Galungan,
''Mulatsarira''
Pawedalan
jagat
Hari Galungan yang
jatuh
pada Hari
Rabu
Kliwon Wuku
Dungulan, 3
Mei 2006,
hendaknya
dilaksanakan
dengan
mulatsarira, dengan
kesucian
dan
ketulusan hati
memohon
kebahagiaan hidup
agar menjauhkan
diri
dari awidya.
Mampukah
sebagai
umat manusia
memaknai
Galungan
ini
berjuang antara yang
benar (dharma)
melawan yang
tak
benar?
Apalagi
dalam
kondisi ekonomi yang
serba
sulit di
mana
makan dan
isi
perut merupakan
keperluan
pokok
dalam menjalankan
swadarma
hidup
ini.
Sekalipun
hidup
ini dalam
keadaan
awidya (kegelapan)
yaitu
nafsu murka,
iri
hati, congkak
angkara,
sebagaimana
disimbulkan
sebagai Sang
Kala
Tiga.
Dalam
merayakan
Galungan
sebagai
hari suci
betapapun
kegelapan
itu
harus mampu
dilawan agar
Bhuta
Amangkurat pergi
menjauhkan
diri
dari kita.
Semuanya
harus
dilaksanakan dengan
dharma (kebenaran)
bukan
kesenangan.
Sebab
kadang-kadang yang
benar
belum tentu
menyenangkan,
demikian pula
menyenangkan
itu
belum tentu pula
benar.
Tapi
menjadi
keyakinan kita yang
benar
itu adalah
benar.
Setidaknya
melalui
hari suci
hendaknya
mampu
memberikan motivasi
dan
evaluasi untuk
ke
depan serta
membentangkan
keseimbangan
demi
mencapai kedamaian,
keteguhan
batin
serta kesabaran
dalam
menghadapi berbagai
cobaan.
Merayakan
Galungan
benar-benar
untuk
terwujudnya hubungan
dengan
orang sederajat
sampai
tercipta suasana
rukun
damai hormat
menghormati
dan
saling membantu
demi
ajegnya Bali untuk
selama
lamanya.
I Made Jara
Atmaja
Jl.
Nusa
Indah Gang II/3
Denpasar