kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 27 April 2006

 Ekonomi


Tindak
Tegas Penyelundup Itik Terjangkit Flu Burung 

Denpasar (Bali Post) -
Ratusan
itik positif flu burung yang masuk secara ilegal ke Bali memang sudah dibakar. Namun, dampak ekonomi dari masuknya kembali virus flu burung ke Bali akan sangat besar. Untuk itu aparat kepolisian mesti menindak tegas para penyelundup tersebut, termasuk pemesan unggas, karena dalam SK Gubernur sudah ada aturan jelas yang melarang pemasukan unggas jenis apa pun dalam bentuk hidup ke Bali. Demikian dikemukakan Ketua Paguyuban Peternak Ayam Bali (PPAB) Ketut Yahya Kurniadi, Rabu (26/4) kemarin.

Menurut Yahya, masuknya ratusan itik terjangkit virus flu burung ini akan berdampak buruk bagi industri peternakan di Bali maupun pariwisatanya. Secara langsung, meski unggas yang terjangkit flu burung tersebut sudah dimusnahkan, masyarakat akan kembali berhati-hati dalam mengkonsumsi unggas. Hal ini tentu saja akan berimbas pada penurunan harga unggas yang sejauh ini sudah berada di posisi yang paling rendah. ''Saat ini harga ayam per kilogramnya sangat murah, sekitar Rp 7.000/kg di kandang,'' katanya.

Yahya meminta agar aparat kepolisian maupun pihak terkait bisa bertindak tegas terhadap pemasok unggas ilegal ini. Bila tidak, dia khawatir peristiwa masuknya unggas yang terjangkit flu burung akan kembali terulang. Ditambahkannya, untuk memberikan efek jera, pemesan unggas pun mesti diberikan hukuman sehingga tidak lagi berani memasok unggas dari luar Bali. ''Semestinya kita berkaca dengan pengalaman pada 2003 lalu ketika banyak unggas yang mati akibat flu burung. Bahkan, industri peternakan ayam di Bali hingga kini belum bisa dikatakan pulih akibat menderita kerugian yang cukup besar tersebut,'' ujar Yahya.

Dia mengakui seiring datangnya Galungan dan Kuningan, permintaan itik semakin meningkat. Sayangnya, peternak unggas di Bali belum bisa memenuhi permintaan tersebut. Namun, dia mengatakan ketidakmampuan tersebut sebenarnya jangan dijadikan alasan untuk memasukkan unggas dari luar Bali. Sebab, dampak ikutan ketika unggas yang masuk tersebut terjangkit flu burung sangat besar sekali. ''Kalau sudah begini, wisatawan pun akan enggan ke Bali karena mereka mendengar virus flu burung sudah masuk kembali ke Bali,'' keluhnya.

 

Karkas Unggas

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Peternakan Bali IB Raka mengatakan sejauh ini pemerintah sudah memberikan kelonggaran dengan mengizinkan unggas dalam bentuk karkas masuk Bali. Semestinya unggas karkas tersebut yang dimaksimalkan pemasukannya seiring meningkatnya permintaan unggas belakangan ini. Dia mengatakan jatah karkas masuk Bali mencapai sekitar 20 ribu ekor/hari. Pasokan tersebut pun harus berasal dari peternakan yang bebas flu burung jika ingin masuk Bali.

Raka mengutarakan belakangan ini memang terjadi peningkatan permintaan bebek dan itik karena keperluan upacara keagamaan. ''Semestinya peluang ini dimanfaatkan peternak, namun sejauh ini masih sedikit sekali peternak yang memelihara itik,'' jelasnya. Saat ini, dia memperkirakan populasi itik di Bali mencapai sekitar 1 juta. Sementara itu permintaan terhadap unggas jenis ini sangat berfluktuasi tergantung hari-hari besar Hindu. Menjelang hari raya Galungan dan Kuningan ini terjadi peningkatan permintaan yang tidak bisa dipenuhi peternak. (kmb18)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)