Perekonomian
nasional
dalam
beberapa waktu
ke
depan tampaknya
masih
akan mengalami
banyak
ancaman. Di
antaranya
masalah
perseteruan antara
buruh,
pengusaha dan
pemerintah
akibat
tidak satunya
persepsi
tentang
revisi UU Ketenagakerjaan.
---------------------------------
Optimisme
Vs Pesimisme
Penguatan
Ekonomi
Oleh
Dr. Ida Bagus
Raka
Suardana, S.E., M.M.
PADA
triwulan I 2006,
perekonomian Indonesia
menunjukkan
ada
geliat perbaikan
dilihat
dari beberapa
indikator,
misalnya
pertumbuhan
sekitar 4,58
persen
atau sedikit
lebih
tinggi dari
prediksi
awal Bank Indonesia (BI)
sebesar 4,35
persen,
menguatnya nilai
tukar
rupiah yang cukup
signifikan
yakni
menyentuh level di
bawah 9.000 per
dolar AS,
cadangan
devisa yang
hampir
Rp 400 trilyun,
inflasi yang
berada
pada level 12,92 persen,
dan
neraca pembayaran
yang mengalami surplus.
Di
pasar bursa, pada
akhir
minggu lalu
Indeks
Harga Saham
Gabungan (IHSG)
mengukir
rekor
tertinggi pada
poin 1.355,013.
Tentu
semua indikator
ekonomi
itu memberi
angin
segar dan
melegakan
masyarakat,
khususnya
pelaku
ekonomi. Namun,
apakah
hal itu
akan
bisa terus
berlanjut?
---------------------------------------------
Dari pihak BI
selaku
otoritas moneter
tetap
optimis akan
menguatnya
perekonomian
nasional,
karena
perbaikan ekonomi
diakibatkan
oleh
kondisi ekonomi
global yang tampaknya
lebih
kondusif dan
kinerja
neraca pembayaran
yang terus
diprediksikan
membaik
serta intensifnya
upaya
pemerintah memperbaiki
iklim
investasi. Demikian
juga
Produk Domestik
Bruto (PDB) 2006
diperkirakan
tumbuh
lebih tinggi
sehingga
mendekati
batas
atas kisaran
proyeksi 5,0-5,7
persen.
Di samping
itu,
membaiknya koordinasi
antara
pemerintah dan BI
memberikan
dampak
positif serta
berhasil
memulihkan
pasar, yang
secara
tidak langsung
memberi
tekanan yang kuat
terhadap
nilai
tukar rupiah.
Penguatan
Temporer
Beberapa
pihak
meragukan keberlanjutan
perbaikan
ekonomi
nasional yang versi
BI tersebut.
Di
antaranya oleh
beberapa
pengamat
dan
lembaga keuangan
internasional
seperti Asia Development
Bank (ADB). Seperti
menguatnya
rupiah,
dianggap bukan
disebabkan
oleh
membaiknya fundamental
perekonomian, tetapi
lebih
banyak dikarenakan
masuknya
dana
asing yang memborong
saham
dan obligasi,
sehingga
sifatnya
temporer
atau
sementara. Jika
dana
masuk karena
investasi real,
seperti
dana-dana dari
long-term invesment yang
berupa
pendirian pabrik
atau
pendirian perusahaan,
maka
menguatnya rupiah
kemungkinan
bisa
berlangsung lama.
Di
sisi lain,
optimisme BI
tentang
penguatan rupiah yang
dianggap
sebagai
kinerja perekonomian
nasional
mengalami
perbaikan
tampaknya
belum
diikuti oleh
perbaikan
di
sektor riil,
terbukti
dengan
penyerapan kredit
yang masih
rendah
sehingga tidak
akan
berdampak luas
bagi
perekonomian nasional.
Berbeda
dengan BI,
lembaga
keuangan internasional
seperti ADB
malah
pesimis dengan
perbaikan
ekonomi Indonesia
tahun 2006
ini.
Jika pemerintah
memproyeksikan
pertumbuhan 6,2
persen
dan BI 5,8 persen,
maka ADB
hanya
memprediksikan tumbuh
paling tinggi
sekitar 5,4
persen.
Lambannya laju
pertumbuhan
disebabkan
oleh
rendahnya konsumsi
swasta
karena suku
bunga
dan tingkat
inflasi yang
masih
cukup tinggi, yang
berakibat
pada
semakin banyaknya
pengangguran.
ADB memperkirakan
setelah
tahun 2007 baru
pertumbuhan
bisa di
atas 6
persen. Untuk
inflasi,
diproyeksikan
pada
akhir 2006 sekitar 8
persen
dengan rata-rata 14
persen,
setelah itu
baru
turun menjadi 7
persen
dengan asumsi
kenaikan
harga
berlangsung secara
bertahap.
Di
pihak lain, pada
tahun
ini pemerintah
Indonesia harus
melunasi
pokok
dan bunga
utang
luar negeri
senilai 9,4
milyar
dolar AS, yang berarti
setara
dengan 14 persen
penerimaan
ekspor
dan 30 persen
lebih
besar dari
pembayaran
utang
tahun 2005.
Ekspansi
Melambat
Dari aspek lain,
ada data yang
menunjukkan
dari
sisi permintaan
ekspansi
mengalami
kelambatan
pada
triwulan I 2006. Melambatnya
ekspansi
diperkirakan
dari
rendahnya pertumbuhan
permintaan
domestik,
meski net
ekspor
masih cenderung
meningkat.
Beberapa
faktor yang
mempengaruhi
melambatnya
ekspansi,
seperti
belum membaiknya
iklim
investasi meskipun
paket
kebijakan investasi
telah
dikeluarkan, serta
masih
berlangsungnya daya
beli
masyarakat yang melemah
sejak
akhir tahun 2005.
Kondisi
permintaan domestik
tersebut
tentunya
berakibat
pada
semakin terbatasnya
peningkatan
kapasitas
perekonomian.
Dari sisi
penawaran,
sektor
ekonomi yang diperkirakan
mengalami
kelambatan
cukup
signifikan adalah
sektor
industri pengolahan,
perdagangan
serta
sektor transportasi
dan
komunikasi. Meski
demikian,
ada yang
menggembirakan
dari
dunia perbankan,
yakni
mulai
menunjukkan tanda-tanda
peningkatan
kinerja yang
dapat
dilihat dari
peningkatan
jumlah
dana pihak
ketiga (DPK),
walaupun
belum
sampai pada
jumlah yang
diharapkan.
Dari fenomena
optimis
dan pesimis
di atas,
sebenarnya yang paling
penting
bagi suatu
perekomian
adalah
stabilitas, sebab
stabilitas
adalah
prasyarat bagi
pembangunan
ekonomi.
Meskipun
begitu,
harus disadari
bahwa
stabilitas bukanlah
tujuan
akhir, sebab
hanya
merupakan sarana yang
pada
akhirnya harus
dapat
menciptakan pertumbuhan
dan
perluasan kesempatan
kerja. Para
pelaku
ekonomi, misalnya,
tidak
menginginkan penguatan
maupun
pelemahan rupiah yang
berfluktuasi
tajam.
Bagi mereka yang
terpenting
adalah
nilai rupiah
stabil,
meskipun misalnya
levelnya
agak
tinggi. Sebab,
pergerakan
nilai
tukar yang turun
naiknya
terlalu sering
dan
tajam, akan
menyulitkan
pengusaha
untuk
memproyeksikan berbagai
hal,
terutama menyangkut
anggaran
dan
perhitungan harga
jual
suatu produk.
Banyak
Ancaman
Perekonomian
nasional
dalam
beberapa waktu
ke
depan tampaknya
masih
akan mengalami
banyak
ancaman. Di
antaranya
masalah
perseteruan antara
buruh,
pengusaha dan
pemerintah
akibat
tidak satunya
persepsi
tentang
revisi UU Ketenagakerjaan.
Meski
untuk sementara
belum
mengganggu perekonomian
secara
nasional, namun
jika
berlanjut terus
tentu
mau tak
mau
akan mempengaruhi
stabilitas
ekonomi
nasional. Saat
ini
sebenarnya pihak
pengusaha
tampaknya
mengalami
tekanan yang
berat,
sebab tiga
unsur
biaya produksi
yaitu
biaya bahan
baku,
biaya tenaga
kerja
dan biaya overhead
pabrik
mengalami peningkatan
-- yang tentu
berpengaruh
terhadap
harga
pokok dan
harga
jual -- sementara
di
pihak lain daya
beli
masyarakat menurun.
Jelas
bayang-bayang kerugian
akan
menghantui propek
berusaha
mereka.
Hal lain yang perlu
diwaspadai
oleh
perekonomian nasional
adalah
menyangkut masih
tingginya
harga
minyak serta
berlanjutnya
kebijakan
moneter
ketat di
tataran global.
Menko
Perekonomian berserta
menteri yang
berada
di bidang
perekomian
selaku
otoritas kebijakan
fiskal,
dan pihak BI
selaku
otoritas kebijakan
moneter,
harus
jeli melihat
gejala-gejala yang
akan
mengganggu perekonomian
nasional
itu
untuk mempertimbangkan
kebijakan yang
akan
diambil apabila
gejala
perbaikan ekonomi
diharapkan
berlanjut.
Seperti
berbagai paket
kebijakan yang
telah
dikeluarkan pada
triwulan I 2006,
harusnya
sudah
dievaluasi awal,
sudahkah
berjalan
efektif?
Jika
tak
diantisipasi dengan
kebijakan
secara
cepat dan
tepat
serta dilakukannya
pengevaluasian
awal
berbagai kebijakan
yang telah
dikeluarkan,
maka
jelas akan
berdampak
bagi
pertumbuhan ekonomi,
dan
ujung-ujungnya tentu
kinerja
ekonomi nasional
dianggap
tidak
berhasil. Efek
lanjutannya
adalah,
pemerintah yang berkuasa
saat
ini tentu
akan
dianggap gagal.
Penulis,
Ketua
Lembaga Penelitian,
Pengkajian
dan
Pengabdian Masyarakat
(LP3M) Universitas
Pendidikan
Nasional (Undiknas)
Denpasar