Estetika Bergeser dalam Tari Oleg
Tamulilingan
Festival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar
Terompong baru saja digelar di Tabanan. Festival ini berlangsung
semarak. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 mendatang, tari
Oleg Tamulilinan ini juga akan dilombakan. Terakhir pada Pesta
Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar, tari ciptaan I Ketut Marya atau I
Mario pada 1950-an ini juga menjadi salah satu materi lomba. Ada
apa sesungguhnya dengan tari Oleg Tamulilingan? Benarkah dalam
perjalanannya tari ini sudah mengalami pergeseran estetika?
----------
TARI
Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut
Marya alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah
ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John
Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian
Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat.
Adalah I Gusti Ayu Raka Rasmi asal Peliatan, Ubud
merupakan penari pertama yang menarikan tarian itu. Dia anggota
paling belia dalam misi kesenian yang meraih sukses besar tahun
1953, didukung Sekaa Gong Peliatan pimpinan A.A. Gede Mandera.
Belakangan, tari yang dikemas dalam gerak yang indah dan romantis
ini acap kali dipentaskan untuk resepsi perkawinan.
Seni, sebagai suatu bentuk ekspresi seniman
memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan
universal. Sesuai dengan salah satu sifat seni yakni kreatif, maka
seni sebagai kegiatan manusia selalu melahirkan kreasi-kreasi baru,
mengikuti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Demikian pula
halnya dengan tari Oleg Tamulilingan, iringan dan geraknya
mengalami perkembangan. Pada tarian ini telah terjadi pergeseran
estetika, namun tetap mencirikan tarian yang indah dan menarik.
Pergeseran estetika itu bisa berupa pembaruan
maupun perbaikan dari apa yang telah ada sebelumnya. Yang paling
awal mengalami perkembangan adalah iringan gending papeson dari
tokoh muanin Oleg tersebut. Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa
Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata,
sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada
perbendaharaan gerak tarinya.
Bagaimana sesungguhnya perkembangan itu terjadi? I
Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar
tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali,
bertutur soal itu. Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah
direvisi di hadapan I Mario -- sang pencipta Oleg, ternyata Mario
sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka
Astuti diajar tari Oleg yang "asli" gaya Mario oleh guru tari asal
Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi.
Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian
papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak
lukus -- kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan
digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka
Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah
tubuh tidak kelihatan.
Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak
baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan
lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan
badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke
samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado.
Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat
pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961.
Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah
seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri.
Dalam koreografinya, sebelum penari "kumbang jantan"
atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol
"kumbang betina" menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo.
Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan
kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.
***
DULU,
daerah Badung merupakan barometer seluruh aktivitas masyarakat,
termasuk seni tarinya. Maka muncul pula nama penari Oleg terkenal
yang juga mendapat sentuhan tangan I Mario yakni A.A. Mas Eran (alm.)
dari Sibanggede, Badung. Dia memiliki kekhasan dalam aksen-aksen
gerak tari Oleg, mungkin karena pada masa kanak-kanaknya ia pernah
menggeluti tari Galuh Arja.
Pada 1965, Raka Astuti diangkat menjadi guru tari
Oleg di Kokar Bali. Sebelumnya, karena kepiawaiannya menarikan
Oleg, dia pernah menjadi pegawai Ajen (Uril) Kodam Udayana, khusus
di bidang kesenian. Ditekankan Raka Astuti, untuk menjadi penari
Oleg, orang harus ayu, alep, dan manis. Di samping itu, yang
menjadi kunci dasar agem Oleg adalah pada bagian pinggang tulang
belakang ditekan ke depan, serta kedua siku diangkat ke atas.
Sebagai penari Oleg dia pernah melawat ke Filipina, Jepang, Italia
dan "New Yok World Fair 1964" bersama Gong Sad Merta Denpasar.
Perkembangan selanjutnya, tari Oleg style Kokar
yang diajarkan Raka Astuti menjadi populer di masyarakat. Lahirlah
kemudian para penari Oleg generasi baru yang berasal dari seluruh
Bali. Namun, patut diakui bahwa sumber gaya "asli" Oleg masih
tetap kokoh tersimpan dalam sosok Raka Rasmi ketika tampil bersama
Gong Peliatan.
Akhir-akhir ini sulit menemukan penari Oleg yang
betul-betul membawakan perannya dengan mantap karena kebanyakan
para penari masa kini menguasai lebih dari satu tarian. Mereka
sering menjadi kurang fokus. Dalam ajang Festival Gong Kebyar,
baik untuk Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar maupun PKB,
tarian Oleg Tamulilingan sudah sering dipentaslombakan. Malah,
khusus untuk PKB 2006 mendatang, tari Oleg Tamulilingan akan
digelar spesial.
Tari Oleg Tamulilingan adalah salah satu karya
masterpiece seniman Bali. Betapa tinggi sesungguhnya jasa para
seniman dalam berkreasi serta mengembangkan karya-karya seni yang
mengharumkan nama Bali. Mereka pantas dicatat dan dihargai serta
layak diberikan penghargaan seni oleh masyarakat maupun pemerintah.
* aaa
kusuma arini,
dosen ISI Denpasar