kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 26 Juni 2006

 Lingkungan


Pengembangan
Kelapa Sawit di Indonesia--
Dikhawatirkan
Rusak Keragaman Hayati 

Empat hari yang lalu, Konferensi Kelapa Sawit Internasional baru saja selesai dilaksanakan di Bali. Di balik komoditi perkebunan yang kini menjadi primadona tersebut terdapat berbagai isu lingkungan hidup negatif yang menyertainya. Tetapi benarkah semua dampak negatif terhadap lingkungan yang terjadi karena pengembangan industri kelapa sawit ini tidak ada solusinya?

--------------------------

DILIHAT dari kebutuhannya, minyak sawit kini mengalami peningkatan permintaan yang cukup signifikan secara global. Pesatnya permintaan sawit ini dipicu meningkatnya permintaan crude palm oil (CPO) untuk pangan dan energi. Indonesia sebagai negara yang masih memiliki ketersediaan lahan cukup melimpah menjadi pusat perhatian investasi kelapa sawit dunia. Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia pun sudah melirik Indonesia sebagai tempat investasi pengembangan industri minyak sawit mereka. Indonesia sendiri pun sudah merencanakan akan menambah minimal dua juta hektar perkebunan kelapa sawit dalam lima tahun mendatang, termasuk

menanam sawit di perbatasan Indonesia-Malaysia.

 

Pesatnya perkembangan industri sawit sebagai opsi kebutuhan energi dan pangan dalam beberapa tahun terakhir ini memunculkan kekhawatiran kalangan pecinta lingkungan. Perluasan kebun kelapa sawit sering mendapat sorotan pemerhati lingkungan dikaitkan dengan deforestrasi dan erosi keanekaragaman hayati. Sejak beberapa bulan terakhir ini, isu kerusakan lingkungan semakin sering muncul mengiringi perkembangan pesat industri kelapa sawit di Indonesia maupun tingkat global. Keinginan untuk mengembangkan biodiesel minyak sawit pun tidak luput dari kemungkinan timbulnya konsekuensi kerusakan lingkungan.

 

Isu yang paling panas saat ini menyangkut keinginan memperluas perkebunan kelapa sawit untuk menunjang produksi biodiesel minyak sawit ini adalah pemanfaatan hutan tropis dan perbatasan Indonesia. Belum lagi isu menyangkut diperlukannya air dalam jumlah besar untuk mengembangkan komoditas ini, sehingga akan mempengaruhi persediaan air di masa mendatang jika populasi kelapa sawit makin meningkat. Ada pula isu mengenai keanekaragaman hayati yang akan makin berkurang dengan perluasan kelapa sawit karena akan terjadi

penyeragaman tumbuhan pada satu daerah. Terutama terkait adanya maksud pemerintah mengembangkan kelapa sawit di Kalimantan dan Papua yang dinilai masih potensial. Dikhawatirkan perluasan kelapa sawit ke dua wilayah di Indonesia yang masih cukup besar keragaman hayatinya ini akan mencapai daerah konservasi, seperti di wilayah Heart of Borneo.

 

Berdasarkan hasil dari Konferensi Kelapa Sawit Internasional yang dilaksanakan tiap empat tahun ini, disepakati pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan. Artinya, pengembangan industri ini di negara mana pun mesti seiring dengan perlindungan lingkungan hidup. Tetapi mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla yang membuka pertemuan 15 negara ini, pengembangan kelapa sawit berkelanjutan bisa saja dilakukan. Dicontohkan pemanfaatan areal bekas tebangan hutan yang sudah rusak dan lahan kritis dapat dijadikan cara yang bijaksana mengembangkan kelapa sawit. Otomatis pengembangan kelapa sawit tidak mesti merusak hutan alam tropis primer. Pengembangan kelapa sawit juga diminta memperhatikan aspek keragaman hayati, konservasi, dan preservasi lingkungan.

 

Dikatakan Direktur Eksekutif Lembaga Riset Perkebunan Indonesia Didiek Hadjar Goenadi, berbagai isu kerusakan lingkungan yang kini menghantam perkembangan kelapa sawit tidak sepenuhnya benar. Dia mencontohkan kebutuhan air untuk tanaman kelapa sawit yang dikhawatirkan mempengaruhi ketersediaan sumber air bisa ditangani saat ini. Kelapa sawit tidak selalu membutuhkan air dalam jumlah besar karena terbukti bisa pula tumbuh di lahan gambut. Termasuk juga mengenai limbah kelapa sawit yang seringkali terbuang percuma.

 

Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) berhasil menciptakan teknologi baru untuk mengolah serat dari tandan kosong yang biasanya hanya terbuang percuma. Produk olahan dari serat tersebut antara lain kompos, bahan pengisi jok mobil, dan spring bed.

 

Terkait perluasan kebun kelapa sawit hingga ke perbatasan

Indonesia-Malaysia, Didiek mengatakan tidak semua lahan di daerah perbatasan tersebut bisa ditanami kelapa sawit. Berdasarkan hasil survai kesesuaian lahan tahap awal di wilayah tersebut hanya sekitar 180 ribu hektar dari 1,8 juta hektar yang ada, yang potensial. Lahan tersebut memanjang sekitar 5-10 km sepanjang perbatasan. Di samping itu sudah ada kesepakatan bersama bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan tidak akan menyentuh Heart of Borneo. Dikatakannya pula, perkebunan kelapa sawit ini tidak akan sampai menurunkan keanekaragaman hayati karena di sela-sela kelapa sawit dimungkinkan menanam tanaman lainnya yang sesuai dengan karakter lahan dan tanaman kelapa sawit ini. (iah)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)