Nasib
dan
Kambing Hitam
Innallaaha
laayughayyiru
maabiqaumin
hattaa
yughayyiruu maabianfusihim.
DALAM
kehidupan
sehari-hari,
kita
sering mendengar
seseorang
atau
sekelompok orang
menyalahkan
nasib,
atau ada
juga yang
menyebutnya
takdir,
kendati keduanya
tidak
sama.
Lazimnya,
"usaha"
menyalahkan nasib
itu
dilontarkan saat
dirinya
menghadapi suatu
kondisi yang
tidak
mengenakkan, seperti
kemiskinan,
kecelakaan
dan
semacamnya.
Nasib,
memang
tidak jarang
dijadikan
kambing
hitam, apakah
untuk "sekadar
menghibur
diri",
atau asal
bisa
menyalahkan pihak
lain di
luar diri
sendiri
atau kelompoknya.
Tentu
saja
sikap mengkambinghitamkan
nasib (keadaan),
maupun
menyalahkan pihak
lain, tidak
akan
pernah
bisa menyelesaikan
problem yang sedang
dihadapi.
Yang justru
perlu
dicermati dengan
seksama
adalah, mengapa
keadaan (yang
tidak
mengenakkan) itu
menimpa
diri kita?
Jika
cermat,
tentu
akan dapat
menemukan
kesalahan
kita. "Apa
saja
nikmat yang kamu
peroleh
adalah dari Allah,
dan apa
saja
bencana yang menimpamu,
maka
dari kesalahanmu
sendiri," (Q.S. an-Nisa
[4]: 79).
Kata
'mu' yang
dimaksud,
bisa
berarti diri
kita
secara pribadi,
bisa
juga bermakna
sekelompok
orang,
bahkan bisa pula
suatu
bangsa.
Ayat
itu
mengingatkan kita
bahwa
keadaan yang tidak
mengenakkan
itu
terjadi lantaran
kesalahan
diri
kita sendiri.
Maha
Suci Allah yang
dalam
genggaman-Nyalah terdapat
segala yang
baik
dan Allah SWT tidak
akan
menganiaya
hamba-Nya.
Karena
itu,
jelas salah
kaprah
apabila kita
menyalahkan
nasib.
Tentu
saja
kita tidak
layak
berputus asa
manakala
tertimpa
suatu
keadaan yang tidak
mengenakkan,
apa
pun wujudnya.
Sepanjang
kita
mau berupaya
mengubah
keadaan (nasib)
yang tidak
mengenakkan
itu,
niscaya Allah SWT
akan
memperbaiki
kondisi
kita sebagaimana yang
ditegaskan
pada
ayat yang dikutip
untuk
mengawali Mimbar
ini,
artinya: "Sesungguhnya
Allah tidak
akan
mengubah keadaan
suatu
kaum, sehingga
mereka
mengubah keadaan yang
ada
pada diri
mereka
sendiri," (Q.S. ar-Ra'd
[13]: 11).
Begitupun
kita
sebagai bangsa,
manakala
tidak
berusaha mengubah
penyebab
dari
keterpurukan yang terjadi,
maka
keadaan yang sangat
memprihatinkan
itu
akan
tetap
berlangsung, bahkan
bukan
tidak mungkin
akan
semakin parah.
Rusaknya
akhlak,
diyakini sebagai
penyebab
utama
keterpurukan kita
sebagai
bangsa.
Keyakinan
ini
tentu saja
didukung
fakta-fakta yang
gamblang.
Maraknya
penyalahgunaan
narkoba,
kian
leluasanya peredaran
minuman
keras, gencarnya
pembalakan
hutan yang
menggunduli
permata
hijau katulistiwa
ini,
dan bukti-bukti
kerusakan
akhlak
lainnya yang menyuburkan
kemaksiatan,
bisa
dengan mudah
disaksikan,
termasuk
melalui media
massa.
Kerusakan
akhlak
itu diperparah pula
dengan
banyaknya kasus-kasus
korupsi, yang
membuat
Transparancy Internasional,
dalam
beberapa tahun
terakhir
tetap
menempatkan Indonesia
sebagai "jawara"
dalam
hal banyaknya
kasus-kasus
korupsi
di antara
sekian
banyak negara yang
ada di
muka
bumi ini.
Ihwal
keterpurukan
negeri
ini beserta
fakta-fakta
penyebab
keterpurukan
itu,
telah diisyaratkan
oleh
Alquran: "Jikalau
sekiranya
penduduk
negeri-negeri
beriman
dan bertakwa,
pastilah
Kami
akan melimpahkan
kepada
mereka berkah
dari
langit dan
bumi," (al-A'raaf
[7]: 96).
Bagaimana
mungkin
keadaan yang tidak
mengenakkan
itu (keterpurukan)
dapat
diperbaiki, apabila
keimanan
dan
ketaatan kita
tidak pula
diperbaiki,
atau
kemaksiatan dan
kerusakan
akhlak
tetap saja
tejadi?
Meneliti,
menyadari
kesalahan
dan
dosa-dosa yang telah
kita
perbuat, lalu
banyak
mohon ampun
dan
bertobat, seraya
berusaha
memperbaiki
keimanan
dan
ketaatan kita yang
berujung
pada
perbaikan akhlak,
betapapun
adalah
suatu solusi yang
telah
disediakan pemilik
dan
penguasa mutlak
alam
semesta ini: Allah
SWT.