Pelinggih
Ratu
Panji di
Purasada
Berkenaan
dengan
berita Bali Post 11 Mei
2006, dengan
judul ''Piodalan
di
Purasada'' antara
lain
disebutkan bahwa
di
dalam kawasan
pura
tersebut pelinggih
Ratu Made
dan
Ratu Panji
Sakti.
Menurut
Babad
Mengwi yang disebut
Ratu
Panji adalah I
Gusti
Agung Ratu
Panji.
Beliau
adalah
putra dari I
Gusti
Agung Ngurah Made
Agung (Batara
Sakti
Belambangan), pendiri
Kerajaan
Mengwi,
hasil perkawinan
dengan I
Gusti
Ayu Panji (putri
I Gusti
Ngurah Panji
Sakti, Raja
Buleleng).
Di
samping
itu, Agung
Ratu
Panji memiliki
saudara
kandung bernama I
Gusti
Agung Ketut
Buleleng.
Titel
I Gusti
Agung mengikuti
gelar
ayahnya, sedangkan
Panji
dan Buleleng
identitas
ibunya.
Setelah
dewasa I
Gusti
Agung Ratu
Panji
ditetapkan sebagai
putra
mahkota calon
pengganti raja,
sedangkan I
Gusti
Agung Ketut
Buleleng
ditempatkan
di
Muncan Kapal
mewilayani
Kapal,
Sempidi, Tegal
dan
Anggungan.
Sedangkan
putra Raja
Mengwi
lainnya ada
ditempatkan
di
Munggu, Sayan,
Kengetan,
Singosari, (Blahkiuh),
Penarungan
dan lain-lain.
Pada
tahun 1713 M,
terjadi
konflik antara
Mengwi
dan Kerajaan
Sukawati.
Konflik
diatasi
dengan perang
bertempat
di
perbatasan timur
Kerajaan
Mengwi.
Tempatnya
di
kawasan Wahem
Desa Bun (Sedang).
Mengwi
dipimpin oleh
putra
mahkota I Gusti
Agung
Ratu Panji,
dibantu
oleh Kiayi
Tambak,
putra Kiayi
Ngurah
Tangeb, patih
Mengwi
dan sejumlah
prajurit.
Bnyak
korban
jatuh di
kedua
pihak. I Gusti
Agung
Ratu Panji,
Kiayi
Tambak beserta
prajurit yang
setia
gugur di
medan
perang.
Setelah dilaksanakan
pelebon
dan penileman
di
pusat Kerajaan
Mengwi (Bekak),
beliau
kemudian dibuatkan
pelinggih/pengarcanan
di
kompleks Pura
Sada
Kapal, sedangkan
perwira
dan prajurit yang
setia
dibuatkan pelinggih
Satia
di depan
pengarcanan
beliau.
Di
lokasi
pertempuran beliau
juga
dibuatkan pengarcanan
dikenal
dengan Pura
Padekdekan.
Beliau
disebut
Batara Panji
Lumahing
Padekdekan.
Menurut
Henk
Sckulte Nordholt
dalam
bukunya ''The Spell of Power''
halaman 29, I
Gusti
Agung Ratu
Panji
juga dibuatkan
pengarcanan
di
Saren Kangin
Puri
Belayu (bekas
puri
kuno Mengwi
sebelum
pindah ke
puri (Bekak)
Kaleran/Mengwi.
I Gusti
Agung
Ngurah Made Agung,
Raja Mengwi I,
wafat
pada tahun 1722.
Setelah
Pitra
Yadnya kemudian
beliau
dibuatkan pengarcanan
di Pura
Sada
Kapal, dipuja
sebagai
Ratu Made atau
Batara
Sakti Belambangan.
A.A. Gde
Putra
Wiadnyana
Jl.
Sri Karya No. 12
Denpasar