Pemerintah
Gagal
Pertahankan Irigasi
Keberlanjutan
Denpasar
(Bali Post) -
Pemerintah
di Bali
gagal mempertahankan
irigasi yang
berkelanjutan
untuk
menjamin irigasi
secara
efisien.
Buktinya,
banyak
proyek irigasi
mubazir
dan macet.
Demikian
disampaikan
pengamat
pertanian Ir.
Gede
Sedana, M.Sc.
saat
mempresentasikan makalahnya
''Pengembangan
Kelembagaan
dalam
Pengelolaan Air Tanah''
pada workshop
pengelolaan
irigasi air
tanah yang
berkelanjutan
pada
lahan kering,
Rabu (26/4)
kemarin.
Ia
menegaskan
semua
proyek pemerintah
untuk
membantu petani
hanya
berdasarkan pendekatan
proyek,
bukan menyentuh
manusia (petani-red).
Ia
mencontohkan
proyek
sumur bor
untuk
irigasi kini
banyak yang
macet.
Penasihat
Istitutions Development
Specialist pada
proyek SDIABKA (pembardayaan
petani
di lahan
kering)
ini mengatakan
hampir
semua proyek
sumur
bor bagi
petani
lahan kering
di Bali
macet dan
mubazir.
Ketua
HKTI Buleleng
ini
megatakan kegiatan
pokok
dalam keberlanjutan
irigasi
harus meliputi
jaminan
kontinuitas ketersediaan
air, peningkatan
pendapatan
petani,
keberlanjutan fungsi
lahan
irigasi dan
keberlanjutan
pengelolaan
irigasi.
Saat
ini
petani dalam
kondisi
terjepit di
mana air
irigasi yang
dikhawatirkan
makin
menghilang ditambah
dengan
semakin menyempitnya
lahan
pertanian diserbu
untuk
pemukiman.
Alumni dari
Ateneo de Manila University,
Filipina yang mengajar
di
Fakultas Pertanian
Universitas
Dwijendra
Denpasar
ini
menekankan bahwa
terwujudnya
keberlanjutan
irigasi
tersebut harus
didahului
dengan
kegiatan pemberdayaan
petani
secara partisipatif
melalui
kelompok-kelompoknya,
sehingga mereka
mampu
mengantisipasi masalah
dan
tantangannya.
Menurutnya,
diperlukan
integritas program
baik
secara vertikal
maupun horizontal
oleh stakeholder
seperti
konservasi sumber
daya air
dan
tanah, teknologi
tepat
guna yang berorientasi
pada
agrobisnis.
Semua
itu
akhirnya harus
bermuara
pada
peningkatan pendapatan
petani.
Dikatakan,
peningkatan
pendapatan
petani
merupakan salah
satu
kunci sustainability
pembangunan pertanian
yang beririgasi,
baik di
lahan
sawah maupun
di
lahan kering.
Dengan
peningkatan pendapatan
petani
akan
mampu
membalikkan kesan
bahwa
pertanian bukan
lagi
sebagai pekerjaan
yang kurang
membanggakan.
Workshop ini
diselenggarakan
untuk
menemukenali berbagai
masalah
dan tantangan
serta
potensi dalam
pengembangan
pertanian yang
beririgasi air
tanah
serta merumuskan
strategi
keberlanjutan
pengelolaan
irigasinya.
Hasil
rumusan
sementara workshop adalah
diperlukan
adanya
pengembangan pertanian
yang memberikan
keuntungan
ekonomis
tinggi
bagi petani,
konservasi
sumber
daya air dan
lahan,
perkuatan kelembagaan
kelompok
petani,
pengelola air.
Di
samping
itu, diperlukan
adanya
kebijakan yang berkenaan
penggunaan air,
seperti
hak guna
pakai air,
dengan
memperhatikan kepentingan
pertanian.
(025)
''Semua
proyek pemerintah
untuk
membantu petani
hanya
berdasarkan pendekatan
proyek,
bukan menyentuh
manusia (petani-red).
Proyek
sumur
bor untuk
irigasi
kini banyak yang
macet.''
---------------------------------------