PKB 2006, Momentum Pemulihan
Pariwisata Bali
Pesta
Kesenian Bali (PKB) ke-28
sudah
di ambang
pintu.
Ada
setumpuk
harapan yang
digantungkan
masyarakat
dari
gelaran event rutin
tahunan yang
menampilkan
seniman-seniman
terbaik Bali
dari
seluruh kabupaten/kota
se-Bali tersebut.
Di saat
industri
pariwisata Bali "sekarat"
dan
porak-poranda sebagai
ekses
ikutan dari
Tragedi
Bom Bali, PKB diharapkan
jadi momentum
berharga yang
menandai
kebangkitan
parisawata Bali
dari
segala keterpurukannya.
Guna
mewujudkan harapan
itu,
masyarakat Bali harus
membuktikan
diri
mampu menyelenggarakan
kegiatan
seakbar PKB
dan
berhasil dengan
baik
tanpa diwarnai
dengan
huru-hara.
==============================
Ditemui
seusai dialog "Menyongsong
PKB ke-28 dan
Pemulihan
Pariwisata Bali"
dalam
rangka realisasi
program Forum Komunikasi
Kehumasan
Daerah
Propinsi Bali di Aula
Dinas
Pendidikan Bali, Selasa
(25/4), Gede
Wiwin
Suyasa dari Bali
Tourism Board (BTB) menegaskan,
PKB ke-28 merupakan
sebuah
ajang pembuktian.
Apabila
masyarakat Bali terbukti
mampu
menyelenggarakan event yang
sedemikian besarnya
seperti PKB
dan
berhasil dengan
baik,
hal itu
merupakan
nilai
jual promosi
dan
nilai kehumasan yang
sangat
luar biasa
bagi
pariwisata Bali. Mata dunia
akan
makin terbuka
bahwa Bali
tetap
merupakan tempat yang
nyaman,
aman dan
damai
untuk plesiran.
"Sejatinya,
ada
makna strategis yang
terkandung
dalam
gelaran PKB kali ini.
Khususnya
terkait
upaya-upaya recovery (pemulihan-red)
pariwisata yang
kita
gulirkan selama
ini.
Makanya, semua
komponen
masyarakat Bali
wajib
mendukung event rutin
tahunan
ini dengan
penuh
kesadaran," tegasnya.
Menurut
Wiwin
Suyasa, hajatan
seni
budaya tahunan "berlabel"
PKB ini
memang sangat
potensial
dijadikan "magnet"
untuk
menarik kedatangan
wisatawan
mancanegara
ke Bali. Dari
segi
pementasan dan
keragaman
aktivitas
seni-budaya yang
ditampilkan, PKB
sebenarnya
sudah
sangat siap
untuk
kepentingan itu.
Sayang,
kekuatan internal itu
belum
sepenuhnya didukung
oleh
faktor-faktor eksternal
seperti
ketertiban, pengaturan
pedagang
dan
parkir.
Perlu
Penyempurnaan
Dengan
kata lain, PKB
sebagai "mata
dagangan"
pariwisata
masih
memerlukan penyempurnaan
di
sana-sini. "Saya
pikir,
di sana
letak
kekurangan PKB selama
ini.
Kalau kekurangan
itu
bisa diminimalisasi,
saya
optimis promosi
keluar
untuk mendatangkan
tamu ke
PKB bukan
kendala yang
berat,"
ujarnya.
Pada
awalnya,
katanya,
penyelenggaraan PKB
memang
ditujukan untuk
melestarikan
seni-budaya Bali.
Namun
dalam perkembangan
selanjutnya,
ajang
ini ternyata
juga
diapresiasi oleh
penikmat
seni-budaya
mancanegara yang
kebetulan
tengah
berwisata ke Bali.
Namun
harus diakui,
jumlah
wisatawan yang datang
secara
khusus untuk
menyaksikan program-program
PKB relatif
masih
rendah.
"Saat
ini,
saya kira
merupakan
momen yang
tepat
bagi kita
untuk
memaksimalkan PKB untuk
menarik
wisatawan datang
ke Bali.
Tahun 2006
ini, di
samping
berupayan mendatang
wisatawan
melalui PKB,
kita
juga harus
mempelajari
apa
persiapan-persiapan vital yang
harus
diantisipasi untuk
2007 mendatang,"
paparnya
panjang
lebar.
Ditegaskan,
persiapan-persiapan vital
yang wajib
diantisipasi
dalam
setiap perhelatan PKL
tetap
bertumpu pada 3 S
yakni sanitation (kebersihan
dan
kesehatan lingkungan),
safety (kenyamanan)
dan security (keamanan).
Tiga
hal ini
wajib
direalisasikan jika
menginginkan PKB
menjelma
sebagai event
akbar yang
tetap
diperhitungkan, mengesankan
dan
sarat kenangan
sehingga
tetap
dibanjiri pengunjung.
"Dari segi
kualitas
aktivitas
seni-budaya yang
dipentaskan,
saya
pikir sudah
tidak
ada masalah.
Hanya
perlu penyempurnaan
pada
aspek 3 S (sanitation, safety
dan security-red)
itu,"
katanya lagi.
Dalam
upaya
memulihkan citra Bali
sebagai
destinasi pariwisata
yang nyaman
dan
aman, kata
dia,
para pelaku
industri
pariwisata
dan
Pemprop Bali sudah
berulangkali
menggelar
promosi
wisata ke
luar
negeri. Besaran
dana yang
sudah
dikucurkan untuk
recovery itu pun
tidak
tanggung-tanggung. Sudah
menembus
angka
sekitar Rp 11,6
milyar
lebih. Sekitar
Rp 9
milyar dikucurkan
oleh
industri pariwisata
dan
sekitar Rp 2,6
milyar
dikeluarkan oleh
Pemprop Bali.
Namun,
kata dia,
kegiatan
pemulihan
pariwisata
bukanlah
mie
instan yang hasilnya
langsung
bisa
dinikmati. Tetapi,
perlu
proses panjang
guna
mengembalikannya ke
kondisi
seperti sebelum
terpuruk. "Bulan
Oktober 2005 (beberapa
saat
setelah ledakan
bom
menguncang Jimbaran
dan
Kuta pada
Oktober 2005, rata-rata
angka
kunjungan wisatawan
per hari
ke Bali
tercatat 890 orang.
Jumlah
ini anjlok
drastis
begitu bom
meledak.
Setelah
serangkaian upaya
recovery dilakukan,
angka
itu terus
bergerak
naik
dan saat
ini
sudah mencapai 3.500
orang per
hari.
Jadi, angka
kunjungan
wisatawan
itu
sudah mendekati
kondisi normal yang
kisarannya 4.000-4.500
orang per
hari,"
katanya dan
menambahkan,
pihaknya
menargetkan
akhir 2006
ini
kondisi normal itu
sudah
tercapai. (ian)