Catatan
Ekonomi
Sepekan------
'May Day'
SATU
Mei (May Day)
hari
ini diperingati
sebagai
Hari Buruh
Sedunia,
tidak
terkecuali di
Indonesia.
Wapres
Jusuf
Kalla pun mengakui,
suatu yang
lumrah
apabila hal
tersebut
diperingati.
Hanya,
perasaan
tegang
menyelimuti, ketika
aksi
itu justru
direspon
dengan
menebar ketakutan
yang menggelar
peralatan
tempur.
--------------------
Begitulah,
reaksi
dari
pemerintah
propinsi
Daerah
Khusus Ibu Kota (DKI)
menyambut
aksi
turun jalan
para
pekerja dengan status
Siaga I. Hal yang
sama,
juga akan
berlangsung
disejumlah
kota
besar.
Nuansa
tegang
begitu kuat
karena
respon pemerintah
terkesan
berlebihan.
Seperti
menghadapi musuh
di
medan
perang.
Dengan moncong
senjata
dari jago-jago
tembak yang
ditempatkan
di
sudut
kota.
Menghadapi
para
buruh yang beberapa
saat
sebelumnya melakukan
aksi
turun ke
jalan
menentang revisi UU
No. 13 Tahun 2003
tentang
Ketenagakerjaan.
Buruh
sekarang
hidup
di zaman
megapolitan.
Ketika
nafas
hedonis kian
membahana
di
setiap elemen
kehidupan.
Namun,
paradigma pemerintah
dan
sebagian dunia
usaha
tetap
memegang
simbol
Orde Baru - 'upah
murah'
sebagai
daya saing
ekonomi
nasional.
Meski,
data empiris
menunjukkan,
upah yang
diterima
masih
jauh dibawah
angka
kebutuhan hidup
minimum.
Buruh
tidak
berharap bermimpi
tidur
pulas karena
kesejukan air conditioner
(AC).
Tetapi,
janganlah
menghilangkan
mimpi
mereka untuk
memiliki
standar
kelayakan hidup yang
lebih
manusiawi. Kita
sepakat tidak
menginginkan,
kejadian
seratus
dua puluh
lima
tahun
lalu, di
lapangan Haymarket
Amerika
Serikat (AS) yang menewaskan
empat
orang buruh
digantung
tidak
terulang pada
hari
ini.
Apalagi
oleh
butir peluru yang
dibiayai
lewat
pajak dari
keringat
para
buruh.
Dalam
situasi
krisis yang tidak
kunjung
selesai, saat
sebagian
besar
industri nasional
mengalami
kebangkrutan
, tidaklah
relevan
memaknai May Day sebagai
hari
perlawanan buruh
terhadap
pengusaha.
Padahal,
dalam
kapitalisme global telah
memperpanjang
daftar
korbannya, tidak
hanya
buruh yang semakin
termarginal
juga
pengusaha itu
sendiri
sebagai obyek
penderita.
Satu
Mei kali
ini,
harus dipandang
sebagai momentum
untuk
melindungi industri
dalam
negeri kita,
tempat
dimana puluhan
juta
rakyat mengantungkan
hidup
harapan dan
masa
depannya.
Jadikan
Satu
Mei ini
untuk
mengkritisi peran
negara yang
tidak
lebih sebagai
alat
dari kepentingan
kelas yang
mendominasi
sumber-sumber
ekonomi
nasional.
Sesungguhnya
sumber
masalah dunia
industri
nasional
telah
kasat mata.
Ekonomi
biaya
tinggi bukan
hanya
timbul akibat
pungli
dan korupsi yang
merajalela
tidak
teratasi.
Ketergantungan pada
bahan
baku
impor,
tingginya suku
bunga,
bobroknya manajemen
moda
transportasi
serta
rusaknya
infrastruktur
memberi
kontribusi besar
bagi
rendahnya tenaga
produktif
nasional
dan
daya dukung
bagi
perdagangan dan
distribusi
hasil-hasil
produksi.
Sangatlah
tidak fair,
jika
semua kegagalan
pemerintah
dalam
mengatasi kompleksitas
permasalahan
tersebut
dengan
mengkompensasikannya pada
kalangan
pekerja.
Paradigma
yang menempatkan
buruh
sebagai terdakwa
atas
minimnya investasi
yang masuk
semestinya
telah
gugur dengan
sendirinya.
Sekali
lagi,
merespon peringatan
Satu
Mei dengan
strategi
pengamanan
puluhan
ribu bersenjata
itu
justru menebar
kecemasan
sendiri?
Peringatan
seperti
ini tidak
melulu
diperingati di
negara-negara
sosialis.
Prancis,
Belgia
bahkan Singapura yang
jelas
sebagai negara
ekonomi
terbuka malah
menjadikan
hari
libur.
Reaksi
paranoid dikhawatirkan
justru
membuat pertokoan
menjadi
tutup, pusat
belanja
sepi, aktivitas
perekonomian
masyarakat
berkurang.
Kegiatan
yang mendukung
pariwisata
bakal
menyusut. Satu
kali pemantik
dibuka,
bukan
tidak mungkin
menjadi
letupan api
membesar yang
diwarnai
darah.
Ekonomi
bakal
terantuk.
Tidak
ada
pihak yang dimenangkan.
Jadikan
Hari
Buruh Sedunia
sebagai
refleksi bangsa
ini
sebuah harga
demokrasi.
Perjuangan
memperbaiki
nasib
hidup bukan
berarti
diisi
anarkhi.
Terbukanya
nurani
pemerintah untuk
tidak 'ngotot'
meneruskan
deregulasi yang
menindas
para
pekerja demi
mendatangkan
aliran modal
investasi
luar
negeri. Lebih
baik,
dana
pengamanan yang
jelas
tidak sedikit
sekedar
dialokasikan bagi
peningkatan
jumlah
premi asuransi
para
buruh. Itu
pasti
jauh lebih
bermakna!.
*
Indu