kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 28 April 2006

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Pembangunan
Pura untuk Kepentingan Pejabat --
Melanggar
Pakem dan tak Sesuai Keinginan Masyarakat

PEMBANGUNAN pura di Bali menganut konsep ruang makro. Di kalangan arsitek pun tak banyak yang mengetahui bagaimana merancang dan merencanakan arsitektur pura. Dalam seminar ''Bali, Ritus, Ruang dan Arsitektur Pura" yang diadakan Fakultas Teknik Unwar, Rabu (26/4) terungkap bahwa pemugaran pura di Bali banyak yang mengabaikan filsafat, tatwa, dan pakem adat serta tradisi. Pemugaran pura cenderung untuk kemegahan dan untuk memenuhi pesanan pejabat. Hal ini dibenarkan oleh sejumlah masyarakat. Ketika pura dibangun untuk kepentingan pejabat, jelas sudah melanggar pakem dan hasilnya sudah tentu tidak sesuai dengan keinginan masyarakat di mana pura hanya menampilkan kemegahan. Ini sudah mengarah pada kepentingan personal. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa pura dibangun hanya untuk kemegahan, salah satunya mungkin tidak ada kesadaran bahwa pura dibangun berdasarkan sastra, filsafat, tatwa. Pembangunan pura sekarang ini lebih menonjolkan kemegahan, dibangun berdasarkan kemampuan, namun tidak mengindahkan aturan yang ada. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung oleh Radio Global FM 96,5 Kamis (27/4) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

-----------------------

Menurut Sudira, kalau dikatakan untuk kepentingan pejabat, dia tidak sependapat sebab keluarganya sendiri kebetulan banyak menjadi pejabat tidak pernah mau mengubah bangunan Pura Pedharmannya dan tetap membiarkan bangunan seperti semula yang sudah diwariskan oleh para Batara Leluhur orang Bali. Sudira mengamati sejumlah Pura Padharman membuat bale paselang, padahal bale ini hanya boleh ada di Pura Penataran Agung Besakih.

Ledang Asmara membenarkan bahwa pemugaran pura cenderung untuk kemegahan dan memenuhi pesanan pejabat. Ikatan Arsitektur, menurutnya, tidak tegas. Mereka tidak mau protes ketika ada sesuatu yang menyimpang, padahal itu adalah hal yang menyimpang.

Menurut Yogi, para pejabat dalam memberikan dana tidak ada pamrihnya. Di Jembrana, misalnya, pejabat dengan rela memberikan bantuan. Dia mengajak untuk tidak negative thinking terhadap pejabat.

Sementara itu, Alit menegaskan bahwa saat ini juga para pejabat sedang meresmikan pura di Gianyar. Panca datu secara fisik juga sudah dikeluarkan dari Bali, pengeboran geothermal. Panca datu yang kita percaya dalam konteks keyakinan beragama secara fisik sudah dirusak. Apa yang harus kita pertahankan lagi?

Wayan Sanur melihat kesemangatan warga dalam membangun pura sangat luar biasa dan semua sukarela memberikan sumbangan. Dia hanya heran jika dikatakan pejabat mencari keuntungan dari pembangunan pura. Dengan kemajuan zaman dan semangat maka adanya penambahan dalam pembangunan pura harus kita maklumi. Saat ini Bali memerlukan dukungan yang sangat besar dari pengusaha/pejabat.

Menurut Pande, ini sudah mengarah pada kepentingan personal. Pura adalah alat/piranti yang dibentuk untuk menuju Tuhan. Oleh karena itu, membangun pura harus berdasarkan acuan yang dibuat oleh para leluhur. Ketika pura dibangun untuk kepentingan pejabat, jelas sudah melanggar pakem dan hasilnya sudah tentu tidak sesuai dengan keinginan masyarakat di mana pura hanya menampilkan kemegahan. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa pura dibangun hanya untuk kemegahan, salah satunya mungkin karena tidak ada kesadaran bahwa pura dibangun berdasarkan sastra, filsafat, tatwa. Pande mengharapkan konsep pembangunan pura back to basic sebab inilah sejatinya.

Agung Purnawijaya menambahkan, pembangunan pura oleh para leluhur kita adalah berdasarkan tatwa. Namun, sekarang pembangunan pura lebih berdasarkan kemampuan. Pura dibangun dengan semegah-megahnya dan ditambah dengan ini dan itu. Hal ini wajar saja, namun jangan menggunakan kemampuan untuk menghancurkan agama sendiri dan jangan melupakan purana/aturan yag sudah ada.

Ngurah Bagus juga menilai pembangunan pura sekarang ini lebih menonjolkan kemegahan dan berdasarkan kemampuan, namun tidak mengindahkan aturan yang ada. Hal seperti ini harus dipikirkan. Jangan membangun pura hanya untuk kemegahan sementara masyarakat kecil dipaksa. Memang inilah kenyataan yang ada, membangun pura dengan mengemis dan memaksa. Ke depan hal seperti ini jangan sampai ada lagi.

Hal senada juga ditegaskan oleh Putu Antara, jangan membangun pura hanya karena punya uang banyak. Secara mendetail dia memang tidak tahu banyak tentang aturan membangun pura. Namun, menurutnya, uang dan kemegahan bukan ukuran membangun pura. Pembangunan pura harus didasarkan pada tatwa, filsafat dan pakem adat. Untuk itu dia mengajak marilah kita kembali pada jati diri masing-masing dan hentikan pembangunan pura yang hanya memikirkan kemegahan semata.

Jeri tidak mempermasalahkan pura itu megah atau tidak, yang jelas harus kembali pada pakem yang sudah ada. Sekarang inilah (pakem) yang dilanggar untuk mendapatkan sumbangan tertentu.

Marabani menambahkan, yang terpenting jangan membuat kesalahan yang merugikan orang lain. Pada dasarnya semua risiko ditanggung oleh kita sendiri.* mei

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)