Jangan
Kucilkan
Penderita
Kusta
Denpasar
(Bali Post) -
Malang
memang
nasib I Ketut Alit
(50). Warga
Banjar
Gegelang, Desa
Manggis,
Karangasem
ini
terpaksa terbaring
tak
berdaya di RS
Sanglah
karena penyakit
kusta yang
dideritanya.
Di
samping
itu, tak
ada
satu pun keluarga
yang mendampinginya.
Rabu (26/4)
kemarin, Alit
tampak
tidak terlalu
sadar
akan sekelilingnya.
Ia
hanya mengeluarkan
suara
lirih sambil
mendekapkan
dadanya
seperti kedinginan.
Jari
kelingking dan
tengah
tangan kirinya
sudah
hilang. Alit adalah
pasien
rujukan RS Karangasem
yang tiba
di RS
Sanglah, Selasa
(25/4) lalu.
Menurut
dr. AAGP Wiraguna,
Sp.KK.,
kusta atau
lepra
bukanlah penyakit
yang harus
ditakuti.
Si
penderita tidak
harus
dikucilkan atau
bahkan
dipasung, karena
jika
diobati sejak
dini,
penyakit ini
bisa
disembuhkan secara
total tanpa
cacat.
Selain itu,
obat
untuk penyakit
ini
bisa didapatkan
secara gratis
di
tempat pelayanan
kesehatan,
seperti
puskesmas dan RS.
Kusta
disebabkan
oleh
bakteri Mycobacterium leprae.
Masa
penyerangan bakteri
ini
dalam tubuh
tidak
dapat diprediksi,
sehingga
si
penderita tidak
tahu
kapan ia
terinfeksi
dan
tertular kusta. ''Kusta
penularannya
tidak
secepat flu burung.
Penularannya
bisa
memakan waktu
bertahun-tahun,''
ujar
Wiraguna.
Cara yang tepat
untuk
memberantas kusta
adalah
kesadaran masyarakat
untuk
memeriksakan diri.
Masa
pengobatan penderita
kusta
bervariasi. Pada
intinya
kusta dibagi
atas
dua, yaitu MB (Multi
basiller,
kusta
disertai kuman),
dan PB (Pause
basiller,
tanpa
disertai kuman). MB
memerlukan
waktu
penyembuhan sekitar
12 bulan
dan PB
membutuhkan waktu
sekitar 6
bulan.
Ciri-ciri
orang
terkena kusta
dijelaskan
Wiraguna
ada
empat poin
penting.
Yaitu
terdapatnya lesi (bercak)
di
kulit, baik
berwarna
merah
ataupun putih.
Lalu
lesi itu
jika
ditusuk dengan
benda
tajam tidak
akan
merasakan apa-apa
atau
disebut gejala
anastesi (mati
rasa).
(san)