Tak Berproduksi------
Izin ETPIK Puluhan Eksportir Terancam Dibekukan
Denpasar (Bali Post) -
Puluhan eksportir pemegang izin ETPIK (Eksportir
Terdaftar Produk Industri Kehutanan) kini merasa was-was
karena izin mereka terancam dibekukan. Pasalnya dalam
proses verifikasi yang dilaksanakan Deperindag, ternyata
eksportir tersebut tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
yang ditetapkan yakni tidak melakukan proses produksi
dan tak bisa menunjukkan realisasi laporan ekspor.
Sekretaris Asephi (Asosiasi Eksportir dan Produsen
Handicraft Indonesia) Bali G.W. Arjawa,S.E. saat diminta
konfirmasinaya Minggu (30/4) kemarin mengakui adanya hal
itu. Bahkan dia mengatakan kalau belakangan ini banyak
menerima pengaduan dari eksportir yang terancam
dibekukan ETPIK-nya.
''Kebanyakan eksportir tersebut mengakui telah
mengabaikan kewajibannya seperti membuat laporan ekspor,''
jelasnya. Hal lainnya yakni ada yang tidak melaporkan
ketika terjadi perubahan alamat dan data-data perusahaan.
Diingatkan eksportir tak bisa mengekspor barang berbahan
baku kayu bila izin ETPIK-nya dibekukan.
Kalau ini menimpa sampai terjadi pada banyak eksportir
tentunya bukan saja pengusahanya yang rugi juga bisa
membawa dampak kepada tenaga kerja maupun konsumen yang
selama ini menjadi pelanggannya. ''Karena itu kita akan
berupaya membantu eksportir tersebut sehingga terhindar
dari pencabutan izinnya,'' tambah Arjawa.
Salah seorang perajin Made Darmawan mengatakan pihaknya
sebenarnya mengetahui adanya kewajiban yang harus
dipatuhi pemegang ETPIK. Namun dirinya enggan
melakukannya. Setelah adanya ancaman pembekuan tersebut,
Darmawan kini sibuk mulai mengurus izin tersebut.
Soal banyaknya eksportir non produsen yang memiliki izin
ETPIK, padahal menurut ketentuan izin itu hanya boleh
dimiliki eksportir produsen, Arjawa mengatakan masalah
itu perlu dibahas dengan melibatkan pemerintah pusat
maupun daerah. Masalah itu dinilai analog dengan izin
kuota tekstil beberapa waktu lalu dimana kebanyakan dari
mereka hanya sebagian saja yang melakukan proses
produksi. ''Sebagian justru sebagai trader,'' jelasnya.
Dijelaskan karakteristik ekpsor Bali berbeda dengan
daerah lain. Eskportir non produsen yang di Bali harus
tetaap bisa melakukan ekspor. Jumlah mereka ratusan. ''Ini
yang harus kami perjuangkan,''tambahnya. (031)