Batasi
Jatah BBM,
Apa
Bisa?
DI tengah
kondisi
ekonomi yang belum
juga
kunjung membaik,
pemerintah
mengeluarkan
rencana
kebijakan baru
yakni
gerakan penghematan
bahan
bakar minyak (BBM).
Direncanakan
pemerintah
akan
membatasi
penggunaan BBM
di
lingkungan kantor
pemerintah,
para
pejabat dan
juga
kendaraan pribadi.
Kebijakan
ini
diambil dalam
rangka
penghematan BBM akibat
lonjakan
harga
minyak dunia yang
sudah
menembus level 75 dolar
AS per barel.
Hal tersebut
ditegaskan
Menteri Negara
Perencanaan
Pembangunan
Nasional/Kepala
Bappenas
Paskah
Suzetta yang dimuat
Bali Post, Rabu (26/4)
kemarin.
Menurut
Paskah, rencana
kebijakan
ini
terpaksa dilakukan
karena
telah diputuskan
bahwa
harga BBM tidak
akan
dinaikkan,
sementara
subsidi
untuk Pertamina
tetap
pada plafon yang
ditetapkan
semula.
Kedengarannya
kebijakan
ini
populis, namun
apa
memang
cukup realistis?
Rencana
kebijakan
itu
menyasar tiga
sasaran
popok. Pertama,
penjatahan BBM
di
tingkat
kantor pemerintah,
pejabat
dan pribadi.
Meski
dapat diperdebatkan
karena
dasar asumsi
juga
berbeda-beda,
mari
kita
coba menganalisis
secara
sederhana. Di
lingkungan
pemerintah
apa
bisa?
Jawabannya,
bisa ya
bisa
juga tidak.
Ya,
kalau
pemerintah punya
komitmen
kuat
untuk mengamankan
kebijakan
itu
serta adanya
kesadaran moral
pada
masing-masing instansi
pemerintah.
Secara
faktual,
saat
ini rasanya
terlalu
banyak kendaraan
pemerintah
sebenarnya yang
tidak
banyak mendukung
kegiatan
pemerintah.
Jadi,
anggaran yang
dikeluarkan pun
besar
dibandingkan manfaatnya.
Adalah
sangat jamak
kita
lihat, kendaraan
pelat
merah hilir
mudik
di luar jam
kantor.
Kalaupun
itu
lalu-lalang dalam jam
kantor,
tujuannya
seringkali
tidak
jelas.
Juga
kendaraan yang
dipegang
pejabat,
sama
saja.
Seringkali lebih
banyak
hilir mudik
di luar
jam dinas
dibandingkan
untuk
kepentingan melancarkan
tugasnya
sebagai
abdi masyarakat.
Akibatnya,
tidak
hanya biaya BBM yang
menggelembung,
juga
biaya perawatan
secara
keseluruhan.
Masyarakat
pun melihat
ini
sebagai fenomena
biasa
karena setiap
kritik yang
mereka
lontarkan untuk
langkah
penghematan BBM tidak
ditanggapi
secara
serius.
Alih-alih
direspons,
penyalahgunaan
ini pun
semakin menjadi-jadi.
Tidak
jarang
seorang pejabat
memperoleh
jatah BBM
ratusan liter
hingga
ribuan liter per bulannya.
Luar
biasa.
Setiap kali
disoroti
masyarakat,
mereka
selalu berdalih
untuk
kepentingan operasional
kantor.
Apa
benar?
Mudah-mudahan
pemerintah
tidak
hanya mengeluarkan
kebijakan
tetapi
juga sanksi.
Tetapi
lebih
penting lagi,
oknum
pejabat itu
masih
punya komitmen moral
untuk
penghematan.
Yang terakhir,
pembatasan
untuk
kendaraan pribadi.
Seperti
pertanyaan tadi,
apa
bisa?
Kita semua
tahu,
salah satu
pemicu
naiknya kepemilikan
kendaraan
pribadi
adalah akibat
amburadulnya
sistem
transportasi umum.
Masyarakat
lebih
memilih memiliki
kedaraan
umum
ketimbang berjejalan
di
dalam kendaraan
umum yang
tidak
nyaman, mahal
dan
seringkali juga
tidak
aman.
Sebuah
pilihan yang
sangat
rasional.
Tetapi
konsekuensinya,
kendaraan
menjamur
dan
macet pun di
mana-mana.
Belum
lagi
tingkat
konsumsi BBM yang
terus
membubung.
Lalu,
dari
mana celahnya
untuk
menerapkan kebijakan
itu
untuk pemilik
kendaraan
pribadi?
Apa
mungkin
dari pajak?
Bisa
jadi.
Terlepas
dari
apa pun
jurus
pemerintah, satu
poinnya
adalah janganlah
selalu
menyodorkan kebijakan
populis yang
sebenarnya
cenderung
elitis.
Rencana
kebijakan
penghematan BBM
ini
baik, namun
sangatlah
rentan
untuk dilanggar.
Celakanya,
potensi
pelanggar justru
terbesar
di
kalangan elite sendiri.
Kalau
masyarakat,
jika
transpostasi publiknya
bagus,
tentu itu
merupakan
pilihan
rasional.