kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 1 Mei 2006

 Ekonomi


Tak Berproduksi------

Izin ETPIK Puluhan Eksportir Terancam Dibekukan

Denpasar (Bali Post) -
Puluhan eksportir pemegang izin ETPIK (Eksportir Terdaftar Produk Industri Kehutanan) kini merasa was-was karena izin mereka terancam dibekukan. Pasalnya dalam proses verifikasi yang dilaksanakan Deperindag, ternyata eksportir tersebut tidak memenuhi ketentuan sebagaimana yang ditetapkan yakni tidak melakukan proses produksi dan tak bisa menunjukkan realisasi laporan ekspor.

Sekretaris Asephi (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia) Bali G.W. Arjawa,S.E. saat diminta konfirmasinaya Minggu (30/4) kemarin mengakui adanya hal itu. Bahkan dia mengatakan kalau belakangan ini banyak menerima pengaduan dari eksportir yang terancam dibekukan ETPIK-nya.

''Kebanyakan eksportir tersebut mengakui telah mengabaikan kewajibannya seperti membuat laporan ekspor,'' jelasnya. Hal lainnya yakni ada yang tidak melaporkan ketika terjadi perubahan alamat dan data-data perusahaan. Diingatkan eksportir tak bisa mengekspor barang berbahan baku kayu bila izin ETPIK-nya dibekukan.

Kalau ini menimpa sampai terjadi pada banyak eksportir tentunya bukan saja pengusahanya yang rugi juga bisa membawa dampak kepada tenaga kerja maupun konsumen yang selama ini menjadi pelanggannya. ''Karena itu kita akan berupaya membantu eksportir tersebut sehingga terhindar dari pencabutan izinnya,'' tambah Arjawa.

Salah seorang perajin Made Darmawan mengatakan pihaknya sebenarnya mengetahui adanya kewajiban yang harus dipatuhi pemegang ETPIK. Namun dirinya enggan melakukannya. Setelah adanya ancaman pembekuan tersebut, Darmawan kini sibuk mulai mengurus izin tersebut.

Soal banyaknya eksportir non produsen yang memiliki izin ETPIK, padahal menurut ketentuan izin itu hanya boleh dimiliki eksportir produsen, Arjawa mengatakan masalah itu perlu dibahas dengan melibatkan pemerintah pusat maupun daerah. Masalah itu dinilai analog dengan izin kuota tekstil beberapa waktu lalu dimana kebanyakan dari mereka hanya sebagian saja yang melakukan proses produksi. ''Sebagian justru sebagai trader,'' jelasnya.

Dijelaskan karakteristik ekpsor Bali berbeda dengan daerah lain. Eskportir non produsen yang di Bali harus tetaap bisa melakukan ekspor. Jumlah mereka ratusan. ''Ini yang harus kami perjuangkan,''tambahnya. (031)   

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)