kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 1 Mei 2006

 Nusatenggara


Antisipasi Demo Hari Buruh,Pemprop Imbau Tetap Waspada

Mataram (Suara NTB) -
Kerusuhan bernuansa SARA, 17 Januari 2000 silam atau dikenal dengan ''Kasus 171'' merupakan trauma bagi pemerintah, khususnya dunia pariwisata. Bagaimana tidak, dunia pariwisata NTB yang cukup maju saat itu, terpuruk akibat tragedi tersebut. Belajar dari semua itu, Muspida NTB tidak ingin kecolongan kedua kalinya, karena membangkitkan atau memulihkan pariwisata sebagaimana sekarang ini tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk itu, adanya rencana buruh memperingati Hari Buruh Sedunia secara besar-besaran harus disikapi dengan meningkatkan kewaspadaan dari semua pihak.

Demikian diungkapkan Gubernur NTB, Drs. H. L. Serinata ketika memimpin rapat muspida dengan unsur Pemkot Mataram, Perguruan Tinggi, aparat keamanan dan media cetak dan elektronik di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Sabtu (29/4) terkait persiapan menghadapi adanya unjuk rasa besar-besaran sehubungan Hari Buruh Sedunia hari ini.

Gubernur menuturkan, pemerintah tidak mempermasalahkan adanya unjuk rasa dari kalangan buruh menyuarakan aspirasi mereka, tetapi dengan melihat perkembangan terakhir secara nasional belakangan ini, tak menutup kemungkinan segala sesuatu bisa terjadi. ''Yang jelas, kewaspadaan kita harus ditingkatkan menghadapi Hari Buruh Sedunia yang jatuh Senin lusa (hari ini-red). Jangan sampai kasus 171 terulang kembali,'' ingatnya.

Serinata mencontohkan bagaimana sebelum meledaknya ''Kasus 171'', panitia penyelenggara menjamin dalam acara tersebut tidak akan terjadi apa-apa, namun kenyataannya acara yang bertema pengajian dan silaturahmi waktu itu berubah menjadi rusuh dan dampaknya masih terasa hingga kini. ''Kita bukan berburuk sangka. Apa salahnya kita tingkatkan kewaspadaan,'' tegasnya.

Senada dengan Gubernur, Wali Kota Mataram H. Moh. Ruslan, meminta ketegasan dari aparat keamanan untuk menindak siapapun dari pengunjuk rasa yang mencoba bertindak anarkis. Tindakan tegas tersebut, papar Ruslan, paling tidak akan memberikan shock therapy bagi pengunjuk rasa lainnya melakukan tindakan anarkis. Selain itu, sebelum acara berlangsung, Ruslan meminta aparat keamanan memanggil koordinator lapangan sebagai jaminan, jika aksi berjalan di luar konteks. ''Kalau di Kota Mataram saya sudah meminta pada kepala lingkungan tidak membiarkan warganya keluar berdemo hari itu, termasuk SPSI Kota juga tidak akan ikut'' terangnya.

Di sisi lain, pihak perguruan tinggi (PT) di Kota Mataram juga diharapkan tidak memberikan izin kepada mahasiswanya turun aksi pada Hari Buruh Sedunia. Kendati demikian, menurut sejumlah perwakilan PT yang hadir, seperti PR III Unram, M. Darwin, M.S., mahasiswa Unram yang tergabung dalam organisasi intra kampus tidak akan turun aksi. ''Tetapi mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus dan agak-agak kekiri-kirian kita tak bisa jamin,'' ungkapnya, yang dibenarkan oleh Rektor IAIN Mataram, Drs. H. Lukman Al Hakim.

Sementara, Rektor Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, H. Mustamiuddin Ibrahim meminta aparat keamanan segera mengambil langkah antisipasi dengan tidak mengizinkan peserta aksi dari luar Kota Mataram datang ke Mataram. ''Kalau bisa mereka yang datang dari luar Kota Mataram dihadang di perbatasan,'' sarannya. (ham)

Klik di Sini

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)