kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 27 April 2006

 Bali


Jangan
Kucilkan Penderita Kusta 

Denpasar (Bali Post) -
Malang
memang nasib I Ketut Alit (50). Warga Banjar Gegelang, Desa Manggis, Karangasem ini terpaksa terbaring tak berdaya di RS Sanglah karena penyakit kusta yang dideritanya.

Di samping itu, tak ada satu pun keluarga yang mendampinginya. Rabu (26/4) kemarin, Alit tampak tidak terlalu sadar akan sekelilingnya. Ia hanya mengeluarkan suara lirih sambil mendekapkan dadanya seperti kedinginan. Jari kelingking dan tengah tangan kirinya sudah hilang. Alit adalah pasien rujukan RS Karangasem yang tiba di RS Sanglah, Selasa (25/4) lalu.

Menurut dr. AAGP Wiraguna, Sp.KK., kusta atau lepra bukanlah penyakit yang harus ditakuti. Si penderita tidak harus dikucilkan atau bahkan dipasung, karena jika diobati sejak dini, penyakit ini bisa disembuhkan secara total tanpa cacat. Selain itu, obat untuk penyakit ini bisa didapatkan secara gratis di tempat pelayanan kesehatan, seperti puskesmas dan RS.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Masa penyerangan bakteri ini dalam tubuh tidak dapat diprediksi, sehingga si penderita tidak tahu kapan ia terinfeksi dan tertular kusta. ''Kusta penularannya tidak secepat flu burung. Penularannya bisa memakan waktu bertahun-tahun,'' ujar Wiraguna.

Cara yang tepat untuk memberantas kusta adalah kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Masa pengobatan penderita kusta bervariasi. Pada intinya kusta dibagi atas dua, yaitu MB (Multi basiller, kusta disertai kuman), dan PB (Pause basiller, tanpa disertai kuman). MB memerlukan waktu penyembuhan sekitar 12 bulan dan PB membutuhkan waktu sekitar 6 bulan.

Ciri-ciri orang terkena kusta dijelaskan Wiraguna ada empat poin penting. Yaitu terdapatnya lesi (bercak) di kulit, baik berwarna merah ataupun putih. Lalu lesi itu jika ditusuk dengan benda tajam tidak akan merasakan apa-apa atau disebut gejala anastesi (mati rasa). (san)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)