kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 27 April 2006

 Bali


Bali, Ritus, Ruang dan Arsitektur ---

Hindari Pemugaran Pura untuk Kepentingan Pejabat

Pembangunan pura di Bali menganut konsep ruang makro. Di kalangan arsitek pun tak banyak yang mengetahui bagaimana merancang dan merencanakan arsitektur pura. Dalam seminar ''Bali, Ritus, Ruang dan Arsitektur Pura'', yang diadakan Fak. Teknik Unwar, Rabu (26/4) kemarin terungkap bahwa pemugaran pura di Bali banyak yang mengabaikan filsafat, tatwa, dan pakem adat dan tradisi. Pemugaran pura cenderung untuk kemegahan dan untuk memenuhi pesanan pejabat. 

---------------------------------

KETUA Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali Ir. Made Widnyana Sudibya menunjukkan bukti sejumlah bangunan pura pedharman di Besakih tak berguru ke Pura Penataran Besakih. Sejumlah pura dadia dan pedharman membuat bale paselang, padahal bale ini hanya boleh ada di Pura Besakih (Penataran, red) saat upacara Bhatara Turun Kabeh.

Yang ia sesalkan, arsitektur pura yang dibangun pun sering diubah dari aslinya. Mereka suka menambahkan meru yang dulu tak ada dan menggeser pelinggih lain dengan alasan agar halaman sembahyang bertambah luas namun melupakan sikut kuna yang harus diwarisi. Akhirnya yang terjadi, atap pelinggih saling tumpuk. Bahkan meru-nya sering dibuat lebih modis padahal dulu berbentuk gedongan.

Pura Goa Lawah juga sedang dipugar dengan alasan yang sama. Padahal menurut Widnyana Sudibya, biang kerok kemacetan adalah adanya jalan raya di depan pura. ''Mengapa tidak jalannya yang dialihkan ke wilayah utara sehingga tak mengganggu pemedek yang datang,'' ujarnya.

Pembicara lainnya Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., juga tak setuju pembangunan pura untuk kepentingan pejabat. Ia mencontohkan pejabat membangun pura di Jawa dengan memboyong konsep Bali dalam bentuk padmasana. Ia menilai lebih pas pembangunan pura di Jawa memakai bentuk candi, warisan budaya setempat karena artinya sama yakni lingga-yoni.

Dosen senior jurusan arsitektur Bali FT Unwar ini mengatakan saat ini pura dibangun asal megah. Mareka melupakan asal mula proses pura tersebut, sehingga hasilnya tak sesuai keinginan bersama. 

Tanpa Acuan

Pengamat tata ruang Bali, Ir. Nyoman Gelebet pun merasa kaget. Dulu leluhur kita tak pernah mengatur pura tertentu harus dilengkapi dengan bangunan yang tak perlu. Sekarang, kata dia, tiap ganti pejabat pura-pura besar di Bali dipugar. Padahal para leluhur kita sangat menghormati nilai-nilai yang diwariskan kepadanya.

Ia mencatat, padma tiga di Pura Besakih sejak 10 tahun ini sudah tiga kali dipugar. Pembangunan meru pun tak lagi menghormati warisan leluhur dengan menggunakan beti. Akhirnya banyak meru yang dibangun belum dua tahun sudah patah atau harus ditunjang dengan tiang penyangga.

Gelebet juga menyinggung keinginan setiap pengempon pura pedharman membuat kori agung, padahal kori agung hanya boleh untuk Pura Penataran Besakih. Padma tiga pun sekarang tak hanya ditemui di Pura Penataran, melainkan di setiap pura pedharman. Pura Melanting, Buleleng yang seharusnya cukup diisi dengan tiga pelinggih, harus dibengkakkan menjadi 15 pelinggih. Sementara batu moncol di pura itu dihabiskan. Karena itu ia berpesan hindari pemugaran pura hanya untuk melayani kepentingan pejabat.

Gelebet tak mau menyalahkan umat yang telah berkorban suci secara tulus ikhlas membangun pura. Para arsitek harus menjadi filter utama. Gelebet mengatakan jangan menjadi arsitek peliharaan. Model arsitek inilah menurutnya yang ikut merusak tatanan parahyangan di Bali. Mereka ini harus mampu mencegah pudarnya kharisma dan taksu pura dengan dalih pemugaran, pengembangan maupun pembangunan.

Semua pihak menghormati pembangunan pura menggunakan pendekatan sastra, dresta, ilikita, dan pasuara harus dipertahankan. Hal ini kini jarang ditemui sehingga pura dibangun tanpa acuan gegulak, nyanjan, nyastra maupun tatwa. Di sinilah pentingnya kita mengedepankan nilai religius. (sue)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)