Amankan
Aksi
Unjuk Rasa 1 Mei --
Polisi
Ancam
Tembak
di
Tempat
Jakarta (Bali Post) -
Polisi
siap
mengamankan aksi
unjuk
rasa besar-besaran
para
buruh yang rencananya
digelar 1
Mei
mendatang.
Namun,
polisi
akan bertindak
tegas,
termasuk melakukan
tindakan
tembak
di tempat,
jika
nantinya aksi
demonstrasi
itu
berubah menjadi
anarkis. ''Jika
(aksi
itu) sudah
mengancam
keselamatan
harta
benda ataupun
nyawa
orang lain, kita
pasti
akan
mengambil
tindakan
tegas,''
kata
Kapolda Metro Jaya
Irjen
Pol. Firman
Gani
usai bertemu
dengan 87
organisasi
buruh se-Jabotabek
di
Mapolda Metro Jaya
Jakarta, Kamis (27/4)
kemarin.
Dijelaskan
Kapolda, yang
dimaksud
dengan
tindakan tegas
adalah
seluruh petugas
di
lapangan diperkenankan
untuk
melakukan tindakan
tembak
di tempat
terhadap
para
perusuh yang menunggangi
aksi
itu, yang membuat
situasi
keamanan di
ibu
kota
memburuk.
''Namun,
itu
semua tergantung
kondisi
di lapangan
nantinya,''
kata
mantan Komandan
Korps Brigade Mobil (Brimob)
Polri
ini.
Jika
nantinya
aksi
unjuk rasa
itu
berlangsung dengan
tertib,
Firman berjanji,
polisi
juga
akan bersikap
persuasif.
Artinya,
polisi
tidak
akan menggunakan
senjata
apa pun, termasuk
pentungan
sekalipun,
jika
para pengunjuk
rasa
bertindak sesuai
dengan
tujuannya semula,
yaitu
menolak rencana
revisi UU
Ketenagakerjaan. ''Kami
tidak
akan menggunakan
senjata
apa pun, termasuk
pentungan,''
katanya.
Mengenai
jumlah
kekuatan aparat
keamanan yang
akan
diturunkan
untuk
mengamankan aksi demo
itu,
pihaknya telah
menyiapkan
sebanyak 13.400
personel
Polda Metro
Jaya.
Kekuatan itu
masih
akan ditambah
dengan
bantuan dari
satuan lain,
berupa 4.000
personel
dari
Pemda DKI Jakarta, dua
batalion
dari
Kodam Jaya,
serta lima
satuan
setingkat kompi (SSK)
Marinir TNI-AL.
Meski
memperhitungkan gangguan
keamanan
akan
terjadi antara
tanggal 30 April
hingga 5
Mei
mendatang, namun
Kapolda
berharap perhitungannya
itu
salah.
Tidak
Terbendung
Di
tempat yang
sama,
Sekretaris
Jenderal
Serikat
Buruh Seluruh
Indonesia (SBSI) Didin
Rosidin yang
hadir
dalam pertemuan
itu
mengatakan, rencana
aksi
demonstrasi besar-besaran
yang akan
dilakukan
berbagai
organisasi
buruh
itu sudah
tidak
dapat terbendung.
''Kemungkinan
besar
aksi demo penolakan
itu
dilakukan besar-besaran,''
katanya.
Sementara
itu,
Sekjen Serikat
Pekerja
Seluruh Indonesia (SPSI)
Reformasi Roja
berharap
aksi
unjuk rasa
buruh
itu dapat
didengar
oleh
pemerintah, sehingga
di masa
mendatang
buruh
tak perlu
lagi
menggelar aksi
serupa
hanya untuk
menyampaikan
aspirasinya.
''Kita berharap
aksi
itu dapat
berjalan
dengan
damai,'' harap
Roja.
(kmb5)