kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 28 April 2006

 Mimbar Islam


Ihwal Musibah Itu
 

Zhaharal fasaadu filbarri walbahri 'imaa kasabat aidinnaasi. 

ISAK tangis mewarnai hari-hari mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Musibah banjir itu, sebagaimana musibah lainnya, telah merenggut sekian banyak nyawa manusia. Duka mendalam tak serta merta hilang kendati segepok uang asuransi atau sekian paket sumbangan diterima oleh mereka yang sedang berduka lantaran  kehilangan sanak saudaranya.

Gambaran seperti itu semakin sering saja kita jumpai di berbagai tempat di negeri tercinta ini. Ada apa sebenarnya di balik berbagai musibah itu?

Alquran Karim, sebagaimana dikutip pada ayat di atas, menegaskan bahwa terjadinya suatu musibah adalah disebabkan oleh perbuatan tangan manusia: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia,"  (Q.S. ar-Rum [30]: 41).

Akibat kesalahan manusia sendirilah akhirnya musibah pun terjadi. Tapi mengapa Allah SWT mengizinkan musibah itu terjadi? Dalam lanjutan ayat tersebut ditegaskan: "Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Persoalannya kini adalah, sadarkah diri kita bahwa musibah itu (apa pun bentuknya dan siapa pun yang mengalaminya) karena kesalahannya sendiri? Jika pun menyadari, bagaimana semestinya sikap kita? "Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang azab di mana kamu tidak dapat ditolong (lagi)," (Q.S. az-Zumar 54).

Tentu saja dengan mencari kambing hitam tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Sedangkan bagi orang beriman, yakin bahwa musibah yang terjadi adalah akibat kesalahannya sendiri dan mengimani bahwa Allahlah yang mengizinkan terjadinya musibah yang menimpanya, maka Allah pun akan menunjukinya dalam mengatasi musibah itu.

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. at-Tagaabun [64]: 11).

Sayangnya, banyak orang yang tertimpa musibah, tidak mau kembali kepada Allah SWT. Malah ada yang "lari" ke dukun, paranormal dan semacamnya. Padahal Alquran memandu kita yang tertimpa musibah agar bersabar dan mengembalikan urusan yang dihadapi kepada Allah SWT.

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-157).

Rasulullah SAW mengajari kita ber-istirjaa atau berucap : "Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" saat tertimpa musibah, baik musibah besar maupun kecil. "Bahkan jika tali sandalmu putus pun, itu juga musibah," sabdanya.

Apabila kita terbiasa mengembalikan urusan kepada Allah SWT dengan ber-istirjaa (menyatakan kembali kepada Allah), niscaya kita tidak mudah berkecil hati, apalagi sampai berputus asa dalam menghadapi suatu musibah.

Sejatinyalah kesalahan-kesalahan kita tidaklah sedikit. Itu berati berbagai musibah telah menunggu di depan kita. Kita tidak akan memperoleh penolong selain Allah agar terhindar dari musibah itu (Q.S. 42 : 31). Karenanya, sungguh tindakan cerdas apabila kita banyak mohon ampun dan bertobat kepada-Nya, seraya memperbaiki kesalahan-kesalahan tadi dengan banyak melakukan amal kebajikan.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)