Catatan
Pariwisata
Sepekan--------------
Kelangkaan
BBM, Kabar
Buruk
Pariwisata Bali
Antrean
panjang
di SPBU atau
pengumuman yang
menandakan
bahwa
persediaan premium dan
solar habis
telah
menjadi pemandangan
yang lazim
di Bali
dalam dua
minggu
terakhir.
Masyarakat
pun tampaknya
sudah
menganggapnya sebagai
hal
biasa, kendati
pada
awalnya sempat
timbul
kecemasan sekaligus
kekesalan.
Bagaimana
tidak,
harga premium dan
solar sudah
mendekati
harga
internasional, kok
kedua
komoditi BBM itu
masih
langka juga?
=======================================
KITA bisa
memaklumi
apa
yang dikemukakan
Pertamina
tentang
alasan keterlambatan.
Namun,
kondisi
serupa sudah
belangsung
lebih
dari dua
minggu.
Itu
perarti memang
ada
gangguan dari
proses
distribusi BBM di
Tanah Air.
Di
harian ini,
Jumat (26/5)
kemarin,
peneliti
pada
Lembaga Kebijakan
Ekonomi
dan Sosial (LKES)
Yogyakarta
Muchojin
Puji
Santoso mengingatkan
jangan
menyepelekan fenomena
tersendatnya
distribusi BBM.
Seandainya
kelangkaan BBM
ini
terus terjadi,
dikhawatirkan
akan
menguatkan
persepsi
bahwa
negeri ini
kembali
mengalami kesulitan
likuiditas
untuk
pengadaan minyak.
Kondisi
ini
tentu sangat
tidak
menguntungkan bagi
citra
Indonesia yang tengah
bersusah
payah
menjaring investor dari
luar
negeri.
Pariwisata
Bali bisa
terancam.
Bagaimana
mungkin
ketersediaan sumber
daya
minyak dan gas yang
sangat fundamental
dalam
industrialisasi menjadi
tidak
menentu di Indonesia.
Bagi
kita di
Bali, kelangkaan BBM
juga
menjadi kabar
buruk
tersendiri.
Antrean
panjang di SPBU
dan
tulisan ''bensin
habis'' yang
terjadi
hampir tiap
hari
menjadi kesan
tersendiri, yang
bila
dibiarkan
akan
merusak
citra Bali sebagai
suatu
destinasi pariwisata.
Syukurlah,
sejauh
ini memang
belum
ada keluhan
dari
organisasi angkutan
wisata,
seperti Pawiba
tentang
fenomena kelangkaan
BBM.
Juga
belum
terdengar cerita,
ada
kendaraan wisata yang
urung
beroperasi karena
tangkinya
kehabisan
bensin.
Namun,
bukan
tidak mungkin
hal itu
benar
menjadi kenyataan
kalau
kondisi seperti
belakangan
ini
terus terjadi.
Dalam
skup yang
lebih
kecil, sudah
ada
kegelisahan di
kalangan
pengelola SPBU.
Manajer
Operasional SPBU Tjok
Tresna,
Renon Gde Dharma
Susila
mengatakan, seringnya
terjadi
keterlambatan BBM
menyebabkan terjadinya
pengurangan
penjualan.
Keluhan
senada
dikemukakan Gede
Widiarsana,
pengawas SPBU
Hayam
Wuruk, Tanjung
Bungkak.
Namun,
mereka
tak bisa
menyalahkan
siapa-siapa.
"Kami
tak
bisa apa-apa.
Sebagai
rekanan
Pertamina ya...
kami
nurut saja.
Kalau
minyak
ada kami
jual.
Kalau
tidak
ada ya
mau
bagaimana," ujar
Dharma Susila.
Dia
mengaku
saat ini SPBU
tak
bisa lagi
mengambil BBM
di depo
sebanyak
sebelumnya.
Kini,
tiap
hari SPBU hanya
dijatah 16 ton per
hari.
Pengambilannya
tak
lagi di
Depo
Pesanggrahan, tetapi
langsung
ke
Manggis.
Karena
harus
melayani kebutuhan
seluruh
Bali,
antrean
panjang juga
terjadi
di Manggis.
Yang
bisa
dilakukan konsumen
hanya
bersabar dan
bersabar.
Hasil
penelurusan Bali Post,
kondisi
kelangkaan BBM ini
belum
sampai menelan
korban.
Bukan
korban
nyawa tetapi
korban
ekonomi.
Sejumlah
karyawan SPBU yang
dihubungi
terpisah
mengaku
kelangkaan BBM tak
sampai
mengganggu kerja
mereka. SPBU
Tjok
Tresna yang mempekerjakan
23 karyawan
dan SPBU
Hayam
Wuruk dengan
karyawan 18
orang,
misalnya, aktivitas
mereka
berlangsung normal, kendati
lebih
banyak waktu
untuk
istirahat.
Baik
Gede
Widiarsana maupun
Dharma Susila
sama-sama
berharap
kondisi
seperti ini
bisa
segera berlalu.
Beban
ekonomi
masyarakat jangan
sampai
diperparah lagi
oleh
ketidakbecusan sistem
pendistribusian
minyak.
Pertamina,
mempunyai
kewajiban moral,
sosial
dan ekonomis
untuk
segera menetralisir
kondisi yang
ada.
BBM,
sebagaimana sembilan
bahan
pokok (sembako)
merupakan
kebutuhan yang
tak
bisa ditunda-tunda.
Komoditi
strategis
ini
mestinya dikelola
juga
dengan ekstra
hati-hati
dan
penuh kecermatan.
Membiarkan
kelangkaan
secara
terus-menerus, di
tengah
kemelaratan sebagian
masyarakat
memendam
potensi yang
negatif.
Ujung-ujungnya
pariwisata yang
jadi
korban.
*
gregorius