Ihwal Musibah Itu
Zhaharal fasaadu filbarri walbahri 'imaa kasabat
aidinnaasi.
ISAK
tangis mewarnai hari-hari mereka yang kehilangan anggota
keluarganya. Musibah banjir itu, sebagaimana musibah
lainnya, telah merenggut sekian banyak nyawa manusia.
Duka mendalam tak serta merta hilang kendati segepok
uang asuransi atau sekian paket sumbangan diterima oleh
mereka yang sedang berduka lantaran kehilangan
sanak saudaranya.
Gambaran seperti itu semakin sering saja kita jumpai di
berbagai tempat di negeri tercinta ini. Ada apa
sebenarnya di balik berbagai musibah itu?
Alquran Karim, sebagaimana dikutip pada ayat di atas,
menegaskan bahwa terjadinya suatu musibah adalah
disebabkan oleh perbuatan tangan manusia: "Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena
perbuatan tangan manusia," (Q.S. ar-Rum [30]: 41).
Akibat kesalahan manusia sendirilah akhirnya musibah pun
terjadi. Tapi mengapa Allah SWT mengizinkan musibah itu
terjadi? Dalam lanjutan ayat tersebut ditegaskan: "Supaya
Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar)."
Persoalannya kini adalah, sadarkah diri kita bahwa
musibah itu (apa pun bentuknya dan siapa pun yang
mengalaminya) karena kesalahannya sendiri? Jika pun
menyadari, bagaimana semestinya sikap kita? "Dan
kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah
kepada-Nya, sebelum datang azab di mana kamu tidak dapat
ditolong (lagi)," (Q.S. az-Zumar 54).
Tentu saja dengan mencari kambing hitam tidak akan
pernah bisa menyelesaikan masalah. Sedangkan bagi orang
beriman, yakin bahwa musibah yang terjadi adalah akibat
kesalahannya sendiri dan mengimani bahwa Allahlah yang
mengizinkan terjadinya musibah yang menimpanya, maka
Allah pun akan menunjukinya dalam mengatasi musibah itu.
"Tidak
ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali
dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada
Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. at-Tagaabun
[64]: 11).
Sayangnya, banyak orang yang tertimpa musibah, tidak mau
kembali kepada Allah SWT. Malah ada yang "lari" ke dukun,
paranormal dan semacamnya. Padahal Alquran memandu kita
yang tertimpa musibah agar bersabar dan mengembalikan
urusan yang dihadapi kepada Allah SWT.
"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila
ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innalillaahi wa
innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan
merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. al-Baqarah
[2]: 155-157).
Rasulullah SAW mengajari kita ber-istirjaa atau berucap
: "Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" saat tertimpa
musibah, baik musibah besar maupun kecil. "Bahkan jika
tali sandalmu putus pun, itu juga musibah," sabdanya.
Apabila kita terbiasa mengembalikan urusan kepada Allah
SWT dengan ber-istirjaa (menyatakan kembali kepada
Allah), niscaya kita tidak mudah berkecil hati, apalagi
sampai berputus asa dalam menghadapi suatu musibah.
Sejatinyalah kesalahan-kesalahan kita tidaklah sedikit.
Itu berati berbagai musibah telah menunggu di depan kita.
Kita tidak akan memperoleh penolong selain Allah agar
terhindar dari musibah itu (Q.S. 42 : 31). Karenanya,
sungguh tindakan cerdas apabila kita banyak mohon ampun
dan bertobat kepada-Nya, seraya memperbaiki
kesalahan-kesalahan tadi dengan banyak melakukan amal
kebajikan.