Kota Dili,
Suatu
Kenangan
KALAU
Dili
dianggap sebagai
cerminan
kondisi Timor
Leste,
negeri yang dipimpin
Presiden
Xanana
Gusmao itu
memang
tengah dalam
situasi
kritis. Dua
tahun
lalu, Bali Post sempat
mengunjungi
kota
yang romantis
itu.
Pemandangan dari
Lapangan
Udara Lo
Bato
sampai jantung
kota
Dili
terasa memilukan.
Berbagai
fasilitas
umum,
termasuk jalan
raya
kurang terurus.
Lubang
di
mana-mana.
Di
jalanan
memang berseliweran
mobil-mobil
mewah,
terutama jenis ranger
dan
landcruser.
Namun,
kalau
ditengok pengemudinya,
kebanyakan
orang
asing.
Mereka
umumnya
aparat keamanan
atau
sukarelawan dan
eskpatriat yang
berperan
dalam
merekonstruksi Timor Leste
pascakemerdekaan.
Warga
lokal
umumnya mengalami
kesulitan
ekonomi,
karena
lapangan pekerjaan
sangat
terbatas.
Hampir
80 persen
kebutuhan
pokok
dipasok dari
luar
negeri, termasuk
dari Indonesia.
Abraham Living Taning,
salah
seorang pengusaha
setempat,
saat
itu mengungkapkan
sembako
banyak dipasok
dari Surabaya
dan
Kupang.
Karena
pajaknya
besar,
harganya jauh
lebih
mahal.
Maklum
transaksi
bisnis
di Timor Leste
menggunakan
mata
uang dolar AS
dan
centrapos -- untuk
pecahan
di bawah
satu
dolar AS.
Kehidupan
sosial
warga asing
dengan
penduduk lokal
sangat
kontras.
Para
ekspatriat yang
umumnya
tenaga sukarelawan
PBB tinggal
di hotel-hotel yang
terbilang
mewah
untuk ukuran
masyarakat
setempat.
Salah
satunya
adalah Hotel Central Maritime,
sebuah
penginapan terapung
dari
bekas kapal
laut
milik pengusaha
Thailand.
Kapal
penumpang berbobot
lebih
dari 200 ton yang tahun
1990-1993 beroperasi
di Myanmar
itu
sempat berubah
menjadi hotel
berbintang yang paling
favorit
di
kota
Dili.
Hotel Central Maritime menjadi
tempat
menginap yang favorit.
Maklum
letaknya
di laut,
sekitar 100 meter
dari
bibir pantai
Nitiau,
Dili.
Kendati
berada
di tengah
laut, hotel ''kapal''
dengan
kapasitas 130 kamar
(room) itu
tampak
kokoh. Selama
dua
malam menginap
di
sana,
Bali Post tak
merasakan
sedikit pun
guncangan.
Dari 130 kamar;
100 di
antaranya disewakan
kepada
para tamu yang
umumnya
orang asing.
Bangunan-bangunan
milik
pemerintah sangat
sederhana.
Sebagian
besar
memanfaatkan peninggalan
Indonesia,
walau
harus direhab
karena
sempat berantakan
selama
perang saudara.
Presiden
Xanana
sendiri tampaknya
ingin
merasakan
apa yang
dirasakan
sebagian
besar
masyarakatnya.
Sehari-hari
bekas
pejuang yang pernah
dipenjarakan
pemerintah RI
itu
berpenampilan sederhana.
Ketika
itu,
dia "hanya"
menggunakan
mobil
jenis Taruna.
Xanana
selalu
mengingatkan warganya
bahwa
dalam situasi
darurat
di mana
keuangan
negara
masih morat-marit,
seluruh
warga harus
mengencangkan
ikat
pinggang.
Negara donatur
tentu
tak bisa
terus-menerus
memberikan
hibah.
Sebagai
negara
baru, Timor Leste
memang
sangat membutuhkan
kehadiran investor.
Hanya
dengan
kehadiran investor, lapangan
usaha
bisa dibuka
dan
memberikan multiplier effect
bagi perekonomian
warga.
Namun,
syaratnya
stabilitas
keamanan
di Timor
Leste
haruslah terjamin.
Sayangnya,
dalam
beberapa minggu
terakhir Timor
Leste
kembali dicekam
peperangan,
menyusul
pemecatan
atas 600
personel
militer
beberapa bulan
lalu.
Bahkan,
karena
situasi makin
sulit
terkendali, Xanana
terpaksa
mengundang
tentara
Australia.
Hal ini
akan
makin
menjauhkan negeri
ini
dari cita-cita
kesejahteraan yang
mereka
impikan bersama.
Namun,
semua
berharap kondisi
ini
cepat pulih.
(gre)