kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Juni 2006 tarukan valas
 

BERITA


Estetika Bergeser dalam Tari Oleg Tamulilingan

Festival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong baru saja digelar di Tabanan. Festival ini berlangsung semarak. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 mendatang, tari Oleg Tamulilinan ini juga akan dilombakan. Terakhir pada Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar, tari ciptaan I Ketut Marya atau I Mario pada 1950-an ini juga menjadi salah satu materi lomba. Ada apa sesungguhnya dengan tari Oleg Tamulilingan? Benarkah dalam perjalanannya tari ini sudah mengalami pergeseran estetika?

----------

 

TARI Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Marya alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat.

Adalah I Gusti Ayu Raka Rasmi asal Peliatan, Ubud merupakan penari pertama yang menarikan tarian itu. Dia anggota paling belia dalam misi kesenian yang meraih sukses besar tahun 1953, didukung Sekaa Gong Peliatan pimpinan A.A. Gede Mandera. Belakangan, tari yang dikemas dalam gerak yang indah dan romantis ini acap kali dipentaskan untuk resepsi perkawinan.

Seni, sebagai suatu bentuk ekspresi seniman memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan universal. Sesuai dengan salah satu sifat seni yakni kreatif, maka seni sebagai kegiatan manusia selalu melahirkan kreasi-kreasi baru, mengikuti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Demikian pula halnya dengan tari Oleg Tamulilingan, iringan dan geraknya mengalami perkembangan. Pada tarian ini telah terjadi pergeseran estetika, namun tetap mencirikan tarian yang indah dan menarik.

Pergeseran estetika itu bisa berupa pembaruan maupun perbaikan dari apa yang telah ada sebelumnya. Yang paling awal mengalami perkembangan adalah iringan gending papeson dari tokoh muanin Oleg tersebut. Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata, sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada perbendaharaan gerak tarinya.

Bagaimana sesungguhnya perkembangan itu terjadi? I Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali, bertutur soal itu. Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah direvisi di hadapan I Mario -- sang pencipta Oleg, ternyata Mario sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka Astuti diajar tari Oleg yang "asli" gaya Mario oleh guru tari asal Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi.

Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak lukus -- kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah tubuh tidak kelihatan.

Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado. Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961. Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri.

Dalam koreografinya, sebelum penari "kumbang jantan" atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol "kumbang betina" menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo. Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.

***

 

DULU, daerah Badung merupakan barometer seluruh aktivitas masyarakat, termasuk seni tarinya. Maka muncul pula nama penari Oleg terkenal yang juga mendapat sentuhan tangan I Mario yakni A.A. Mas Eran (alm.) dari Sibanggede, Badung. Dia memiliki kekhasan dalam aksen-aksen gerak tari Oleg, mungkin karena pada masa kanak-kanaknya ia pernah menggeluti tari Galuh Arja.

Pada 1965, Raka Astuti diangkat menjadi guru tari Oleg di Kokar Bali. Sebelumnya, karena kepiawaiannya menarikan Oleg, dia pernah menjadi pegawai Ajen (Uril) Kodam Udayana, khusus di bidang kesenian. Ditekankan Raka Astuti, untuk menjadi penari Oleg, orang harus ayu, alep, dan manis. Di samping itu, yang menjadi kunci dasar agem Oleg adalah pada bagian pinggang tulang belakang ditekan ke depan, serta kedua siku diangkat ke atas. Sebagai penari Oleg dia pernah melawat ke Filipina, Jepang, Italia dan "New Yok World Fair 1964" bersama Gong Sad Merta Denpasar.

Perkembangan selanjutnya, tari Oleg style Kokar yang diajarkan Raka Astuti menjadi populer di masyarakat. Lahirlah kemudian para penari Oleg generasi baru yang berasal dari seluruh Bali. Namun, patut diakui bahwa sumber gaya "asli" Oleg masih tetap kokoh tersimpan dalam sosok Raka Rasmi ketika tampil bersama Gong Peliatan.

Akhir-akhir ini sulit menemukan penari Oleg yang betul-betul membawakan perannya dengan mantap karena kebanyakan para penari masa kini menguasai lebih dari satu tarian. Mereka sering menjadi kurang fokus. Dalam ajang Festival Gong Kebyar, baik untuk Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar maupun PKB, tarian Oleg Tamulilingan sudah sering dipentaslombakan. Malah, khusus untuk PKB 2006 mendatang, tari Oleg Tamulilingan akan digelar spesial.

Tari Oleg Tamulilingan adalah salah satu karya masterpiece seniman Bali. Betapa tinggi sesungguhnya jasa para seniman dalam berkreasi serta mengembangkan karya-karya seni yang mengharumkan nama Bali. Mereka pantas dicatat dan dihargai serta layak diberikan penghargaan seni oleh masyarakat maupun pemerintah.

 

* aaa kusuma arini,
  dosen ISI Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com