kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 27 Mei 2006

 Kultur


Anak-anak Belajar Puisi dari Iklan
 

DI tengah ''industri kebudayaan'' (Horkheimer dan Adorno), ''industri kesadaran'' (Enzensberger), ''industri ilusi'' atau ''industri pengalih perhatian'' (Haug), puisi dan karya-karya sastra, disadari ataupun tidak, sedang digusur dengan ''estetika konsumsi''. Ruangan keluarga telah betul-betul dihimpit oleh TV yang hampir setiap 12 menit menayangkan iklan. Puisi tak punya tempat di siaran TV. Anak-anak memasuki ''dunia kata'' lewat bujuk rayu iklan. Susunan kalimat yang utuh yang bisa disusun oleh seorang anak kecil tidak jarang berasal dari celetukan iklan.  

Anak-anak juga belajar ''puisi'' dari iklan. Sebuah iklan bisa lebih ''puitik'' daripada sebuah puisi pemenang sebuah lomba puisi bergengsi. Sebuah ajakan berbelanja bisa lebih canggih dalam diksi dan bentukan kalimatnya dibanding sebuah puisi. Namun, ini bukan kabar gembira. Maka kata, tidak jarang, oleh anak-anak pertama-tama dipahami dalam konteksnya sebagai alat yang berfungsi untuk membujuk seseorang, terutama untuk berbelanja.

 

Seandainya basa mereka sadari pertama-tama sebagai alat transaksi dan sarana periklanan, dalam masa yang paling dini kehidupan seseorang, secara kognitif ia telah dijatuhkan ke dalam kepalsuan. Pemahamannya terhadap kata (dan bahasa) bukan lagi sebagai sarana untuk memahami kedalaman kemanusiaannya, tetapi sarana transaksi, baik yang menyangkut untung-rugi emosional maupun finansial. Inilah agenda ''estetika komersial''.

 

Estetika konsumsi atau estetika komoditas (seperti apa yang dirumuskan Wolfgang Fritz Haug dalam ''Critique Commodity Aesthetics: Appearance, Sexua1iy and Advertising in Capitalist Society'' 1986) meliputi janji kebahagian yang direkayasa oleh para pengiklan melalui konsumsi citra-citra yang menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan sensualitasnya.

 

Konsep itu mendeskripsikan cara-cara estetika diintegrasikan ke dalam produksi, distribusi dan pemasaran komoditas secara lebih spesifik, estetika komoditas mengacu pada ''suatu keindahan yang dikembangkan untuk membantu penwujudan nilai tukar, dengan cara itu komoditas-komoditas dirancang untuk merancang di dalam diri para penonton keinginan untuk memiliki dan dorongan kuat untuk membeli'' (Haug 1986, h.8). Dengan kata lain, estetika komoditas menggunakan estetika untuk menjual produk dan kapitalisme konsumen dalam bentuk iklan, pengemasan, pemasaran dan pameran.

 

Estetika komoditas membentuk nilai-nilai, persepsi-persepsi dan tingkah laku konsumen daripada individu dalam masyarakat kapitalis kontemporer sehingga mengintegrasikannya dalam gaya hidup kapitalisme. Estetika (termasuk kekuatan puitika kata dan visual) dikemas untuk menjadi hamba sahaya yang berbaris untuk memanipulasi, menjadi kekuatan yang mampu memancing hasrat terdalam kita untuk membeli produk yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan oleh individu-individu, seakan akan hidup yang baik bisa diperoleh dengan jalan mengkonsumsi sebanyak mungkin.

 

Dalam tiga tahun terakhir, di negeri kita ini hampir setiap dua kali sebulan berbagai merek telepon genggam meluncurkan produk terbarunya dengan ''inovasi estetika''; sehingga telepon yang lainnya, yang baru hanya terpakai satu bulan sudah terasa usang.  Inilah yang disebut sebagai ''keusangan yang direncanakan''. Kehidupan terasa tak bergerak tanpa fesyen, yang memberi ilusi yang menipu, dan jika kita tak mengikutinya, kekuatan estetika komoditas itu membuat kita merasa ada yang salah dengan kehidupan kita, seakan membeku tanpa mengikuti fesyen. ''Penampakan selalu menjanjikan lebih banyak dan lebih banyak lagi dan pada yang dapat diberikannya. Dengan cara ini ilusi menipu'' (Haug 1986, h. 50).

 

Baudrillard (1970) juga melihat bagaimana estetika komoditas mempengaruhi individu untuk menginginkan atau membeli produk tertentu, ia merumuskan hal ini sebagai ''ekonomi politik tanda'' yang membuat individu-individu terintegrasikan ke dalam masyarakat konsumen. Bagaimana deskripsi Haug mengenai bagaimana pencakupan estetika dalam iklan, pengemasan, pemajangan dan lain-lain senada dengan analisis Baudrillard mengenai bagaimana ''keambrukan'' estetika dan komodifikasi dalam masyarakat kapitalis kontemporer memberikan estetika komoditas dan suatu komodifikasi seni dan estetika. Fenomena ini tentu saja jelas dalam iklan yang memanfaatkan teknik estetika yang paling maju untuk menjual komoditas dan mempromosikan konsumsi sebagai suatu cara hidup (Keller, 2004).

 

Industri ilusi itu demikian kuat memberangus kehidupan kita. Demi fesyen dan penampakan luar (bergaya trendy), kalau dihitung mungkin jutaan karyawan dan ibu rumah tangga rela berutang. Koran-koran memberitakan keberanian siswa-siswa mencuri sepeda motor atau HP temannya. Hasrat yang ditiupkan estetika komersial menjadi ''pematik'' tindakan-tindakan yang ''tidak proporsional'' itu.

 

Denpasar ataupun kota-kota lainnya di seluruh dunia, penduduknya sedang menghadapi ''realitas'' yang sama. Realitas kehidupan hari ini adalah manusia dibujuk oleh hasratnya untuk menenggelamkan diri dalam nama-nama merek dagang dan berkompetisi dalam citra-citra yang ditimbulkannya. Industri iklan yang sedemikian cerdas-bahaya, meringkas ceramah pemasaran yang panjang dalam bentuk visual yang melintas di televisi dalam hitungan detik, sebuah pemrograman tubuh yang sangat efektik, dan hidup dirancang menjadi fesyen yang mampu menutupi hasrat sensualitas manusia (khususnya anak muda).

 

Kehidupan bukan lagi persoalan untuk mencapai keteguhan batinah, namun telah termakan kesibukan berkonsumsi yang dimotori oleh iklan dengan berbagai teknik-teknik industri ilusi atau pengalih perhatian.

 

Apakah ada ruang tersisa bagi puisi atau sajak? Dalam dunia yang ditutupi oleh bayang-bayang industri ilusi masih ada ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh estetika konsumsi (kapitalisme). Ruang-ruang itu, dalam pandangan Haug, hanya dapat diisi oleh sosialisme (1986, h.121-22). Dalam hal ini tentu tidak semua orang sepakat dengan Haug.

 

Ruang-ruang kosong itu adalah peluang bagi semua kemungkinan kreativitas dan penggalian manusia, bukan hanya hanya monopoli isme tertentu. Ruang itu terbuka untuk semua sisi kemanusiaan kita yang tidak mengabdi kepada pengukuhan konsumsi sebagai jalan terbaik yang harus ditempuh untuk mencapai ''hidup yang baik''. Pada ruang inilah puisi punya kemungkinan untuk turut memberi andil pada peradaban.

 

Konsumsi menyibukkan kehidupan kita untuk berurusan dengan penampakan luar dan ilusi, lupa pada nilai-nilai batiniah; puisi memberikan kita kesempatan melihat ke dalam diri, merenung untuk menghayati kemanusiaan kita untuk terlepas dari segala ilusi dan ''tempelan merek''.

 

Puisi-puisi pada abad ini harus mampu merebut ruang-ruangan kosong itu. Puisi semakin banyak dilahirkan di abad ini semakin baik, karena ia lahir untuk tidak membiarkan ''estetika komoditas'' hidup tanpa pesaingan. Kesadaran inilah yang harus dibangun untuk tetap menulis dan mempublikasikan puisi dan karya-karya sastra, karena membiarkan ''estetika komoditas'' tumbuh liar tanpa kehadiran puisi dan sastra adalah sama artinya membiarkan modal mengkolonisasi kebudayaan dan kehidupan sehari-hari kita, sama artinya membiarkan estetika (semata-mata) menjadi hamba untuk mendukung konsumsi. 

* Sugi Lanus,
budayawan, pemerhati sastara dan masalah sosial
tinggal di Lombok

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)