Bali, Ritus, Ruang dan Arsitektur ---
Hindari Pemugaran Pura untuk Kepentingan Pejabat
Pembangunan pura di Bali menganut konsep ruang makro. Di
kalangan arsitek pun tak banyak yang mengetahui
bagaimana merancang dan merencanakan arsitektur pura.
Dalam seminar ''Bali, Ritus, Ruang dan Arsitektur Pura'',
yang diadakan Fak. Teknik Unwar, Rabu (26/4) kemarin
terungkap bahwa pemugaran pura di Bali banyak yang
mengabaikan filsafat, tatwa, dan pakem adat dan tradisi.
Pemugaran pura cenderung untuk kemegahan dan untuk
memenuhi pesanan pejabat.
---------------------------------
KETUA
Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali Ir. Made Widnyana
Sudibya menunjukkan bukti sejumlah bangunan pura
pedharman di Besakih tak berguru ke Pura Penataran
Besakih. Sejumlah pura dadia dan pedharman membuat bale
paselang, padahal bale ini hanya boleh ada di Pura
Besakih (Penataran, red) saat upacara Bhatara Turun
Kabeh.
Yang ia sesalkan, arsitektur pura yang dibangun pun
sering diubah dari aslinya. Mereka suka menambahkan meru
yang dulu tak ada dan menggeser pelinggih lain dengan
alasan agar halaman sembahyang bertambah luas namun
melupakan sikut kuna yang harus diwarisi. Akhirnya yang
terjadi, atap pelinggih saling tumpuk. Bahkan meru-nya
sering dibuat lebih modis padahal dulu berbentuk
gedongan.
Pura Goa Lawah juga sedang dipugar dengan alasan yang
sama. Padahal menurut Widnyana Sudibya, biang kerok
kemacetan adalah adanya jalan raya di depan pura. ''Mengapa
tidak jalannya yang dialihkan ke wilayah utara sehingga
tak mengganggu pemedek yang datang,'' ujarnya.
Pembicara lainnya Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., juga tak
setuju pembangunan pura untuk kepentingan pejabat. Ia
mencontohkan pejabat membangun pura di Jawa dengan
memboyong konsep Bali dalam bentuk padmasana. Ia menilai
lebih pas pembangunan pura di Jawa memakai bentuk candi,
warisan budaya setempat karena artinya sama yakni lingga-yoni.
Dosen senior jurusan arsitektur Bali FT Unwar ini
mengatakan saat ini pura dibangun asal megah. Mareka
melupakan asal mula proses pura tersebut, sehingga
hasilnya tak sesuai keinginan bersama.
Tanpa Acuan
Pengamat tata ruang Bali, Ir. Nyoman Gelebet pun merasa
kaget. Dulu leluhur kita tak pernah mengatur pura
tertentu harus dilengkapi dengan bangunan yang tak perlu.
Sekarang, kata dia, tiap ganti pejabat pura-pura besar
di Bali dipugar. Padahal para leluhur kita sangat
menghormati nilai-nilai yang diwariskan kepadanya.
Ia mencatat, padma tiga di Pura Besakih sejak 10 tahun
ini sudah tiga kali dipugar. Pembangunan meru pun tak
lagi menghormati warisan leluhur dengan menggunakan beti.
Akhirnya banyak meru yang dibangun belum dua tahun sudah
patah atau harus ditunjang dengan tiang penyangga.
Gelebet juga menyinggung keinginan setiap pengempon pura
pedharman membuat kori agung, padahal kori agung hanya
boleh untuk Pura Penataran Besakih. Padma tiga pun
sekarang tak hanya ditemui di Pura Penataran, melainkan
di setiap pura pedharman. Pura Melanting, Buleleng yang
seharusnya cukup diisi dengan tiga pelinggih, harus
dibengkakkan menjadi 15 pelinggih. Sementara batu moncol
di pura itu dihabiskan. Karena itu ia berpesan hindari
pemugaran pura hanya untuk melayani kepentingan pejabat.
Gelebet tak mau menyalahkan umat yang telah berkorban
suci secara tulus ikhlas membangun pura. Para arsitek
harus menjadi filter utama. Gelebet mengatakan jangan
menjadi arsitek peliharaan. Model arsitek inilah
menurutnya yang ikut merusak tatanan parahyangan di
Bali. Mereka ini harus mampu mencegah pudarnya kharisma
dan taksu pura dengan dalih pemugaran, pengembangan
maupun pembangunan.
Semua pihak menghormati pembangunan pura menggunakan
pendekatan sastra, dresta, ilikita, dan pasuara harus
dipertahankan. Hal ini kini jarang ditemui sehingga pura
dibangun tanpa acuan gegulak, nyanjan, nyastra maupun
tatwa. Di sinilah pentingnya kita mengedepankan nilai
religius. (sue)