Pengembangan
Kelapa
Sawit di Indonesia--
Dikhawatirkan
Rusak
Keragaman Hayati
Empat
hari yang
lalu,
Konferensi Kelapa
Sawit
Internasional baru
saja
selesai dilaksanakan
di Bali.
Di
balik
komoditi perkebunan
yang kini
menjadi
primadona tersebut
terdapat
berbagai
isu
lingkungan hidup
negatif yang
menyertainya.
Tetapi
benarkah
semua
dampak negatif
terhadap
lingkungan yang
terjadi
karena pengembangan
industri
kelapa
sawit ini
tidak
ada solusinya?
--------------------------
DILIHAT
dari
kebutuhannya, minyak
sawit
kini mengalami
peningkatan
permintaan yang
cukup
signifikan secara
global.
Pesatnya
permintaan
sawit
ini dipicu
meningkatnya
permintaan crude palm oil (CPO)
untuk
pangan dan
energi.
Indonesia
sebagai
negara yang masih
memiliki
ketersediaan
lahan
cukup melimpah
menjadi
pusat perhatian
investasi
kelapa
sawit dunia.
Malaysia
sebagai
produsen minyak
sawit
terbesar di
dunia pun
sudah
melirik Indonesia sebagai
tempat
investasi pengembangan
industri
minyak
sawit mereka.
Indonesia sendiri pun
sudah
merencanakan
akan
menambah minimal
dua
juta hektar
perkebunan
kelapa
sawit dalam lima
tahun
mendatang, termasuk
menanam
sawit
di perbatasan
Indonesia-Malaysia.
Pesatnya
perkembangan
industri
sawit
sebagai opsi
kebutuhan
energi
dan pangan
dalam
beberapa tahun
terakhir
ini
memunculkan kekhawatiran
kalangan
pecinta
lingkungan.
Perluasan
kebun
kelapa sawit
sering
mendapat sorotan
pemerhati
lingkungan
dikaitkan
dengan
deforestrasi dan
erosi
keanekaragaman hayati.
Sejak
beberapa
bulan
terakhir ini,
isu
kerusakan lingkungan
semakin
sering muncul
mengiringi
perkembangan
pesat
industri kelapa
sawit
di
Indonesia
maupun
tingkat global.
Keinginan
untuk
mengembangkan biodiesel
minyak
sawit pun tidak
luput
dari kemungkinan
timbulnya
konsekuensi
kerusakan
lingkungan.
Isu
yang paling panas
saat
ini menyangkut
keinginan
memperluas
perkebunan
kelapa
sawit untuk
menunjang
produksi
biodiesel
minyak
sawit ini
adalah
pemanfaatan hutan
tropis
dan perbatasan
Indonesia.
Belum
lagi isu
menyangkut
diperlukannya air
dalam
jumlah besar
untuk
mengembangkan komoditas
ini,
sehingga
akan
mempengaruhi
persediaan air
di masa
mendatang
jika
populasi kelapa
sawit
makin meningkat.
Ada
pula isu
mengenai
keanekaragaman
hayati yang
akan
makin
berkurang dengan
perluasan
kelapa
sawit karena
akan
terjadi
penyeragaman
tumbuhan
pada
satu daerah.
Terutama
terkait
adanya maksud
pemerintah
mengembangkan
kelapa
sawit di
Kalimantan
dan Papua yang
dinilai
masih potensial.
Dikhawatirkan
perluasan
kelapa
sawit ke
dua
wilayah di Indonesia
yang masih
cukup
besar keragaman
hayatinya
ini
akan
mencapai
daerah
konservasi, seperti
di
wilayah Heart of Borneo.
Berdasarkan
hasil
dari Konferensi
Kelapa
Sawit Internasional
yang dilaksanakan
tiap
empat tahun
ini,
disepakati pembangunan
industri
kelapa
sawit yang berkelanjutan.
Artinya,
pengembangan
industri
ini di
negara
mana pun mesti
seiring
dengan perlindungan
lingkungan
hidup.
Tetapi
mungkinkah
hal itu
dilakukan?
Menurut
Wakil
Presiden Jusuf
Kalla yang
membuka
pertemuan 15 negara
ini,
pengembangan kelapa
sawit
berkelanjutan bisa
saja
dilakukan.
Dicontohkan pemanfaatan
areal
bekas tebangan
hutan yang
sudah
rusak dan
lahan
kritis dapat
dijadikan
cara
yang bijaksana
mengembangkan
kelapa
sawit.
Otomatis
pengembangan
kelapa
sawit tidak
mesti
merusak hutan
alam
tropis primer.
Pengembangan
kelapa
sawit juga
diminta
memperhatikan aspek
keragaman
hayati,
konservasi, dan
preservasi
lingkungan.
Dikatakan
Direktur
Eksekutif
Lembaga
Riset Perkebunan
Indonesia Didiek
Hadjar
Goenadi, berbagai
isu
kerusakan lingkungan
yang kini
menghantam
perkembangan
kelapa
sawit tidak
sepenuhnya
benar.
Dia
mencontohkan
kebutuhan air
untuk
tanaman kelapa
sawit yang
dikhawatirkan
mempengaruhi
ketersediaan
sumber air
bisa
ditangani saat
ini.
Kelapa
sawit
tidak selalu
membutuhkan air
dalam
jumlah besar
karena
terbukti bisa pula
tumbuh
di lahan
gambut.
Termasuk
juga
mengenai limbah
kelapa
sawit yang seringkali
terbuang
percuma.
Peneliti
dari
Pusat Penelitian
Kelapa
Sawit (PPKS) berhasil
menciptakan
teknologi
baru
untuk mengolah
serat
dari tandan
kosong yang
biasanya
hanya
terbuang percuma.
Produk
olahan dari
serat
tersebut antara lain
kompos,
bahan pengisi
jok
mobil,
dan spring bed.
Terkait
perluasan
kebun
kelapa sawit
hingga
ke perbatasan
Indonesia-Malaysia, Didiek
mengatakan
tidak
semua lahan
di
daerah perbatasan
tersebut
bisa
ditanami kelapa
sawit.
Berdasarkan
hasil
survai kesesuaian
lahan
tahap awal
di
wilayah tersebut
hanya
sekitar 180 ribu
hektar
dari 1,8
juta
hektar yang ada, yang
potensial.
Lahan
tersebut
memanjang
sekitar 5-10 km
sepanjang
perbatasan.
Di
samping itu
sudah
ada kesepakatan
bersama
bahwa pengembangan
perkebunan
kelapa
sawit di Kalimantan
tidak
akan
menyentuh Heart of Borneo.
Dikatakannya pula,
perkebunan
kelapa
sawit ini
tidak
akan
sampai
menurunkan keanekaragaman
hayati
karena di
sela-sela
kelapa
sawit dimungkinkan
menanam
tanaman lainnya yang
sesuai
dengan karakter
lahan
dan tanaman
kelapa
sawit ini.
(iah)