Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Belum Pantas Siswa TK Dijejali Les
Ternyata sebagian guru memiliki waktu luang yang banyak
selain mengajar muridnya di sekolah, tetapi terkadang
waktu luang tersebut dipakai untuk menjalankan usaha
bisnisnya dengan memberikan les kepada muridnya. Tidak
saja siswa SD, SMP dan SMA, bahkan guru memberikan les
kepada TK (taman kanak-kanak) sehingga waktu bermain dan
mengenal lingkungan semakin berkurang. Bahkan, les yang
diberikan itu belum bersentuhan dengan materi.
Boleh-boleh saja guru membuka les asalkan berbau ngayah,
bukan berbau bisnis dengan mengenakan biaya les pada
murid sepanjang dalam rangka meningkatkan kecerdasan
mutu. Praktik semacam ini jelas bertentangan dengan ilmu
mengajar. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang
menjadi sasaran atau tujuan dari pemberian les itu?
Demikian antara lain wacana yang terungkap dalam acara
Warung Global yang disiarkan di Radio Global FM 96,5,
Sabtu (29/4). Acara ini juga direlai oleh Radio Genta
Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.
=========================================================
Dalam interkatif ini menghadirkan Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten Tabanan Adnyana. Dalam paparannya,
disebutkan memang benar di luar jam pelajaran guru
memberikan les sepanjang untuk meningkatkan mutu
pendidikan siswanya yang masih kurang. Dikatakan,
kalaupun dikenakan biaya itu pun masih dalam konfirmasi
dan atas persetujuan antara pihak sekolah, guru dan
orangtua atau wali murid.
Namun, katanya, kalau les dijejali pada anak yang masih
duduk di TK (taman kanak-kanak) belum ditemukan di
lapangan. Kalaupun ada itu sudah menyalahi aturan. Sebab,
di TK belum ada mata pelajaran yang diujikan dan
bobotnya tidak seperti di jenjang SD dan seterusnya dan
ini patut ditelusuri.
Pada prinsipnya les tidak harus diwajibkan diikuti oleh
murid, dan jika ada pungutan biaya les, itu sangat
tergantung persetujuan dari orangtua dan murid dengan
catatan tidak dipaksakan. Mata pelajaran yang dileskan
adalah mata pelajaran yang diujikan, sebab penilaiannya
sukar sekali yang memang dipandang sangat berat bobotnya.
Gus Delut di Denpasar memandang les sah-sah saja, di
mana pun dan berapa pun biayanya asal bertujuan untuk
memajukan mutu pendidikan siswa. Akan tetapi kalau tidak
mau mengajarkan mata pelajaran dengan sepenuh hati, akan
berimbas pada nilai rapor siswa.
Senada dengan hal itu, Kadek Nandur di Canggu mengatakan
berasal dari mana pun guru atau murid yang ikut les
sah-sah saja berbaur dari luar sekolah, apalagi untuk
pelajaran sukar seperti matematika. Tapi yang menjadi
masalah selama ini murid SD, SMP, SMA yang mengikuti
les, apakah mereka betul-betul les atau bermain.
Untuk mengantisipasi hal itu ia menyarankan agar
dibuatkan jadwal agar orangtua tahu jika hari tertentu
ada les dan jamnya diatur, sehingga mudah melakukan
pengawasan dari pihak orangtua sehingga sesuatu yang
tidak diinginkan bisa diatasi.
Anton di Klungkung mengusulkan dalam rangka mewujudkan
SDM Indonesia yang berkualitas, dalam satu kelas jumlah
siswa jangan terlalu berjejal. Misalnya dibatasi untuk
20-25 orang. Sekarang dalam satu kelas SD ada muridnya
sampai 40 orang, bagaimana proses belajar-mengajar bisa
berjalan dengan baik. Selama les dapat meningkatkan
kemampuan siswa sehingga les tidak sia-sia. Guru yang
memberikan les harus berkualitas. Ia setuju jika les
diberikan dari SD, sebab jika setelah SD anak
bersangkutan akan tertinggal. Diharapkan pemerintah bisa
mengubah pola pendidikan di Indonesia.
Adnyana di Pedungan yang punya anak TK mengatakan kalau
les dijadikan lahan bisnis tentu ada, tetapi masih
terselubung. Jadi ia mengusulkan agar Diknas menyelidiki
jika ada indikasi les itu dibisniskan, dan hendaknyalah
dari pihak guru yang memberikan les menyertakan jadwal
les anak didik yang patut diketahui oleh orangtua.
Sehingga para orangtua wajib mengetahui keberadaan
anaknya.
Putu Arta di Padangsambian memandang hal ini sangat
dilematis sekali. Ia melihat pendidikan di Indonesia
benyah latig, semua menyatakan les itu benar dan wajar.
Melihat psikologis anak yang masih duduk di bangku TK
rasanya memang berat dari segi ekonomi. Sebagai orangtua
yang punya anak TK dia sudah melihat perkembangan anak
di zaman sekarang sudah bisa baca koran sendiri. Akan
tetapi kalau anak TK dijejali dengan les, rasanya sulit
diterima, sebab terkesan dipaksakan walaupun di satu
sisi les untuk kemajuan mutu pendidikan tetapi kurang
pas untuk di tingkat TK. Ia juga mengusulkan agar guru
lebih efektif menggunakan waktunya mengajar siswa di
sekolah, sehingga les di luar jam sekolah tidak perlu
lagi.
Sebagai seorang praktisi pendidikan, Jendra di Jimbaran
kurang setuju jika les disamaratakan. Anak yang
kemampuannya kurang dikumpulkan dan dibedakan dengan
anak yang lebih mampu, sehingga hasilnya bisa kelihatan.
Dan yang lebih penting jumlah kelas dibatasi. Menurutnya
les tidak asal diberikan oleh guru dan patut diketahui
oleh kepala sekolah, misalnya guru mana saja yang
memberikan les di luar jam sekolah. Ia sepakat jika
kedua pihak yakni guru dan orangtua mengetahui jadwal
les yang telah disepakati sehingga pengawasan bisa
dilakukan dan efektif dilakukan hari Minggu untuk
program keterampilan seperti pramuka, tari dan
sebagainya.
Wayan Sudira di Batuan merasa keberatan jika les
diberlakukan untuk anak TK, selain belum tepat, orangtua
juga kewalahan antar-jemput anaknya. Namun, ia belum
pernah melihat jika les dibisniskan.
Pande di Pandak Gede menyatakan bahwa guru adalah salah
satu komponen dalam bidang pendidikan dalam rangka
pembangunan. Jika mempersoalkan guru, ia memandang hal
ini sangat fundamental sekali. Jika guru nyambi dengan
memberikan les, itu sah-sah saja walau dengan biaya,
sepanjang dalam konteks memberikan pendidikan bagi
siswanya. Akan tetapi jika les untuk TK, ia menilai ada
sesuatu yang dipaksakan dan patut ditelusuri
kebenarannya di lapangan.
Jodog di Denpasar menilai tidak sepantasnya TK diberikan
les, anak-anak lebih fokus untuk mengenal lingkungannya.
Mulai SD-lah patut diberikan les. Tidak sepantasnya
orangtua mengarahkan anak untuk ikut les, dari pihak
orangtua masih memaksakan anaknya untuk ikut les. Dan,
perlu disadari kemampuan anak TK masih terbatas, sebab
titik kejenuhan akan terjadi di usianya kelak. Jika
setiap guru mempunyai idealisme keguruannya pasti akan
mengerti mau dibawa ke mana anak itu.
Yogi di Negara menyatakan bahwa les ini digunakan lahan
bisnis oleh para guru sesuai dengan anjuran yang
diinginkan oleh orangtua yang ingin anaknya pintar.
Apalagi les di TK, sudah jelas merusak mental anak didik
dengan memberikan pelajaran yang belum saatnya
didapatkan dan diajarkan. Kalau melihat kesejahteraan
guru, sudah cukup sejahtera.
Ade di Denpasar menyatakan kalau tidak ada guru, mungkin
tak menjadi seperti sekarang ini. Tidak semua guru
menghendaki anaknya bodoh. Ia beterima kasih kepada guru
yang telah mendidiknya selama ini. Tapi mata pelajaran
yang kompleks saat ini menyulitkan guru dari segi waktu,
sehingga les dilakukan.
Rai di Denpasar mengamati, hanya beberapa guru yang
mengajar dan sebagian menjadi pendidik. Yang diperlukan
adalah koordinasi antara guru dan murid, semuanya
kembali kepada orangtua. Les diserahkan kepada guru lain
di luar sekolahnya sehingga kompetisi bisa dirasakan.
Dikatakan, apa pun yang menjadi program sekolah baik itu
les, tentunya semua akan berpikiran positif demi
kemajuan dunia pendidikan. Dengan harapan les dapat
memicu siswa agar lebih giat belajar dan penjadwalan les
harus jelas dan terpantau oleh orangtua.
* sikha