Tindak
Tegas
Penyelundup Itik
Terjangkit Flu
Burung
Denpasar
(Bali Post) -
Ratusan
itik
positif flu burung
yang masuk
secara
ilegal ke Bali
memang
sudah dibakar.
Namun,
dampak ekonomi
dari
masuknya kembali
virus flu burung
ke Bali
akan sangat
besar.
Untuk itu
aparat
kepolisian mesti
menindak
tegas
para penyelundup
tersebut,
termasuk
pemesan
unggas, karena
dalam SK
Gubernur
sudah
ada aturan
jelas yang
melarang
pemasukan
unggas
jenis apa pun
dalam
bentuk hidup
ke Bali.
Demikian
dikemukakan
Ketua
Paguyuban Peternak
Ayam Bali (PPAB)
Ketut
Yahya Kurniadi,
Rabu (26/4)
kemarin.
Menurut
Yahya,
masuknya ratusan
itik
terjangkit virus flu burung
ini
akan berdampak
buruk
bagi industri
peternakan
di Bali
maupun pariwisatanya.
Secara
langsung, meski
unggas yang
terjangkit flu
burung
tersebut sudah
dimusnahkan,
masyarakat
akan
kembali berhati-hati
dalam
mengkonsumsi unggas.
Hal ini
tentu saja
akan
berimbas pada
penurunan
harga
unggas yang sejauh
ini
sudah berada
di
posisi yang paling rendah.
''Saat
ini harga
ayam per
kilogramnya
sangat
murah, sekitar
Rp 7.000/kg
di
kandang,'' katanya.
Yahya
meminta agar
aparat
kepolisian maupun
pihak
terkait bisa
bertindak
tegas
terhadap pemasok
unggas
ilegal ini.
Bila
tidak, dia
khawatir
peristiwa
masuknya
unggas yang
terjangkit flu
burung
akan kembali
terulang.
Ditambahkannya,
untuk
memberikan efek
jera,
pemesan unggas pun
mesti
diberikan hukuman
sehingga
tidak
lagi berani
memasok
unggas dari
luar Bali. ''Semestinya
kita
berkaca dengan
pengalaman
pada 2003
lalu
ketika banyak
unggas yang
mati
akibat flu burung.
Bahkan,
industri peternakan
ayam di
Bali hingga
kini
belum bisa
dikatakan
pulih
akibat menderita
kerugian yang
cukup
besar tersebut,''
ujar
Yahya.
Dia
mengakui
seiring
datangnya Galungan
dan
Kuningan, permintaan
itik
semakin meningkat.
Sayangnya,
peternak
unggas
di Bali belum
bisa
memenuhi permintaan
tersebut.
Namun,
dia mengatakan
ketidakmampuan
tersebut
sebenarnya
jangan
dijadikan alasan
untuk
memasukkan unggas
dari
luar Bali. Sebab,
dampak
ikutan ketika
unggas yang
masuk
tersebut terjangkit
flu burung
sangat
besar sekali. ''Kalau
sudah
begini, wisatawan pun
akan
enggan ke Bali
karena
mereka mendengar
virus flu burung
sudah
masuk kembali
ke Bali,''
keluhnya.
Karkas
Unggas
Dihubungi
terpisah,
Kepala
Dinas Peternakan Bali
IB Raka
mengatakan sejauh
ini
pemerintah sudah
memberikan
kelonggaran
dengan
mengizinkan unggas
dalam
bentuk karkas
masuk Bali.
Semestinya
unggas
karkas tersebut yang
dimaksimalkan
pemasukannya
seiring
meningkatnya permintaan
unggas
belakangan ini.
Dia
mengatakan jatah
karkas
masuk Bali mencapai
sekitar 20
ribu
ekor/hari. Pasokan
tersebut pun
harus
berasal dari
peternakan yang
bebas flu
burung
jika ingin
masuk Bali.
Raka
mengutarakan
belakangan
ini
memang terjadi
peningkatan
permintaan
bebek
dan itik
karena
keperluan upacara
keagamaan. ''Semestinya
peluang
ini dimanfaatkan
peternak,
namun
sejauh ini
masih
sedikit sekali
peternak yang
memelihara
itik,''
jelasnya. Saat
ini,
dia memperkirakan
populasi
itik di
Bali mencapai
sekitar 1
juta.
Sementara itu
permintaan
terhadap
unggas
jenis ini
sangat
berfluktuasi tergantung
hari-hari
besar Hindu.
Menjelang
hari
raya Galungan
dan
Kuningan ini
terjadi
peningkatan permintaan
yang tidak
bisa
dipenuhi peternak.
(kmb18)