dihasilkan
bisa
berguna untuk
kepentingan
lingkungan
dan
perbaikan tanah.
Untuk
perawatan tanaman
sudah
terdapat pula berbagai
produk yang
tidak
mengandung zat-zat
kimia yang
bisa
merusak lingkungan
dan
lapisan ozon.
(iah)