Subsidi
BBM Bisa
Membengkak
Rp 21,4
Trilyun
Jakarta (Bali Post) -
Ketekoran
anggaran
untuk
menutup subsidi
Pertamina
atas
produksi Bahan
Bakar
Minyak (BBM)
diperkirakan bakal
melesat
hingga Rp 21,36
trilyun,
jika
langkah-langkah penghematan
tidak
dilakukan. Jumlah
lonjakan
subsidi
itu diasumsikan
bila
harga minyak
dunia
pada level 72 dolar
AS per barel.
Pada
pers di
Jakarta, Kamis (27/4)
kemarin,
Menteri Negara
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
Paskah
Suzetta mengatakan,
pada level
minyak
dunia 72 dolar AS
maka total
keseluruhan
subsidi yang
harus
ditanggung pemerintah
akan
mencapai Rp75,84 trilyun.
Padahal,
dalam APBN 2006,
alokasi
subsidi di
sektor
ini hanya
Rp 54,28
trilyun.
"Jumlah
itu
jelas berat
sekali
karena APBN juga
harus
menanggung tambahan
subsidi
listrik dan
pupuk,
sehingga diperkirakan
tambahan
subsidi
di APBN bisa
sekitar
Rp 40 trilyun,"
jelas
Paskah. Untuk
mencegah
beban
negara bertambah,
Bappenas
membuat
kajian tentang
langkah yang
mungkin
dilakukan.
Hasil
hitungan
Bappenas,
bila
pengurangan konsumsi
BBM sekitar 9,4
juta kilo liter
pada
tahun ini,
maka
konsumsi BBM yang
diperkirakan sebesar
59.4 juta kilo liter
dikurangi
menjadi 50
juta kilo liter.
Dengan
pengurangan konsumsi
BBM sebanyak
itu,
dengan asumsi
harga
minyak rata-rata 72 dolar
AS per barel,
maka
subsidi BBM hanya
akan
menjadi Rp 54,48
trilyun.
Dijelaskannya,
pengurangan volume
pemakaian BBM
dalam
negeri bisa
dilakukan
dengan
diversifikasi energi
dan
langkah penghematan.
Langkah
penghematan yang paling
dimungkinkan adalah
di
sektor transportasi
darat yang
selama
ini menjadi
pemakai BBM
terbesar.
"Secara
jangka
pendek langkah
penghematan
ini
membutuhkan regulasi
untuk
mendorong adanya
perubahan
nilai
dan perilaku
masyarakat yang
memperhatikan
upaya-upaya
penghematan
energi
baik di
tingkat
pemerintah, masyarakat
dan
dunia usaha
terutama
sektor
transportasi,'' jelas
dia.
Mengenai
regulasinya
sendiri,
kata
dia, pemerintah
bersama
dengan DPR akan
segera
membahasnya. Regulasi
yang bersifat
mengikat,
menurut
dia, sangat
diperlukan
mengingat
himbauan
pemerintah
untuk
penghematan BBM pada
tahun
lalu dianggap
gagal
karena kurang
mendapat
tanggapan.
Sementara
itu,
Menteri Keuangan Sri
Mulyani
belum bisa
berkomentar
banyak
mengenai perubahan
yang akan
dilakukan
dalam APBN
khusunya yang
menyangkut
semua
asumsi. Katanya,
revisi APBN
tidak
akan dipercepat
dan
sesuai siklusnya,
yakni
pada Juli 2006
mendatang.
Tetapi,
Sri Mulyani
mengakui,
tekanan
harga minyak
dunia
dan agenda persoalan
yang yang
merupakan
warisan
masa lalu
menjadi
tantanganberat bagi
pemerintah.
Apalagi,
kondisi
perekonomian saat
ini
masih belum
pulih
benar setelah
kenaikan BBM
dan
berbagai guncangan
bencana
tahun lalu.
Di
sisi lain,
situasi
keuangan internasional
yang cenderung
jinak
dengan melimpahnya
likuiditas global yang
luapannya
juga
mengimbas pada
perekonomian
telah
menyebabkan indeks
harga
saham dan
mata
uang rupiah
menguat
secara dramatis. "Ini
jelas
karena perekonomian
Indonesia yang telah
dianggap
baik
dan memiliki
potensi
besar," kata
Menkeu.
Meksi
begitu,
pemerintah tetap
akan
waspada. Mengingat,
situasi
keuangan global tidak
akan
selamanya ramah.
Kecenderungan
suku
bunga internasional
dan
harga minyak yang
cenderung
terus
meningkat, dan
ketidakseimbangan
ekonomi global yang
belum
menemukan solusi yang
kredibel
akan
terus menjadi
ancaman
konstan bagi
manajemen
ekonomi
nasional. (kmb2)