Perut Diserempet Peluru --
Seorang Bocah nyaris Tersungkur
Denpasar (Bali Post) -
Setelah tukang kebun, Yantono (22), kena tembak di
bagian pahanya, Kamis (27/4) dinihari lalu, kini giliran
seorang bocah Made Ari Widiartini (9) yang tinggal di
Jalan Sekar Tunjung XII No. 100 Z Denpasar Timur,
mengalami nasib serupa, Minggu (30/4) kemarin. Korban
nyaris tersungkur terkena peluru di bagian perutnya saat
sedang bermain komputer di rumahnya.
Beruntung peluru tersebut menyerempet perut korban
sehingga hanya mengalami luka. Karena peristiwa ini,
korban sempat shock dan kedua orangtua korban yakni Made
Widiantara (48) dan Ketut Binihari (41) menjadi panik.
Selanjutnya kejadian ini dilaporkan ke Mapolsek Dentim.
Informasi yang berhasil dihimpun Bali Post kemarin
menyebutkan kejadian ini berlangsung sekitar pukul 10.10
wita. Ketika itu, korban yang baru duduk di kelas tiga
sekolah dasar (SD) Saraswati Denpasar ini sedang bermain
komputer di kamar kakaknya. Tanpa ada firasat buruk apa
pun, dari jendela kamar depan terdengar ada sesuatu yang
jatuh menimpa kaca. Secara spontanitas, korban menoleh
ke arah jendela tersebut dan melihat ada lubang
berdiameter sekitar lima sentimeter. Begitu melihat
jendela berlubang, pada waktu bersamaan perut korban
dirasakan perih. Korban kaget bukan kepalang dan
berteriak, setelah melihat perutnya mengeluarkan darah.
Korban lari keluar kamar dan memberitahukan kepada
orangtuanya bahwa perutnya berdarah.
''Saat itu saya sedang bersih-bersih kamar, sedangkan
ibunya menonton televisi di ruang tamu bersama
keponakannya. Begitu saya mendengar ada pecahan kaca,
anak saya keluar dari kamar dalam keadaan menangis
sambil berteriak memberitahu bahwa perutnya berdarah,''
tutur ayah korban yang berasal dari Klungkung ketika
ditemui di rumahnya, Minggu (30/4) kemarin.
Dikatakan, mengetahui perut anaknya mengeluarkan darah,
Widiantara memeriksa kamar tersebut dan memastikan apa
yang sebenarnya menyebabkan anaknya berdarah. Selain
melihat lubang di jendela, tepatnya di bawah keyboard
komputer, Widiantara menemukan proyektil. Saat itulah
Widiantara tahu bahwa anaknya kena tembak. Dengan
suasana panik, istri Widiantara cepat-cepat mengajak
korban ke RS Darmayadnya Denpasar. ''Sebelum kejadian,
pagi harinya saya mendengar suara tembakan dari seberang
rumah. Suara tembakan tersebut bersumber dari Lapangan
Perbakin, Tohpati. Mungkin saat itu anggota sedang
melakukan latihan menembak,'' papar Widiantara.
Dengan adanya peristiwa ini, Widiantara selanjutnya
melaporkan kasus ini ke Mapolsek Dentim. Mengetahui ada
laporan seperti itu, petugas langsung melakukan olah
tempat kejadian perkara (TKP). Di sana petugas menemukan
proyektil yang berserakan dan sebuah peluru kaliber 9
mm. Mengingat TKP dengan lapangan Perbakin berjarak
dekat, petugas Mapolsek Dentim langsung menyanggongi
markas Perbakin guna penyelidikan lebih lanjut.
Membantah
Sementara itu, Ketua Harian Perbakin Cahaya Wirawan Hadi,
Kapolsek Dentim AKP I.B. Sudarsana beserta jajarannya
langsung terjun ke TKP. Wirawan Hadi membantah bahwa
kejadian ini ada kaitan dengan latihan menembak. ''Memang
pagi tadi (kemarin-red) ada anggota yang melakukan
latihan menembak di lapangan Perbakin, Tohpati. Namun,
latihan itu sudah selesai pukul 09.00 wita, sementara
kejadian ini berlangsung sekitar pukul 10.10 wita. Nah,
maka dari itu kejadian ini tidak ada kaitannya,'' terang
Wirawan Hadi di TKP.
Menurutnya, jarak antara rumah korban dan lapangan
Perbakin sekitar satu kilometer. Dalam jarak seperti itu,
senjata api seperti pistol hanya menjangkau jarak
sekitar 50 meter. Sedangkan senjata laras panjang, hanya
bisa menjangkau jarak sekitar 200-300 meter. Selain itu,
setelah melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap
peluru tersebut, petugas mendapatkan peluru itu ada
bekas tanah liat yang menempel. Oleh karena itu,
kejadian ini bukan karena tembakan dari senjata api.
Namun peluru tersebut diduga ditembakkan dengan
menggunakan ketapel. (jay)