kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 27 Mei 2006

 Nusantara


Kota Dili, Suatu Kenangan

KALAU Dili dianggap sebagai cerminan kondisi Timor Leste, negeri yang dipimpin Presiden Xanana Gusmao itu memang tengah dalam situasi kritis. Dua tahun lalu, Bali Post sempat mengunjungi kota yang romantis itu. Pemandangan dari Lapangan Udara Lo Bato sampai jantung kota Dili terasa memilukan. Berbagai fasilitas umum, termasuk jalan raya kurang terurus. Lubang di mana-mana.

Di jalanan memang berseliweran mobil-mobil mewah, terutama jenis ranger dan landcruser. Namun, kalau ditengok pengemudinya, kebanyakan orang asing. Mereka umumnya aparat keamanan atau sukarelawan dan eskpatriat yang berperan dalam merekonstruksi Timor Leste pascakemerdekaan. Warga lokal umumnya mengalami kesulitan ekonomi, karena lapangan pekerjaan sangat terbatas.

Hampir 80 persen kebutuhan pokok dipasok dari luar negeri, termasuk dari Indonesia. Abraham Living Taning, salah seorang pengusaha setempat, saat itu mengungkapkan sembako banyak dipasok dari Surabaya dan Kupang. Karena pajaknya besar, harganya jauh lebih mahal. Maklum transaksi bisnis di Timor Leste menggunakan mata uang dolar AS dan centrapos -- untuk pecahan di bawah satu dolar AS.

Kehidupan sosial warga asing dengan penduduk lokal sangat kontras. Para ekspatriat yang umumnya tenaga sukarelawan PBB tinggal di hotel-hotel yang terbilang mewah untuk ukuran masyarakat setempat. Salah satunya adalah Hotel Central Maritime, sebuah penginapan terapung dari bekas kapal laut milik pengusaha Thailand. Kapal penumpang berbobot lebih dari 200 ton yang tahun 1990-1993 beroperasi di Myanmar itu sempat berubah menjadi hotel berbintang yang paling favorit di kota Dili.

Hotel Central Maritime menjadi tempat menginap yang favorit. Maklum letaknya di laut, sekitar 100 meter dari bibir pantai Nitiau, Dili. Kendati berada di tengah laut, hotel ''kapal'' dengan kapasitas 130 kamar (room) itu tampak kokoh. Selama dua malam menginap di sana, Bali Post tak merasakan sedikit pun guncangan. Dari 130 kamar; 100 di antaranya disewakan kepada para tamu yang umumnya orang asing.

Bangunan-bangunan milik pemerintah sangat sederhana. Sebagian besar memanfaatkan peninggalan Indonesia, walau harus direhab karena sempat berantakan selama perang saudara. Presiden Xanana sendiri tampaknya ingin merasakan apa yang dirasakan sebagian besar masyarakatnya. Sehari-hari bekas pejuang yang pernah dipenjarakan pemerintah RI itu berpenampilan sederhana. Ketika itu, dia "hanya" menggunakan mobil jenis Taruna.

Xanana selalu mengingatkan warganya bahwa dalam situasi darurat di mana keuangan negara masih morat-marit, seluruh warga harus mengencangkan ikat pinggang. Negara donatur tentu tak bisa terus-menerus memberikan hibah. Sebagai negara baru, Timor Leste memang sangat membutuhkan kehadiran investor. Hanya dengan kehadiran investor, lapangan usaha bisa dibuka dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian warga.

Namun, syaratnya stabilitas keamanan di Timor Leste haruslah terjamin. Sayangnya, dalam beberapa minggu terakhir Timor Leste kembali dicekam peperangan, menyusul pemecatan atas 600 personel militer beberapa bulan lalu. Bahkan, karena situasi makin sulit terkendali, Xanana terpaksa mengundang tentara Australia. Hal ini akan makin menjauhkan negeri ini dari cita-cita kesejahteraan yang mereka impikan bersama. Namun, semua berharap kondisi ini cepat pulih. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)