Orasi
Hentikan Pembodohan
Berbagai langkah mulai dilakukan sejumlah tokoh
menjelang Pilkada Buleleng. Hal itu tampak dari
persaingan pada pemilihan ketua partai. Mereka tak hanya
mewarnai pemilihan ketua partai di Buleleng, juga di
Bali.
Pemilihan ketua partai itu pun sempat diwarnai saling
sikut, saling serang, bahkan saling tipu di antara
mereka. Kasus menarik adalah dipermalukannya
seorang birokrat oleh parpol tertentu untuk meraih tiket
kursi pimpinan partai tersebut. Hal ini menambah
hangatnya suasana politik di bumi Panji Sakti ini.
Kalau lolos, tentu akan sangat berarti bagi tokoh
tersebut untuk meraih tiket kursi kekuasaan.
Persoalannya menjadi menarik lantaran dia tak hanya
tersisih di satu parpol. Kekalahan oknum birokrat
tersebut berimbas pada pencalonannya di parpol lain.
Golkar melalui Wakil Ketua DPD Partai Golkar Bali Nyoman
Sugawa Korry terang-terangan menyatakan tokoh tersebut
bukan kader Golkar. Itu terbukti dari pencalonannya di
partai lain. Itu berarti tokoh tersebut diragukan
keindependenannya sebagai syarat masuk konvensi. Secara
tak langsung, upaya tersebut juga bermaksud menghadang
laju tokoh tersebut untuk bersaing pada Konvensi Golkar.
Akankah habis perjalanan politik tokoh tersebut setelah
dipermalukan oleh dua parpol? Banyak yang memprediksikan
belum. Ketua Fraksi Kerta Mandala DPRD Bali Ketut Rudis,
S.H. menyatakan tokoh itu belum habis karena yang
bersangkutan incumbent. Artinya, tokoh tersebut masih
menempati posisi penting di eksekutif. Rudis melihat
peluang tokoh itu pada parpol gurem. Ada empat parpol
yang berpeluang menampilkan calonnya. Selain PDI-P dan
Golkar, juga gabungan partai-partai kecil yang
kemungkinan bisa menelorkan dua paket calon. Dari
sinilah tokoh itu muncul. Penasihat PNI-Marhenisme Bali
ini menyatakan soal tipu-menipu dan saling mempermalukan
tokoh dalam politik, sah-sah saja. Namun, jarang
terungkap ke permukaan. Persoalannya menjadi menarik,
ketika tokoh birokrat itu berani secara lugu
menyampaikannya ke publik.
Namun ke depan, etika berpolitik mesti dikedepankan.
Sudah saatnya parpol-parpol menghentikan pembodohan
terhadap rakyat. Seolah parpol hanya bisa berebut kursi
dan bagaimana mempertahankan kekuasaan. Peranan parpol
tak lagi sedominan dulu ketika anggota Dewan menentukan
kepala daerahnya. Parpol hanya melahirkan pasangan calon
kepala daerah. Itu pun kalau suaranya 15 persen atau
lebih pada pemilu lalu. Selebihnya penampilan figur
lebih menentukan. ''Ya... banyak pertimbangan mesti
diperhatikan. Misalnya kemampuan finansial,
kebersihannya, kemampuan berkomunikasi serta jaringannya
ke lapisan masyarakat bawah,'' katanya. Sentuhan kepada
masyarakat penting karena merekalah yang paling
menentukan dalam pilkada. Hanya, dia menyayangkan
motivasi mereka lebih mengedepankan nonideologis.
Bagaimana memperjuangkan peningkatan kesejahteraan
rakyat menyeluruh bukan individu. Padahal dalam kondisi
ekonomi rakyat Buleleng yang carut-marut saat ini, hal
itu mesti ditonjolkan.
Diakui, dalam kondisi kemiskinan rakyat yang masih
menonjol, permainan uang sangat mudah ditemukan di
kalangan masyarakat bawah. Hanya bentuk perhatiannya
beragam. Mulai dari bantuan langsung kepada
pemilih sampai bantuan tak langsung untuk perbaikan
balai subak atau pengaspalan jalan. Mereka rajin
menyumbang dan datang ke masyarakat walaupun sekadar
bergotong royong. Pendekatan tokoh tersebut sudah
dilakukan jauh sebelum pilkada. Paling tidak mereka
sudah bisa mempetakan secara kasar kekuatannya di
masyarakat sebagai bahan pertimbangan maju atau tidak
dalam pilkada. Inilah yang dilakukan saat ini para tokoh
tersebut.
Ke depan dalam menuju pilkada yang lebih baik, mestinya
ada formulasi yang lebih jelas dalam aturan main
berkaitan upaya mensejahterakan rakyat ini. Tak terkesan
manuver para calon dan parpol itu hanya berorientasi
kepada upaya mencari dan mempertahankan kekuasaan.
(sua)