kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 9 April 2006 tarukan valas
 

BERITA


Dek Ulik
Menyanyi dengan Hati

DULU, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran Dek Ulik akan menjadi penyanyi pop Bali. Padahal, ketika kecil penyanyi kelahiran Gianyar, 11 Januari 1984 bernama asli Ni Made Suastini yang kini masuk sebagai salah satu nominator penyanyi terbaik di GDA 2006 ini bercita-cita jadi penari.

Di tengah persaingan ketat dengan bermunculannya banyak penyanyi muda berbakat, Dek Ulik telah mampu membuktikan dirinya sebagai penyanyi yang diperhitungkan. Berawal dari lomba karaoke di radio, akhirnya penyanyi yang dikenal dengan lagu-lagu melankolis ini mampu tetap eksis di jalur musik pop Bali. Tiga penghargaan di ajang bergengsi GDA sebelumnya sudah pernah diraih ibu dari Ni Putu Sinta Sartika Putri (1,5). Kegagalan berumah tangga tak membuatnya larut dalam kesedihan.

Kini, selain sibuk rekaman dan konser, Dek Ulik mengisi waktu sebagai penyiar di radio milik Pemerintah Gianyar. "Di luar dugaan, ternyata bakat saya justru di nyanyi," ujar pelantun lagu "Somahe Bebotoh" yang mengaku sama sekali tak pernah ikut lomba nyanyi ini. "Saya termasuk orang yang beruntung mendapat tawaran rekaman. Mungkin saja suara saya dinilai bagus. Tentu saja kesempatan waktu itu saya sambut gembira. Sebab, saya yakin tak banyak orang yang mendapat kesempatan seperti saya. Apalagi saat itu lagu pop Bali sangat jarang, tak seperti saat ini," kenang alumnus SMEA Negeri Gianyar yang memulai debut lewat lagu "Mepamit" ini.

Dulu, aku Dek Ulik, kedua orangtuanya sempat tak setuju kalau dirinya jadi penyanyi. "Alasannya sederhana, saya jarang di rumah dan kalau rekaman tengah malam baru bisa pulang. Tapi saya punya tekad yang bulat untuk meneruskan sesuatu yang telah saya rintis dengan susah payah. Sangat disayangkan jika dibiarkan begitu saja. Kepalang basah, sekalian mandi saja," papar Dek Ulik yang mengawali kariernya dengan bergabung bersama penyanyi Yanse serta akhirnya merilis album solo lewat Januadi Record ini.

Album solo pertama Dek Ulik berjudul "Rindu Ngantosan Janji", menyusul "Somahe Bebotoh" yang membuatnya di puncak popularitas kini. "Karena lagu 'Somahe Bebotoh' itulah saya berkesempatan diundang nyanyi di rumah dinas saat ulang tahun Pak Mangku Pastika (saat itu masih menjabat Kapolda Bali, red)," cerita penyanyi berkarakter suara khas ini. ''Soal suara khas ini, saya percaya ini karunia Tuhan yang patut saya syukuri yang menbuat saya bisa hidup dan dikenal orang. Saya sebelumnya sama sekali tak pernah latihan vokal," sambungnya.

Dek Ulik mengaku sangat mensyukuri keadaannya saat ini. "Tapi sisi lainnya selalu ada. Ternyata jadi orang yang dikenal itu tak selalu menyenangkan. Terutama dengan omongan miring. Jadi orang terkenal, kita dituntut selalu bersikap sempurna. Padahal saya juga seperti orang lain, punya persoalan. Prinsip hidup saya sederhana, saya ingin jadi orang biasa. Saya tak ingin menjadi orang lain," paparnya.

Apa pendapat Dek Ulik tentang musik pop Bali ke depan? "Saya menginginkan ada suatu dinamika di musik pop Bali, yang bisa menjadikan lagu pop Bali memiliki ciri khas Bali dan bisa diterima di blantika musik nasional. Orang dengan sendirinya tahu itu lagu pop Bali tak hanya dari lirik, namun juga iramanya," komentar penyanyi yang mengaku tidak fanatik dengan lagu ciptaan satu pengarang ini.

Lantas, apakah Dek Ulik tidak tertarik jadi pencipta lagu juga? "Jadi pencipta lagu itu sulit, apalagi saya tak bisa main gitar. Keinginan itu tentu ada. Lewat syair yang ada dalam lagu, saya ingin mengungkapkan apa yang ada di hati saya. Saya ingin orang tahu isi hati saya, lewat lagu itu. saya ingin menyanyi dengan hati. Kalau saya menciptakan lagu tak lebih dari ungkapan perasaan saya yang paling dalam untuk orang lain. Memang membawakan lagu ciptaan sendiri jauh bisa lebih menghayati," jelas Dek Ulik.

* astra prayoga

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com