Penyelesaian
Soal UN SMP
Diduga ''Malpraktik''
Mataram
(Suara NTB) -
Upaya
memenuhi
kelulusan
siswa yang
tinggi
dalam Ujian
Nasional (UN) SMP,
ditengarai
dimanfaatkan
sekelompok
oknum
sekolah untuk
melakukan ''malpraktik''
berupa
memberikan jawaban
kepada
peserta. Kadis
Pendidikan Kota
Mataram, Drs. H.
Lalu
Syafi'i, bahkan
menegaskan
sinyalemen yang
menyebutkan
bahwa
membisiki siswa
dengan
jawaban yang benar
agar peserta UN
bisa lulus,
bukan
komitmen Kota Mataram.
Keterangan
yang dihimpun
Suara NTB
Kamis (25/5)
kemarin,
seorang guru
merasa
risih dengan
kondisi UN SMP.
''Aku
ngawas
ujian SMP.
Beberapa
guru mendekati
aku,
menyuruh membisiki
untuk
memberitahu nomor
soal
ujian.
Katanya
ini
komitmen Kota Mataram.
Wah,
sedih
aku.
Mengapa
kita
malu, takut
nilai
anak jelek.
Pendidikan
ketidakjujuran
sudah
ditanamkan sejak
dini.
Apa
jadinya
calon pemimpin
masa
depan bangsa
bekas
jajahan ini...''
Pernyataan
yang dikemukakan guru yang
juga
pengawas SMP kepada
Suara NTB
lewat SMS, 23
Mei
lalu itu,
setelah
ditanyakan langsung
kepada
salah seorang
siswa,
ternyata ada
benarnya.
Menurut
peserta UN
di
sebuah SMP tersebut,
guru dan
pengawas
memberikan
jawaban
soal-soal UN. Bahkan
dalam
mengerjakan soal
mereka
saling bekerja
sama.
Itulah
sebabnya,
siswa
tersebut mengaku
yakin
bisa lulus.
''Semuanya
bekerja
sama karena
pengawas
juga
memberikan jawaban,''
lanjutnya
seraya
menyebutkan, ada
peserta yang
menerima
jawaban
soal via handphone.
Lalu
Syaf'i'i
yang dikonfirmasi
membantah
tengarai yang
menyebutkan Kota
Mataram
punya komitmen
meluluskan
siswa
sebanyak-banyaknya dengan
cara
melakukan ''malpraktik''.
''Kalau
komitmen UN
di Kota
Mataram secara
objektif
itu
benar.
Tetapi
kalau guru
memberitahukan
jawaban
kepada siswa,
itu
tidak benar,''
tegasnya.
Ia
mengatakan,
akan
mengusut kasus
itu
jika benar
terjadi.
Apakah
itu bisa
terjadi
karena persaingan
antar-sekolah yang
menginginkan
siswanya
lulus sebanyak-banyaknya?
Syafi'i
mengemukakan, ada
tim
independen yang
telah
mengawasi UN di
tiap
tempat ujian.
Karena
itulah,
ia menunggu
laporan
dari tim
independen.
Sementara
itu,
pengamat pendidikan
yang juga PD I FKIP
Unram, Dr.
Rusdiawan,
Kamis (25/5)
kemarin
mengatakan sepanjang
nilai
dan jumlah
kelulusan
masih
dijadikan sebagai
target untuk
mengatrol
sekolah
bersangkutan,
akan
sulit
dilakukan sesuatu
yang bisa
menunjukkan
mutu
pendidikan. Pasalnya,
hal itu
akan
dijadikan parameter
untuk
meningkatkan citra
dengan
menaikan target sedemikian
rupa -- yang
bisa
menempuh segala
cara. ''Karenanya
harus
ada kebijakan yang
memutuskan
bahwa UN
bukan
satu-satunya alat
yang dipakai
sekolah
mengatrol mutu
pendidikian.
Ada
yang lebih
penting
dari UN, yakni
proses
belajar mengajar
dan
manajemen di
sekolah,''
kata
Rusdiawan.
Ia
mengakui,
kondisi
pendidikan saat
sekarang
masih
berada dalam
tahap
peralihan yang membutuhkan
penanganan
secara
cermat. Rusdiawan
yang juga
koordinator
tim
independen
di
Lombok Barat
ini
mengaku belum
menerima
laporan
tentang adanya
tindakan yang
tidak
benar seperti
itu.
(045)