kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 1 Mei 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post

Belum Pantas Siswa TK Dijejali Les
 

Ternyata sebagian guru memiliki waktu luang yang banyak selain mengajar muridnya di sekolah, tetapi terkadang waktu luang tersebut dipakai untuk menjalankan usaha bisnisnya dengan memberikan les kepada muridnya. Tidak saja siswa SD, SMP dan SMA, bahkan guru memberikan les kepada TK (taman kanak-kanak) sehingga waktu bermain dan mengenal lingkungan semakin berkurang. Bahkan, les yang diberikan itu belum bersentuhan dengan materi. Boleh-boleh saja guru membuka les asalkan berbau ngayah, bukan berbau bisnis dengan mengenakan biaya les pada murid sepanjang dalam rangka meningkatkan kecerdasan mutu. Praktik semacam ini jelas bertentangan dengan ilmu mengajar. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menjadi sasaran atau tujuan dari pemberian les itu?  Demikian antara lain wacana yang terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan di Radio Global FM 96,5, Sabtu (29/4). Acara ini juga direlai oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

=========================================================

Dalam interkatif ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan Adnyana. Dalam paparannya, disebutkan memang benar di luar jam pelajaran guru memberikan les sepanjang untuk meningkatkan mutu pendidikan siswanya yang masih kurang. Dikatakan, kalaupun dikenakan biaya itu pun masih dalam konfirmasi dan atas persetujuan antara pihak sekolah, guru dan orangtua atau wali murid. 

Namun, katanya, kalau les dijejali pada anak yang masih duduk di TK (taman kanak-kanak) belum ditemukan di lapangan. Kalaupun ada itu sudah menyalahi aturan. Sebab, di TK belum ada mata pelajaran yang diujikan dan bobotnya tidak seperti di jenjang SD dan seterusnya dan ini patut ditelusuri.  

Pada prinsipnya les tidak harus diwajibkan diikuti oleh murid, dan jika ada pungutan biaya les, itu sangat tergantung persetujuan dari orangtua dan murid dengan catatan tidak dipaksakan. Mata pelajaran yang dileskan adalah mata pelajaran yang diujikan, sebab penilaiannya sukar sekali yang memang dipandang sangat berat bobotnya.  

Gus Delut di Denpasar memandang les sah-sah saja, di mana pun dan berapa pun biayanya asal bertujuan untuk memajukan mutu pendidikan siswa. Akan tetapi kalau tidak mau mengajarkan mata pelajaran dengan sepenuh hati, akan berimbas pada nilai rapor siswa. 

Senada dengan hal itu, Kadek Nandur di Canggu mengatakan berasal dari mana pun guru atau murid yang ikut les sah-sah saja berbaur dari luar sekolah, apalagi untuk pelajaran sukar seperti matematika. Tapi yang menjadi masalah selama ini murid SD, SMP, SMA yang mengikuti les,  apakah mereka betul-betul les atau bermain. Untuk mengantisipasi hal itu ia menyarankan agar dibuatkan jadwal agar orangtua tahu jika hari tertentu ada les dan jamnya diatur, sehingga mudah melakukan pengawasan dari pihak orangtua sehingga sesuatu yang tidak diinginkan bisa diatasi. 

Anton di Klungkung mengusulkan dalam rangka mewujudkan SDM Indonesia yang berkualitas, dalam satu kelas jumlah siswa jangan terlalu berjejal. Misalnya dibatasi untuk 20-25 orang. Sekarang dalam satu kelas SD ada muridnya sampai 40 orang, bagaimana proses belajar-mengajar bisa berjalan dengan baik. Selama les dapat meningkatkan kemampuan siswa sehingga les tidak sia-sia. Guru yang memberikan les harus berkualitas. Ia setuju jika les diberikan dari SD, sebab jika setelah SD anak bersangkutan akan tertinggal. Diharapkan pemerintah bisa mengubah pola pendidikan di Indonesia.  

Adnyana di Pedungan yang punya anak TK mengatakan kalau les dijadikan lahan bisnis tentu ada, tetapi masih terselubung. Jadi ia mengusulkan agar Diknas menyelidiki jika ada indikasi les itu dibisniskan, dan hendaknyalah dari pihak guru yang memberikan les menyertakan jadwal les anak didik yang patut diketahui oleh orangtua. Sehingga para orangtua wajib mengetahui keberadaan anaknya. 

Putu Arta di Padangsambian memandang hal ini sangat dilematis sekali. Ia melihat pendidikan di Indonesia benyah latig, semua menyatakan les itu benar dan wajar. Melihat psikologis anak yang masih duduk di bangku TK rasanya memang berat dari segi ekonomi. Sebagai orangtua yang punya anak TK dia sudah melihat perkembangan anak di zaman sekarang sudah bisa baca koran sendiri. Akan tetapi kalau anak TK dijejali dengan les, rasanya sulit diterima, sebab terkesan dipaksakan walaupun di satu sisi les untuk kemajuan mutu pendidikan tetapi kurang pas untuk di tingkat TK. Ia juga mengusulkan agar guru lebih efektif menggunakan waktunya mengajar siswa di sekolah, sehingga les di luar jam sekolah tidak perlu lagi. 

Sebagai seorang praktisi pendidikan, Jendra di Jimbaran kurang setuju jika les disamaratakan. Anak yang kemampuannya kurang dikumpulkan dan dibedakan dengan anak yang lebih mampu, sehingga hasilnya bisa kelihatan. Dan yang lebih penting jumlah kelas dibatasi. Menurutnya les tidak asal diberikan oleh guru dan patut diketahui oleh kepala sekolah, misalnya guru mana saja yang memberikan les di luar jam sekolah. Ia sepakat jika kedua pihak yakni guru dan orangtua mengetahui jadwal les yang telah disepakati sehingga pengawasan bisa dilakukan dan efektif dilakukan hari Minggu untuk program keterampilan seperti pramuka, tari dan sebagainya. 

Wayan Sudira di Batuan merasa keberatan jika les diberlakukan untuk anak TK, selain belum tepat, orangtua juga kewalahan antar-jemput anaknya. Namun, ia belum pernah melihat jika les dibisniskan. 

Pande di Pandak Gede menyatakan bahwa guru adalah salah satu komponen dalam bidang pendidikan dalam rangka pembangunan. Jika mempersoalkan guru, ia memandang hal ini sangat fundamental sekali. Jika guru nyambi dengan memberikan les, itu sah-sah saja walau dengan biaya, sepanjang dalam konteks memberikan pendidikan bagi siswanya. Akan tetapi jika les untuk TK, ia menilai ada sesuatu yang dipaksakan dan patut ditelusuri kebenarannya di lapangan.  

Jodog di Denpasar menilai tidak sepantasnya TK diberikan les, anak-anak lebih fokus untuk mengenal lingkungannya. Mulai SD-lah patut diberikan les. Tidak sepantasnya orangtua mengarahkan anak untuk ikut les, dari pihak orangtua masih memaksakan anaknya untuk ikut les. Dan, perlu disadari kemampuan anak TK masih terbatas, sebab titik kejenuhan akan terjadi di usianya kelak. Jika setiap guru mempunyai idealisme keguruannya pasti akan mengerti mau dibawa ke mana anak itu. 

Yogi di Negara menyatakan bahwa les ini digunakan lahan bisnis oleh para guru sesuai dengan anjuran yang diinginkan oleh orangtua yang ingin anaknya pintar. Apalagi les di TK, sudah jelas merusak mental anak didik dengan memberikan pelajaran yang belum saatnya didapatkan dan diajarkan. Kalau melihat kesejahteraan guru, sudah cukup sejahtera. 

Ade di Denpasar menyatakan kalau tidak ada guru, mungkin tak menjadi seperti sekarang ini. Tidak semua guru menghendaki anaknya bodoh. Ia beterima kasih kepada guru yang telah mendidiknya selama ini. Tapi mata pelajaran yang kompleks saat ini menyulitkan guru dari segi waktu, sehingga les dilakukan.

Rai di Denpasar mengamati, hanya beberapa guru yang mengajar dan sebagian menjadi pendidik. Yang diperlukan adalah koordinasi antara guru dan murid, semuanya kembali kepada orangtua. Les diserahkan kepada guru lain di luar sekolahnya sehingga kompetisi bisa dirasakan. Dikatakan, apa pun yang menjadi program sekolah baik itu les, tentunya semua akan berpikiran positif demi kemajuan dunia pendidikan. Dengan harapan les dapat memicu siswa agar lebih giat belajar dan penjadwalan les harus jelas dan terpantau oleh orangtua. * sikha

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)