kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 27 April 2006

 Pariwisata


PKB 2006, Momentum Pemulihan Pariwisata Bali

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-28 sudah di ambang pintu. Ada setumpuk harapan yang digantungkan masyarakat dari gelaran event rutin tahunan yang menampilkan seniman-seniman terbaik Bali dari seluruh kabupaten/kota se-Bali tersebut. Di saat industri pariwisata Bali "sekarat" dan porak-poranda sebagai ekses ikutan dari Tragedi Bom Bali, PKB diharapkan jadi momentum berharga yang menandai kebangkitan parisawata Bali dari segala keterpurukannya. Guna mewujudkan harapan itu, masyarakat Bali harus membuktikan diri mampu menyelenggarakan kegiatan seakbar PKB dan berhasil dengan baik tanpa diwarnai dengan huru-hara.

============================== 

Ditemui seusai dialog "Menyongsong PKB ke-28 dan Pemulihan Pariwisata Bali" dalam rangka realisasi program Forum Komunikasi Kehumasan Daerah Propinsi Bali di Aula Dinas Pendidikan Bali, Selasa (25/4), Gede Wiwin Suyasa dari Bali Tourism Board (BTB) menegaskan, PKB ke-28 merupakan sebuah ajang pembuktian. Apabila masyarakat Bali terbukti mampu menyelenggarakan event yang sedemikian besarnya seperti PKB dan berhasil dengan baik, hal itu merupakan  nilai jual promosi dan nilai kehumasan yang sangat luar biasa bagi pariwisata Bali. Mata dunia akan makin terbuka bahwa Bali tetap merupakan tempat yang nyaman, aman dan damai untuk plesiran.

"Sejatinya, ada makna strategis yang terkandung dalam gelaran PKB kali ini. Khususnya terkait upaya-upaya recovery (pemulihan-red) pariwisata yang kita gulirkan selama ini. Makanya, semua komponen masyarakat Bali wajib mendukung event rutin tahunan ini dengan penuh kesadaran," tegasnya.

Menurut Wiwin Suyasa, hajatan seni budaya tahunan "berlabel" PKB ini memang sangat potensial dijadikan "magnet" untuk menarik kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali. Dari segi pementasan dan keragaman aktivitas seni-budaya yang ditampilkan, PKB sebenarnya sudah sangat siap untuk kepentingan itu. Sayang, kekuatan internal itu belum sepenuhnya didukung oleh faktor-faktor eksternal seperti ketertiban, pengaturan pedagang dan parkir.

 

Perlu Penyempurnaan

Dengan kata lain, PKB sebagai "mata dagangan" pariwisata masih memerlukan penyempurnaan di sana-sini. "Saya pikir, di sana letak kekurangan PKB selama ini. Kalau kekurangan itu bisa diminimalisasi, saya optimis promosi keluar untuk mendatangkan tamu ke PKB bukan kendala yang berat," ujarnya.

Pada awalnya, katanya, penyelenggaraan PKB memang ditujukan untuk melestarikan seni-budaya Bali. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ajang ini ternyata juga diapresiasi oleh penikmat seni-budaya mancanegara yang kebetulan tengah berwisata ke Bali. Namun harus diakui, jumlah wisatawan yang datang secara khusus untuk menyaksikan program-program PKB relatif masih rendah.

"Saat ini, saya kira merupakan momen yang tepat bagi kita untuk memaksimalkan PKB untuk menarik wisatawan datang ke Bali. Tahun 2006 ini, di samping berupayan mendatang wisatawan melalui PKB, kita juga harus mempelajari apa persiapan-persiapan vital yang harus diantisipasi untuk 2007 mendatang," paparnya panjang lebar.

Ditegaskan, persiapan-persiapan vital yang wajib  diantisipasi dalam setiap perhelatan PKL tetap bertumpu pada 3 S yakni sanitation (kebersihan dan kesehatan lingkungan), safety (kenyamanan) dan security (keamanan). Tiga hal ini wajib direalisasikan jika menginginkan PKB menjelma sebagai event akbar yang tetap diperhitungkan, mengesankan dan sarat kenangan sehingga tetap dibanjiri pengunjung. "Dari segi kualitas aktivitas seni-budaya yang dipentaskan, saya pikir sudah tidak ada masalah. Hanya perlu penyempurnaan pada aspek 3 S (sanitation, safety dan security-red) itu," katanya lagi.

Dalam upaya memulihkan citra Bali sebagai destinasi pariwisata yang nyaman dan aman, kata dia, para pelaku industri pariwisata dan Pemprop Bali sudah berulangkali menggelar promosi wisata ke luar negeri. Besaran dana  yang sudah dikucurkan untuk recovery itu pun tidak tanggung-tanggung. Sudah menembus angka sekitar Rp 11,6 milyar lebih. Sekitar Rp 9 milyar dikucurkan oleh industri pariwisata dan sekitar Rp 2,6 milyar dikeluarkan oleh Pemprop Bali. Namun, kata dia, kegiatan pemulihan pariwisata bukanlah mie instan yang hasilnya langsung bisa dinikmati. Tetapi, perlu proses panjang guna mengembalikannya ke kondisi seperti sebelum terpuruk. "Bulan Oktober 2005 (beberapa saat setelah ledakan bom menguncang Jimbaran dan Kuta pada  Oktober 2005, rata-rata angka kunjungan wisatawan per hari ke Bali tercatat 890 orang. Jumlah ini anjlok drastis begitu bom meledak. Setelah serangkaian upaya recovery dilakukan, angka itu terus bergerak naik dan saat ini sudah mencapai 3.500 orang per hari. Jadi, angka kunjungan wisatawan itu sudah mendekati kondisi normal yang kisarannya 4.000-4.500 orang per hari," katanya dan menambahkan, pihaknya menargetkan akhir 2006 ini kondisi normal itu sudah tercapai. (ian)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)