Wapres:
Buruh
Bergembiralah
Jakarta (Bali Post) -
Bali
Post/sep
BURUH - Sekitar ratusan buruh yang tergabung dalam KSBSI
berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (30/4)
kemarin. Demo ini merupakan ''pemanasan'' dari demo hari
ini.
Menghadapi
demo buruh
Senin (1/5)
hari
ini, pemerintah
telah
melakukan berbagai
persiapan.
Selain
polisi, TNI
dan
aparat pengamanan
lainnya
telah pula disiagakan.
Demikian pula
pemasangan
kawat
berduri di
beberapa
tempat
strategis pun telah
pula dilakukan.
Bahkan, PT KAI
telah
menetapkan Siaga I
menghadapi
ledakan
penumpang keret
api
pada
hari ini.
Pendek
kata pemerintah
telah
siap menghadapi demo
yang dikhawatirkan
akan
anarkis.
Wapres
Jusuf
Kalla menyatakan
aksi demo yang
akan
digelar
puluhan ribu
buruh
dan pekerja
pada
hari ini
tidak
ada relevansinya
dengan
perayaan Hari
Buruh,
seperti yang dilakukan
di
negara-negara sosialis.
Dalam
perayaan
Hari
Buruh di
negara-negara
seperti
itu, kata
Wapres,
hakikatnya dilakukan
dengan
bergembira dan
syahdu.
''Apa
yang saya
baca
dengan demo sekarang
ini,
tidak ada
relevansinya
dengan
Hari Buruh
itu.
Kalau
Hari
Buruh di
negara-negara
sosialis,
mereka
merayakan dengan
gembira.
Seperti
hari
Lebaran di
mana
buruh pulang
kampung.
Coba
saja
lihat di
Cina
dan Rusia,
sebelum 1
Mei ini
mereka
sudah pulang
ke
kampungnya untuk
merayakan
Hari
Buruh,'' papar
Kalla.
Menyinggung
masalah
revisi UU 13 Tahun
2003 tentang
Ketenagakerjaan,
Wapres
mengatakan hal
itu
sudah disepakati
bersama
konfederasi serikat
pekerja
dan buruh
lainnya,
untuk
dikaji oleh
tim
akademik
terlebih
dulu
sebelum dibicarakan
bersama. ''Lalu,
apa
lagi,''
tanya Wapres.
Oleh
sebab
itu, Wapres
minta agar
para
politisi dan
pihak-pihak
tertentu
lainnya
jangan menggunakan
aksi demo
ini
untuk momen yang
dapat
mengurangi produktivitas
buruh
dan pekerja
secara
nasional.
Sudah
Mulai
Sementara
itu,
ratusan pengunjuk
rasa yang
tergabung
dalam
Konfederasi Serikat
Buruh
Sejahtera Indonesia (KSBSI) yang
berasal
dari berbagai
daerah
seperti Jakarta, Banten,
bahkan Kalimantan
dan
Sulawesi, mulai
melakukan
unjuk
rasa di
Bundaran Hotel Indonesia
di Jakarta,
Minggu (30/4)
kemarin.
Mereka
bagian dari
partisipan demo yang
digelar
bertepatan dengan
Hari
Buruh yang jatuh
pada 1
Mei ini.
Aksi
mereka
dimeriahkan dengan
berbagai poster
dan
spanduk antara
lain
bertuliskan ''Aparat
Militer
Jangan Ikut
Campur
Urusan Buruh'', ''Jadikan
1 Mei
sebagai Hari
Libur
Nasional'' dan ''Birokrasi
Buruk
Jangan Salahkan
Buruh''.
Menurut
Ketua
Umum DPP KSBSI Rekson
Silaban, KSBSI
mendesak agar
pemerintah
tidak
melanjutkan revisi UU
No. 13 Tahun 2003
tentang
Kentenagakerjaan, karena
revisi UU
tersebut
dikhawatirkan
akan
memperpanjang penderitaan
buruh
dan meningkatkan
angka
pengangguran.
KSBSI juga
berpendapat
bahwa
masih tetap
terjadi
pelanggaran kebebasan
mendirikan
serikat
buruh seperti yang
termuat
dalam UU No. 21 Tahun
2000 tentang
Serikat
Buruh/Serikat Pekerja.
Sementara
itu,
Majelis Pertimbangan
Federasi
Serikat
Pekerja Badan
Usaha
Milik Negara (SP BUMN)
Strategis yang terdiri
atas SP-PLN, SP
Pertamina, SP
Telkom, SP
Telkomsel,
dan SP
Pembangkit Jawa-Bali
Yunan
Lubis mendukung
penolakan
terhadap
Revisi UU No. 13
Tahun 2003
tentang
Ketenagakerjaan. ''Pemerintah
tidak
perlulah mengutak-atik
UU tersebut.
Perusahaan
bisa
saja membuat
kebijakan
tersendiri
pada
kesepakatan kerja
bersama (KKB)
mereka,''
katanya.
(kmb3)