kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 9 April 2006 tarukan valas
 

POTRET


I Gusti Putu Gede Wedhasmara
Hak Cipta Terabaikan Berarti Membunuh Seniman

 

MENYEBUT sederet lagu pop Indonesia legendaris seperti "Senja di Batas Kota", "Bunga Flamboyan", "Kau Selalu di Hatiku", dan "Berpisah di St. Carolus", berarti harus menyebut pula penciptanya, Wedhasmara. Seniman low profile pencipta lagu Bali "Kaden Saja" yang amat populer ini bernama lengkap I Gusti Putu Gede Wedhasmara. Ia sempat "kurang dikenal" di Bali lantaran namanya telanjur mencuat di tingkat nasional. Kalangan seniman atau musisi Bali pun nyaris tidak mengakrabinya karena selama ini kesenimanan Wedhasmara tumbuh dan besar di luar Bali. Di tengah iklim musik pop Indonesia sedang merangkak tahun 1960-an, lagu-lagu Wedhasmara memang banyak diminati penyanyi maupun produser. Beberapa lagunya telah "membesarkan" nama sejumlah penyanyi angkatan 1970-an seperti Erni Djohan, Lilis Suryani, Tetty Kadi, Deasy Arisandi, sampai Titiek Sandhora. Hampir sebagian besar lagu Wedhasmara kini jadi lagu legendaris. Beberapa lagunya direkam secara berulang dan dinyanyikan penyanyi berbeda-beda, dari Yuni Shara hingga Rani. Berikut petikan wawancara Bali Post dengan Wedhasmara yang juga sempat menulis skenario sekaligus pemain di film "Dewi Malam" bersama aktor Roy Marten pada 1970-an ini.

-------------

 

BAGAIMANA Anda melihat fenomena musik pop Bali kini?

Kalau bisa usahakan lagu pop Bali ini diperhatikan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan oleh media atau golongan tertentu saja. Karena, lagu pop Bali sama juga dengan lagu nasional yang penggemarnya ada anak-anak, dewasa, maupun orang tua.

 

Penganugerahan Gita Denpost Award (GDA) kali ini telah digelar untuk ke-6 kalinya. Komentar Anda tentang GDA?

Sportivitas dan objektivitas penilaian harus tetap dijaga. Penilaiannya harus selektif, bukan mempertimbangkan dari siapa yang punya atau siapa yang memproduksi album rekaman yang akan dinilai tim juri. Saya percaya misi mulia dari penyelenggara, namun sebisa mungkin jangan sampai ada yang mengatakan di situ -- dalam penilaian -- ada unsur KKN. Namun, saya tetap menumpukan harapan semoga GDA semakin berbobot.

 

Bisa Anda memantau, apa persoalan atau kelemahan mendasar musik pop Bali kita kini?

Saya melihat lagu pop Bali sekarang terpuruk. Sangat sulit mencari penyanyi yang bagus. Jujur saja, sebagai pendengar saya sangat merasakan hal itu. Tapi, mudah-mudahan saja nantinya akan lahir terus penyanyi-penyanyi yang memang berbobot.

 

Perkembangan musik pop Bali kini rasanya sudah membias dan memberagam. Artinya, di samping gaya Widi Widiana, masyarakat juga menggemari musik ala Lolot. Bukankah ini bisa disebut pergeseran selera masyarakat?

Betul. Saya termasuk orang yang paling rajin merekam lagu-lagu Bali. Setelah mengamati hasil-hasil rekaman sejumlah lagu Bali yang baru kini, kelihatannya generasi tua tidak pernah masuk di situ. Saya pernah mengumpulkan lagu-lagu yang menurut selera rekaman, ini yang terbagus. Ternyata lagu itu kayak pisang goreng. Bagi saya, warna Bali harus tetap dipertahankan. Saya menyadari, dalam rekaman lagu bagus belum tentu komersial dan lagu komersial adalah lagu pisang goreng yang seminggu atau dua minggu sudah bisa hilang. Lagu yang bagus dan tidak komersial akan lambat populernya, namun lagu yang demikian mungkin akan bertahan hidup sepanjang masa. Dari banyak lagu pop Bali yang muncul, saya melihat hanya beberapa saja yang bertahan. Misalnya dari lagu-lagu Widi Widiana yang begitu banyak, toh hanya lagu "Luh Sekar"-nya yang bisa bertahan. Itu karena lagu tersebut memiliki warna Bali yang bagus.

 

Dalam setiap penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) sering ada lomba cipta lagu, tetapi setelah lagu-lagu itu direkam dan dilempar ke pasar sering kurang diterima masyarakat. Padahal, lagu-lagu tersebut kental dengan nuansa Balinya. Komentar Anda?

Bagi saya, itu sering terbentur pada faktor penyanyinya atau siapa yang membawakan lagu itu. Saya ambil contoh di Jakarta, penyanyi jebolan festival seperti Harvey Malaeholo dan Rafika Duri kan butuh waktu cukup lama untuk populer dan diterima masyarakat. Yang kita perlukan di sini sesungguhnya adalah feeling. Saya orang yang sangat lama berkecimpung di studio rekaman, saya selalu menggunakan feeling. Saya ambil contoh pengalaman saya. Saya pernah memberikan lagu kepada penyanyi yang kurang mempunyai dasar-dasar musik memadai. Dia adalah Titiek Sandhora. Namun, setelah itu dia mengorbit dan terkenal. Di situlah feeling saya bermain bahwa seorang Titiek Sandhora yang lugu akan sukses.

 

Pernah suatu ketika dalam lomba cipta lagu PKB, lagu "Taluh Semuuk" menang, kemudian direkam dan diedarkan ke pasar. Tak terduga, lagu itu sangat digemari masyarakat. Ini suatu fenomena yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah PKB. Komentar Anda?

Ya, itu yang saya maksud tergantung siapa penyanyinya.

 

***

 

ANDA termasuk seniman yang intens mempersoalkan hak cipta. Menurut Anda, bagaimana persoalan hak cipta ini dalam musik pop Bali?

Sebelum saya meninggal dunia, saya akan tetap memperjuangkan soal hak cipta. Logika sederhananya begini, kan tidak semua orang bisa membuat lagu yang bagus dan membuat nama seorang penyanyi jadi naik. Maka dari itu, hargailah cak cipta seseorang. Jangan berpikiran, "ngapain saya minta penghargaan hak cipta, toh saya sudah bisa hidup". Jadi pada prinsipnya, karya kita itu harus dihargai. Di Bali, meskipun ada istilah dana punia, jangan sampai hak cipta juga di-dana punia-kan. Jangan sampai dengan alasan dana punia, hak cipta orang terabaikan atau imbalan terhadap ciptaan orang dikesampingkan. Hal ini jelas sama dengan membunuh senimannya sendiri. Saya sempat membuat lagu "Pesta Kesenian Bali" yang syairnya dibuat almarhum istri saya. Lagu ini bahkan sudah dipublikasikan Bali Post beberapa tahun lalu. Lagu itu juga sudah dibuatkan koor dan sering dinyanyikan. Namun kenyataannya, adakah yang mengucapkan terima kasih atau memberikan imbalan kepada saya atas lagu itu?

 

Sebagai seorang musisi yang sudah uzur, apa yang ingin Anda kerjakan ke depan?

Saya berencana akan membuat istana musik, museum musik, atau pusat dokumentasi musik di rumah sendiri. Saya banyak mengumpulkan piringan hitam, lagu-lagu, potret-potret berbagai jenis musik dan musisi dari seluruh Indonesia. Dengan koleksi saya seperti itu, rasanya sangat tepat jika saya menjadikan itu semua sebagai dokumentasi informatif terkait sejarah musik Indonesia umumnya. Mengapa saya membangun di rumah, karena bagi saya rumah saya adalah bagian dari sejarah tersebut. Saya memiliki banyak koleksi, hanya saja saya belum teratur menyimpannya. Saya ingin koleksi ini menjadi sarana informasi bagi generasi mendatang. Mereka harus tahu sejarah musik Indonesia umumnya dan Bali khususnya. Di samping musik, saya juga mendokumentasikan beragam hal, ada sejarah Badung, dan sebagainya. Saya juga akan menerbitkan buku biografi saya. Khusus soal buku biografi ini, proposalnya sudah saya ajukan ke Wali Kota Denpasar.

 

Sekarang, apakah Anda masih menciptakan lagu?

Ya, sekali-sekali ada. Saya sempat diminta bikin lagu untuk sebuah asosiasi advokat. Lagu-lagu Bali juga sebetulnya ada saya ciptakan, tetapi itu berbentuk lagu keroncong.

 

Apakah Anda masih tetap menerima royalti dari lagu-lagu Anda yang direkam ulang?

Masih, tetapi saya sudah dikerjain para calo atau -- ada yang mengistilahkan dengan -- mafia kaset. Misalnya ada produser memerlukan lagu-lagu saya, kemudian yang menghubungi saya adalah para calo itu. Baru-baru ini ada yang meminta lagu saya untuk direkam. Lucunya, dia menelepon saya dengan mengatakan lagu saya akan dipakai dan menyuruh saya menandatangai kuitansi Rp 1,5 juta. Saya menolak dan minta Rp 10 juta. Kemudian dia datang, harga lagu saya mau dinaikkan sampai di atas Rp 2,5 juta. Inilah permainan calo, dia bisa dapat Rp 2,5 juta, sementara kepada produser lagu itu dibayar lebih dari itu. Dengan permainan seperti ini, seniman menjadi miskin.

 

Bagaimana halnya jika lagu Anda itu kemudian "meledak" di pasaran, kan hak royaltinya ditambah lagi?

Kenyataannya tidak selalu demikian.

 

* pewawancara:
  budarsana
  gus martin

 

BIODATA

Nama                :  I Gusti Putu Gede Wedhasmara
Lahir                 :  Denpasar, 10 September 1932
Istri                  :  Nengah Landri Sudimara (Jero Kesuma), alm.
Anak                 :  Tiga pria dan dua wanita
Pendidikan        :  SR dan SMP di Denpasar
                           SMA St. Thomas di Yogyakarta

Pekerjaan         :  NV GIEB Denpasar (1954-1956)
                           Jawatan Pertanian Jakarta (1956-1963)
                           Bidang Rekaman Musik/Studio di Jakarta

Alamat              :  Puri/Jero Batan Moning, Br. Gerenceng
                           Jl. Sutomo No. 2 Denpasar
                           Telepon (0361) 410958

***

 

Pengalaman di Grup Musik:

Orkes Gabungan Denpasar
Orkes Keroncong Denpasar
Kwartet Mulyana/Suteja Yogyakarta
Orkes Keroncong pimp. Sukimin Yogyakarta
Orkes M. Sagi Melayu Ria Bluntas
Band Zaenal Combo pimp. Zaenal Arifin
Grup Remaco pimp. A. Rianto (alm.)


Ciptaan Lagu:

Kau Selalu di Hatiku
Senja di Batas Kota
Berpisah di St. Carolus
Bunga Flamboyan
Semalam di Kualalumpur
Kelopak Cinta
Masa Kecilku
Kembalilah Sayang
Di Teras Pertamina
Mirip Wajahnya
Ada Saja Gara-garanya
Jakarta di Waktu Malam
Dirgahayu Bunga Karno
Layang Putus Talinya (bersama Iskandar)
Senja di Wajah Ayu (bersama Isbandi)
Imbauan Pantai
Aku Ingin Bebas
Pesta Kenangan
Lalu Lintas
Relakan
Berselancar di Pantai Kuta
Seiring Sejalan
Kr. Malam Kenangan
Kr. Kekasihku
Kr. Bintang Pujaan
St Tak Percaya
Kaden Saje
Janger
Selikur Galungan
Tanah Lot, Jero Batanmoning
Tampak Siring
Galang Bulan
Di Bali Nuju Galungan
Leng Tiyang Puk
 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com