Etika
Politik
dari PBR
MUKTAMAR Islah
Partai
Bintang Reformasi (PBR)
yang berlangsung
di Bali
baru-baru ini,
telah
melahirkan sumbangan
etika
menarik.
Zaenal
Ma'arif yang
kini
duduk menjadi
Wakil
Ketua DPR menyatakan
mundur
dari jabatan
tersebut
setelah
dikalahkan Bursah
Zarnubi
sebagai Ketua
Umum PBR
periode 2006-2011.
Beberapa
pengamat
politik
menilai sikap
Ma'arif
ini positif
dan
diharapkan mampu
memberikan
contoh
kepada politisi-politisi
lain di Indonesia
kelak.
Meskipun
tetap
ada kekhawatiran,
semisal
langkah itu
hanya
bentuk kekecewaan
karena
kalah bersaing,
tetapi
kita berharap agar
Ma'arif
melakukannya dengan
konsisten.
Setelah
hampir
delapan tahun
reformasi,
belang
politisi Indonesia itu
sangat
kentara.
Politik
ternyata
tidak
dipahami sebagai
upaya
memperjuangkan aspirasi
rakyat,
tetapi dibelokkan
untuk
tujuan-tujuan yang
hampir-hampir vulgar.
Misalnya,
berkiprah
pada
bidang politik
itu
dipahami sebagai
upaya
memperebutkan sumber-sumber
ekonomi
bagi kelangsungan
hidup
politisi yang bersangkutan.
Artinya
jabatan politik,
seperti
anggota DPR(D)
dipandang
sebagai
lahan kerja,
bukan
sebagai jabatan
untuk
memperjuangkan keadilan
sosial.
Akibatnya
kekerasan
politik
muncul sebagai
dampak
persaingan mempertahankan
sumber-sumber
ekonomi
ini. Tidak
jarang,
di daerah
perusakan-perusakan,
entah
papan nama
partai,
rumah penduduk,
dan
sebagainya menjelang
pemilu
sesungguhnya merupakan
buntut
dari ketakutan
dan
kekhawatiran tersaingi
tokoh lain yang
berpeluang
meraih
posisi sebagai
anggota
DPR(D).
Mereka
berupaya
menekan
lawan politik
dengan
berbagai metode
untuk
menyelamatkan kepentingan
ekonominya.
Munculnya
berbagai
kasus
korupsi yang melibatkan
banyak
anggota dewan
di
berbagai daerah
di Indonesia,
tidak lain
disebabkan
oleh
fenomena demikian.
Dengan
pola-pola
seperti
itu, keadaan
politik
Indonesia
selalu
terpuruk.
Banyak yang
berpendapat
bahwa
begitu ''beringasnya''
anggota
perwakilan kita
mengkorupsi
anggaran
dana
rakyat (termasuk
APBD), disebabkan
oleh
budaya dan
perilaku
gurita
ekonomi-politik masa
lalu yang
terlalu
dimonopoli oleh
kelompok-kelompok
tertentu.
Budaya
dominasi
membuat
mereka-mereka yang kini
jadi
politisi, terpinggirkan
di masa
lalu.
Akibatnya,
begitu
kini mereka
bebas
bergerak, giliran
mereka yang
berperilaku ''gurita''.
Jadi
benarlah,
tidak
ada yang berubah
dalam
iklim politik
Indonesia ini.
Dengan
demikian,
sikap yang
diperlihatkan
oleh
Zaenal Ma'arif
mudah-mudahan
mampu
memberikan sumbangan
etika yang
baik
bagi perkembangan
politik
di Indonesia, betapa
pun kecilnya.
Mundurnya
Ma'arif
memperlihatkan pengakuannya
yang sudah
tidak
mempunyai dukungan
lagi di
partai.
Tetapi
ketetapannya sebagai
anggota
Partai Bintang
Reformasi,
menunjukkan
bahwa
ia
menghargai
partai yang
membesarkannya
dan
tidak mau
menjadi
politisi kutu
loncat.
Artinya
masih
tetap mempunyai
harapan
memperbaiki diri,
mencari
dukungan di
partai
tersebut. Yang
perlu
digarisbawahi adalah
konsistensi
sikap
Zaenal Ma'arif.
Jika
kelak
dia berubah
pendirian
dan
tidak mengundurkan
diri
dari wakil
parlemen,
maka
tidak ada
bedanya,
dia
juga benalu
politik yang
ikut
merusak budaya
politik
Indonesia.
*
GPB Suka
Arjawa