Tentara Bentrok Senjata dengan Taliban
Kandahar-
Tentara Afghanistan didukung pesawat dan artileri
pasukan koalisi bertempur melawan pemberontak Taliban,
Kamis (25/5). Pertempuran mulai pecah di distrik
Panjwayi, Kandahar, kata seorang juru bicara koalisi,
saat penduduk desa melaporkan aksi pengeboman dahysat
berlangsung hingga pagi hari.
Tentara-tentara Afganistan bentrok dengan "sejumlah
pasukan Taliban" di area Pashmal-Panjwayi, kata Mayor
Scott Luncy kepada wartawan.
Pihak koalisi kemudian dipanggil "menggunakan artileri
dan dukungan dari udara untuk menghancurkan Taliban,"
katanya. "Masih belum ada pernyataan dari korban tewas
atau terluka pada saat ini."
Penduduk di sana mengatakan sebelum gempuran dilakukan "tentara-tentara
koalisi meminta penduduk untuk segera meninggalkan rumah
dan jika mereka memiliki senjata, segeralah bawa keluar."
"Saya
melihat aksi bombardir yang sangat besar dan berlangsung
hingga pagi hari. Pengeboman tersebut merupakan yang
terbesar yang pernah saya lihat," kata Mohammed Salem.
Operasi ini merupakan lanjutan dari distrik Panjwayi
Minggu lalu dan Senin dimana koalisi mengatakan berhasil
membunuh 80 Taliban. Staf Afganistan mengatakan
sedikitnya 16 masyarakat sipil juga tewas namun penduduk
desa, yang mengatakan rumah mereka di bom pihak koalisi,
melaporkan melihat banyak jatuh korban sipil.
Pihak koalisi menyangkal sudah menggunakan bom, dan
mengatakan mereka sudah menggunakan "tembakan presisi"
dari pesawat-pesawat terhadap target Taliban, yang
sebelumnya sudah pergi menuju rumah-rumah masyarakat
lokal.
Selama pekan terakhir ini wilayah selatan Afganistan
sudah menjadi saksi mata pertempuran terbesar sejak
ultra-Islamis Taliban digulingkan dari pemerintahan pada
2001 oleh tentara Afganistan dan pasukan asing yang
dipimpin AS.
Lebih dari 400 orang, kebanyakan diantaranya pemberontak,
tewas dalam berbagai bentrokan, termasuk beberapa
diantaranya dalam pertempuran darat terbesar di propinsi
Kandahar selatan, Helmand dan Uruzgan.
Pertempuran di Panjwayi menyebabkan 3.000 orang
meninggalkan kota Kandahar untuk mencari selamat, kata
staf sebuah Organisasi Migrasi Internasional.
Peningkatan aksi kekerasan ini terjadi beberapa pekan
sebelum pasukan stabilisasi pimpinan NATO rencananya
akan mengambil alih sebagaian besar operasi-operasi
internasional di wilayah selatan dari koalisi pimpinan
AS. (ton/afp)