kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 1 Mei 2006

 Ekonomi


Catatan
Ekonomi Sepekan------
'May Day'
 

SATU Mei (May Day) hari ini diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia, tidak terkecuali di Indonesia. Wapres Jusuf Kalla pun mengakui, suatu yang lumrah apabila hal tersebut diperingati. Hanya, perasaan tegang menyelimuti, ketika aksi itu justru direspon dengan menebar ketakutan yang menggelar peralatan tempur.

--------------------

Begitulah, reaksi  dari pemerintah propinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) menyambut aksi turun jalan para pekerja dengan status Siaga I. Hal yang sama, juga akan berlangsung disejumlah kota besarNuansa tegang begitu kuat karena respon pemerintah terkesan berlebihan. Seperti menghadapi musuh di medan perang. Dengan moncong senjata dari jago-jago tembak yang ditempatkan di sudut kota. Menghadapi para buruh yang beberapa saat sebelumnya melakukan aksi turun ke jalan menentang revisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Buruh sekarang hidup di zaman megapolitan. Ketika nafas hedonis kian membahana di setiap elemen kehidupan. Namun, paradigma pemerintah dan sebagian dunia usaha tetap  memegang simbol Orde Baru - 'upah murahsebagai daya saing ekonomi nasional. Meski, data empiris menunjukkan, upah yang diterima masih jauh dibawah angka kebutuhan hidup minimum.

Buruh tidak berharap bermimpi tidur pulas karena kesejukan air conditioner (AC). Tetapi, janganlah menghilangkan mimpi mereka untuk memiliki standar kelayakan hidup yang lebih manusiawi. Kita sepakat tidak menginginkan, kejadian seratus dua puluh lima tahun lalu, di lapangan Haymarket Amerika Serikat (AS) yang menewaskan empat orang buruh digantung tidak terulang pada hari ini. Apalagi oleh butir peluru yang dibiayai lewat pajak dari keringat para buruh.

Dalam situasi krisis yang tidak kunjung selesai, saat sebagian besar industri nasional mengalami kebangkrutan , tidaklah relevan memaknai May Day sebagai hari perlawanan buruh terhadap pengusaha. Padahal, dalam kapitalisme global telah memperpanjang daftar korbannya, tidak hanya buruh yang semakin termarginal juga pengusaha itu sendiri sebagai obyek penderita.

Satu Mei kali ini, harus dipandang sebagai momentum untuk melindungi industri dalam negeri kita, tempat dimana puluhan juta rakyat mengantungkan hidup harapan dan masa depannya. Jadikan Satu Mei ini untuk mengkritisi peran negara yang tidak lebih sebagai alat dari kepentingan kelas yang mendominasi sumber-sumber ekonomi nasional.

Sesungguhnya sumber masalah dunia industri nasional telah kasat mata. Ekonomi biaya tinggi bukan hanya timbul akibat pungli dan korupsi yang merajalela tidak teratasi. Ketergantungan pada bahan baku impor, tingginya suku bunga, bobroknya manajemen moda transportasi serta  rusaknya infrastruktur memberi kontribusi besar bagi rendahnya tenaga produktif nasional dan daya dukung bagi perdagangan dan distribusi hasil-hasil produksi.

Sangatlah tidak fair, jika semua kegagalan pemerintah dalam mengatasi kompleksitas permasalahan tersebut dengan mengkompensasikannya pada kalangan pekerja. Paradigma yang menempatkan buruh sebagai terdakwa atas minimnya investasi yang masuk semestinya telah gugur dengan sendirinya.

Sekali lagi, merespon peringatan Satu Mei dengan strategi pengamanan puluhan ribu bersenjata itu justru menebar kecemasan sendiri? Peringatan seperti ini tidak melulu diperingati di negara-negara sosialis. Prancis, Belgia bahkan Singapura yang jelas sebagai negara ekonomi terbuka malah menjadikan hari libur.

Reaksi paranoid dikhawatirkan justru membuat pertokoan menjadi tutup, pusat belanja sepi, aktivitas perekonomian masyarakat berkurang. Kegiatan yang mendukung pariwisata bakal menyusut. Satu kali pemantik  dibuka, bukan tidak mungkin menjadi letupan api membesar yang diwarnai darah. Ekonomi bakal terantuk. Tidak ada pihak yang dimenangkan.

Jadikan Hari Buruh Sedunia sebagai refleksi bangsa ini sebuah harga demokrasi. Perjuangan memperbaiki nasib hidup bukan berarti diisi  anarkhi. Terbukanya nurani pemerintah untuk tidak 'ngotot' meneruskan deregulasi yang menindas para pekerja demi mendatangkan aliran modal investasi luar negeri. Lebih baik, dana pengamanan yang jelas tidak sedikit sekedar dialokasikan bagi peningkatan jumlah premi asuransi para buruh. Itu pasti jauh lebih bermakna!.

* Indu
 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)