kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 26 Mei 2006

 Mimbar Islam


Nasib
dan Kambing Hitam 

Innallaaha laayughayyiru maabiqaumin hattaa yughayyiruu maabianfusihim.

DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar seseorang atau sekelompok orang menyalahkan nasib, atau ada juga yang menyebutnya takdir, kendati keduanya tidak sama. Lazimnya, "usaha" menyalahkan nasib itu dilontarkan saat dirinya menghadapi suatu kondisi yang tidak mengenakkan, seperti kemiskinan, kecelakaan dan semacamnya.

Nasib, memang tidak jarang dijadikan kambing hitam, apakah untuk "sekadar menghibur diri", atau asal bisa menyalahkan pihak lain di luar diri sendiri atau kelompoknya.

Tentu saja sikap mengkambinghitamkan nasib (keadaan), maupun menyalahkan pihak lain, tidak akan pernah bisa menyelesaikan problem yang sedang dihadapi.

Yang justru perlu dicermati dengan seksama adalah, mengapa keadaan (yang tidak mengenakkan) itu menimpa diri kita? Jika  cermat, tentu akan dapat menemukan kesalahan kita. "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahanmu sendiri," (Q.S. an-Nisa [4]: 79).

Kata 'mu' yang dimaksud, bisa berarti diri kita secara pribadi, bisa juga bermakna sekelompok orang, bahkan bisa pula suatu bangsa. Ayat itu mengingatkan kita bahwa keadaan yang tidak mengenakkan itu terjadi lantaran kesalahan diri kita sendiri.       

Maha Suci Allah yang dalam genggaman-Nyalah terdapat segala yang baik dan Allah SWT tidak akan menganiaya hamba-Nya. Karena itu, jelas salah kaprah apabila kita menyalahkan nasib.

Tentu saja kita tidak layak berputus asa manakala tertimpa suatu keadaan yang tidak mengenakkan, apa pun wujudnya. Sepanjang kita mau berupaya mengubah keadaan (nasib) yang tidak mengenakkan itu, niscaya Allah SWT akan memperbaiki kondisi kita sebagaimana yang ditegaskan pada ayat yang dikutip untuk mengawali Mimbar ini, artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri," (Q.S. ar-Ra'd [13]: 11).

Begitupun kita sebagai bangsa, manakala tidak berusaha mengubah penyebab dari keterpurukan yang terjadi, maka keadaan yang sangat memprihatinkan itu akan tetap berlangsung, bahkan bukan tidak mungkin akan semakin parah.

Rusaknya akhlak, diyakini sebagai penyebab utama keterpurukan kita sebagai bangsa. Keyakinan ini tentu saja didukung fakta-fakta yang gamblang. Maraknya penyalahgunaan narkoba, kian leluasanya peredaran minuman keras, gencarnya pembalakan hutan yang menggunduli permata hijau katulistiwa ini, dan bukti-bukti kerusakan akhlak lainnya yang menyuburkan kemaksiatan, bisa dengan mudah disaksikan, termasuk melalui media massa.

Kerusakan akhlak itu diperparah pula dengan banyaknya kasus-kasus korupsi, yang membuat Transparancy Internasional, dalam beberapa tahun terakhir tetap menempatkan Indonesia sebagai "jawara" dalam hal banyaknya kasus-kasus korupsi di antara sekian banyak negara yang ada di muka bumi ini.

Ihwal keterpurukan negeri ini beserta fakta-fakta penyebab keterpurukan itu, telah diisyaratkan oleh Alquran: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi," (al-A'raaf [7]: 96).

Bagaimana mungkin keadaan yang tidak mengenakkan itu (keterpurukan) dapat diperbaiki, apabila keimanan dan ketaatan kita tidak pula diperbaiki, atau kemaksiatan dan kerusakan akhlak tetap saja tejadi?

Meneliti, menyadari kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu banyak mohon ampun dan bertobat, seraya berusaha memperbaiki keimanan dan ketaatan kita yang berujung pada perbaikan akhlak, betapapun adalah suatu solusi yang telah disediakan pemilik dan penguasa mutlak alam semesta ini: Allah SWT.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)