kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 9 April 2006 tarukan valas
 

APRESIASI


Upaya Mengajegkan Topeng Pajegan

Seorang penari memainkan sejumlah karakter topeng secara bergantian, dalam khasanah seni pertunjukan Bali disebut dengan Topeng Pajegan. Drama tari topeng yang dibawakan seorang diri ini memiliki kaitan erat dengan ritual keagamaan. Topeng yang disajikan secara borongan ini, pementasannya, biasanya diskenario pada klimaks prosesi upacara, berangkaian dengan puja-puji mantera pendeta dan tutur wayang lemah Mangku Dalang. Dari enam hingga 10 karakter topeng yang ditarikannya, pada puncak penampilannya akan dihadirkan topeng sidakarya yang secara psiko-religi melegitimasi dan memberkahi suksesnya pelaksanaan upacara.

--------------

 

SEMILOKA Panopengan Sidakarya yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Propinsi Bali bekerja sama dengan Yayasan Saba Budaya Hindu Bali, Senin (3/4) lalu, menyajikan Topeng Pajegan yang dibawakan oleh seniman topeng I Ketut Kodi, SSP, M.Si. Disaksikan oleh para pragina topeng, pengamat seni, dan budayawan yang datang dari seluruh penjuru Bali, Kodi yang juga dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, berkisah tentang riwayat keberadaan Dalem Sidakarya. Tak kurang dari 1,5 jam penonton menyimak dengan tekun penampilan estetik dan muatan nilai-nilai etik yang disajikan penari topeng yang juga dikenal sebagai dalang ini.

Alkisah, ketika di Pura Besakih berlangsung persiapan sebuah upacara nangluk merana pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggung, muncul orang asing berwajah jelek dan berpakaian kumal yang mengaku sebagai saudara raja. Penampilan yang menjijikkan dari pria yang juga mengaku seorang brahmana itu tak ada yang mempercayainya. Tanpa ada yang mengkomando, rakyat mengusir dan menghina orang dari Keling itu sembari mengejek dengan semburan kata-kata yang menyakitkan. Saat telah berada jauh dari kawasan upacara, tamu tak diundang ini mengumandangkan kutuk agar upacara itu kacau balau.

Benar. Hari-hari persiapan upacara itu kisruh. Sarana upacara yang sudah dibuat dengan sangat teliti dan  meletihkan tiba-tiba busuk dan hancur. Bahan-bahan pokok sarana upacara itu kembali sulit didapat. Tanah tiba-tiba kering. Tumbuh-tumbuhan layu dan mati. Cuaca panas dan rakyat kegerahan. Dalem Waturenggong dengan segera meneliksik penyebab petaka dan disharmoni itu. Ia mengutus bawahannya untuk menjemput brahmana Keling. Setelah menyampaikan maaf, brahmana Keling itu diminta oleh Dalem untuk terlibat penuh dalam upacara yang akan segera digelar. Brahmana Keling kemudian diakui sebagai saudara dan dianugerahkan gelar Dalem Sidakarya.

Legenda yang bersumber dari Babad Bebali Sidakarya itu dibingkai dalam struktur dramatik yang sudah menjadi tatanan seni pentas pertunjukan topeng. Diawali dengan introduksi penampilan topeng pangelembar. Kodi membuka dengan tarian topeng keras dan topeng tua. Bagian ini merupakan kesempatan bagi penari untuk unjuk keterampilan tarinya. Topeng keras yang hadir pertama memiliki ekspresi wajah tegas yang diungkap dengan interpretasi tari yang lugas nan gesit. Sebaliknya topeng tua yang menyusul kemudian hadir lunak, ekspresi raut wajah renta dengan rambut, alis, dan kumis yang putih. Kesepuhannya juga terlukis dengan laku geraknya yang gontai dan ringkih.

Munculnya tokoh penasar menandai mulainya bagian cerita. Tokoh dengan topeng setengah terbuka -- mata dan mulut -- ini bertindak selaku narator. Ia membuka cerita, mengendalikan alur, dan sebagai komentator. Kodi lewat tokoh penasar ini mencoba mengkontekstualisasikan setting lakonnya dengan lontaran beberapa penggal kritik sosial yang sedang mencuat akhir-akhir ini. Topeng Arsawijaya yang ditampilkan berikutnya mengarahkan suasananya menjadi hening. Topeng yang berparas karismatik dengan bingkai koreografi yang halus dan supel ini menggunakan gerak isyarat (gesture) dalam dramatisasinya. Dalam lakon yang dimainkan siang itu, topeng ini tak lain dari Dalem Waturenggong.

Tokoh-tokoh rakyat jelata yang disebut bondres menjadi pelengkap kompletnya sebuah pertunjukan topeng. Topeng Pajegan yang dibawakan Kodi di Wantilan Taman Budaya Denpasar itu menampilkan beberapa personifikasi orang kebanyakan. Pada pengadegan inilah kepiawaian seorang penari topeng terlihat, khususnya bagaimana memberi bobot terhadap tema lakon yang digulirkan lewat perwakilan atau aspirasi rakyat kecil. Kodi dengan karakterisasi yang kuat terasa begitu jeli memainkan tokoh-tokoh bondres-nya, baik yang tampak lewat totalitas perwatakannya maupun melalui isian topik yang dijadikan acuan komunikasi nilai-nilai moral-spiritual keagamaan yang dikemas secara humoristik.

Topeng Sidakarya yang muncul pada akhir drama tari Topeng Pajegan memang berfungsi atau dimaknai untuk mengukuhkan sebuah upacara keagamaan. Figur terpenting dan utama dalam topeng ritual ini berwarna putih yang merupakan kombinasi antara ekspresi wajah manusia dan demonik. Mulutnya menganga antara tertawa dan meringis. Matanya memicing antara menakuti dan mengasihi. Dengan bokor yang berisi canang sari, beras kuning, dupa, dan uang kepeng, tokoh yang dihadirkan dengan laku antara ganas dan penyayang ini mengucapkan mantra-mantra dan kemudian melempar ke segala arah pis bolong tersebut.

Di tengah masyarakat Bali, topeng ritual ini tidak harus majeg atau dibawakan hanya oleh seorang penari namun banyak juga dimainkan oleh beberapa orang seniman. Namun pada prisipnya, untuk menampilkan Topeng Sidakarya biasanya diemban oleh penari utama yang dianggap memiliki persyaratan spiritual. Menurut Dr. I Nyoman Catra, SST, MA, praktisi seni pertunjukan dan akademisi ISI Denpasar yang menjadi pemakalah tunggal dalam semiloka yang dipandu oleh antropolog Unud Drs. I Wayan Geria itu, seorang pelaku seni panopengan sidakarya harus melalui proses penyucian diri setidaknya dengan upacara pawintenan.

"Sesuai dengan fungsi Topeng Sidakarya untuk memberikan pengukuhan terhadap kesuksesan sebuah upacara yang bertalian dengan unsur kesucian, sudah barang tentu menuntut adanya sakralisasi terhadap tapel-tapel dan alat-alat perlengkapan pentas yang digunakan maupun bagi pelaku atau penari topeng itu sendiri," jelas Catra.

Semiloka sehari yang dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Bali I Nyoman Nikanaya ini juga mengundang narasumber seniman serba bisa I Made Sija dan penari topeng Carangsari I Gusti Ngurah Windia. "Melalui semiloka ini pada intinya kami mengharapkan agar panopengan sidakarya tetap ajeg dalam fungsi religiusnya, dan mudah-mudahan memunculkan standar yang bernuansa keragaman yang bisa dijadikan acuan estetika, etika, dan logika oleh para pegiat seni ini," ujar Drs. Dewa Putu Beratha, M. Si, Kepala Taman Budaya Propinsi Bali, selaku penyelenggara.

Sedangkan dalam konteks seni yang memberikan wawasan moral-spiritual, kiranya Topeng Pajegan dengan Topeng Sidakarya-nya sudah menunaikan kewajibannya sebagai guru loka. Hal ini agaknya sangat tergantung dari idealisme, pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab yang dimiliki oleh pragina topeng. Sebagai pengukuh upacara keagamaan, sudah semestinya para seniman topeng ini memberikan persembahan seni dan mempersembahkan keindahan sukmawi bagi masyarakat pendukungnya.

* kadek suartaya

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com