Dari
Warung Global
Interaktif Bali Post
Pembangunan
Pura
untuk Kepentingan
Pejabat --
Melanggar
Pakem
dan tak
Sesuai
Keinginan Masyarakat
PEMBANGUNAN
pura di
Bali menganut
konsep
ruang makro.
Di
kalangan
arsitek pun
tak
banyak yang mengetahui
bagaimana
merancang
dan
merencanakan arsitektur
pura.
Dalam
seminar ''Bali,
Ritus,
Ruang dan
Arsitektur
Pura" yang
diadakan
Fakultas
Teknik
Unwar, Rabu (26/4)
terungkap
bahwa
pemugaran pura
di Bali
banyak yang mengabaikan
filsafat,
tatwa,
dan pakem
adat
serta tradisi.
Pemugaran
pura
cenderung untuk
kemegahan
dan
untuk memenuhi
pesanan
pejabat. Hal
ini
dibenarkan oleh
sejumlah
masyarakat.
Ketika
pura
dibangun untuk
kepentingan
pejabat,
jelas
sudah melanggar
pakem
dan hasilnya
sudah
tentu tidak
sesuai
dengan keinginan
masyarakat
di mana
pura
hanya menampilkan
kemegahan.
Ini
sudah
mengarah pada
kepentingan personal.
Banyak
faktor yang
menyebabkan
kenapa
pura dibangun
hanya
untuk kemegahan,
salah
satunya mungkin
tidak
ada kesadaran
bahwa
pura dibangun
berdasarkan
sastra,
filsafat, tatwa.
Pembangunan
pura
sekarang ini
lebih
menonjolkan kemegahan,
dibangun
berdasarkan
kemampuan,
namun
tidak mengindahkan
aturan yang
ada.
Demikian
terungkap
dalam
acara Warung Global
yang disiarkan
secara
langsung oleh Radio
Global FM 96,5
Kamis (27/4)
kemarin.
Acara
ini
juga dipancarluaskan
Radio Genta Bali
dan
Singaraja FM. Berikut
rangkuman
selengkapnya.
-----------------------
Menurut
Sudira,
kalau dikatakan
untuk
kepentingan pejabat,
dia
tidak sependapat
sebab
keluarganya sendiri
kebetulan
banyak
menjadi pejabat
tidak
pernah mau
mengubah
bangunan
Pura
Pedharmannya dan
tetap
membiarkan bangunan
seperti
semula yang sudah
diwariskan
oleh
para Batara
Leluhur
orang
Bali.
Sudira
mengamati
sejumlah
Pura
Padharman membuat
bale paselang,
padahal bale
ini
hanya boleh
ada di
Pura
Penataran Agung
Besakih.
Ledang
Asmara membenarkan
bahwa
pemugaran pura
cenderung
untuk
kemegahan dan
memenuhi
pesanan
pejabat.
Ikatan
Arsitektur, menurutnya,
tidak
tegas.
Mereka
tidak
mau protes
ketika
ada sesuatu yang
menyimpang,
padahal
itu adalah
hal yang
menyimpang.
Menurut
Yogi, para
pejabat
dalam memberikan
dana
tidak
ada pamrihnya.
Di
Jembrana, misalnya,
pejabat
dengan rela
memberikan
bantuan.
Dia
mengajak
untuk
tidak negative thinking
terhadap pejabat.
Sementara
itu, Alit
menegaskan
bahwa
saat ini
juga
para pejabat
sedang
meresmikan pura
di
Gianyar.
Panca
datu
secara fisik
juga
sudah dikeluarkan
dari
Bali,
pengeboran geothermal.
Panca
datu yang
kita
percaya dalam
konteks
keyakinan beragama
secara
fisik sudah
dirusak.
Apa
yang harus
kita
pertahankan lagi?
Wayan
Sanur
melihat kesemangatan
warga
dalam membangun
pura
sangat luar
biasa
dan semua
sukarela
memberikan
sumbangan.
Dia
hanya
heran jika
dikatakan
pejabat
mencari keuntungan
dari
pembangunan pura.
Dengan
kemajuan
zaman
dan semangat
maka
adanya penambahan
dalam
pembangunan pura
harus
kita maklumi.
Saat
ini
Bali memerlukan
dukungan yang
sangat
besar dari
pengusaha/pejabat.
Menurut
Pande,
ini sudah
mengarah
pada
kepentingan personal.
Pura
adalah
alat/piranti yang dibentuk
untuk
menuju Tuhan.
Oleh
karena
itu, membangun
pura
harus berdasarkan
acuan yang
dibuat
oleh para
leluhur.
Ketika
pura
dibangun untuk
kepentingan
pejabat,
jelas
sudah melanggar
pakem
dan hasilnya
sudah
tentu tidak
sesuai
dengan keinginan
masyarakat
di mana
pura
hanya menampilkan
kemegahan.
Banyak
faktor yang
menyebabkan
kenapa
pura dibangun
hanya
untuk kemegahan,
salah
satunya mungkin
karena
tidak ada
kesadaran
bahwa
pura dibangun
berdasarkan
sastra,
filsafat, tatwa.
Pande
mengharapkan
konsep
pembangunan pura back
to basic sebab
inilah
sejatinya.
Agung
Purnawijaya
menambahkan,
pembangunan
pura
oleh para
leluhur
kita adalah
berdasarkan
tatwa.
Namun,
sekarang
pembangunan
pura
lebih berdasarkan
kemampuan.
Pura
dibangun
dengan
semegah-megahnya dan
ditambah
dengan
ini dan
itu. Hal
ini
wajar saja,
namun
jangan menggunakan
kemampuan
untuk
menghancurkan agama sendiri
dan
jangan melupakan
purana/aturan
yag
sudah
ada.
Ngurah
Bagus
juga menilai
pembangunan
pura
sekarang ini
lebih
menonjolkan kemegahan
dan
berdasarkan kemampuan,
namun
tidak mengindahkan
aturan yang
ada.
Hal seperti
ini
harus dipikirkan.
Jangan
membangun
pura
hanya untuk
kemegahan
sementara
masyarakat
kecil
dipaksa.
Memang
inilah
kenyataan yang ada,
membangun
pura
dengan mengemis
dan
memaksa. Ke
depan
hal seperti
ini
jangan sampai
ada
lagi.
Hal senada
juga
ditegaskan oleh
Putu
Antara, jangan
membangun
pura
hanya karena
punya
uang banyak.
Secara
mendetail
dia
memang tidak
tahu
banyak tentang
aturan
membangun pura.
Namun,
menurutnya,
uang
dan kemegahan
bukan
ukuran membangun
pura.
Pembangunan
pura
harus didasarkan
pada
tatwa, filsafat
dan
pakem adat.
Untuk
itu dia
mengajak
marilah
kita kembali
pada
jati diri
masing-masing
dan
hentikan pembangunan
pura yang
hanya
memikirkan kemegahan
semata.
Jeri tidak
mempermasalahkan
pura
itu megah
atau
tidak, yang jelas
harus
kembali pada
pakem yang
sudah
ada.
Sekarang
inilah (pakem)
yang dilanggar
untuk
mendapatkan sumbangan
tertentu.
Marabani
menambahkan, yang
terpenting
jangan
membuat kesalahan
yang merugikan
orang lain.
Pada
dasarnya
semua
risiko ditanggung
oleh
kita sendiri.*
mei