''Prestasi
buruk
juga dicatat Bali
dalam
hal kondisi
fisik
gedung-gedung sekolah.
Sekitar 56,3%
gedung
sekolah yang tersebar
di
seluruh Bali kondisinya
rusak
parah.
Ini
aib
Bali yang
kedua
di bidang
pendidikan.
Termasuk
berat
Bali
ini.
Gedung
sekolah yang utuh
itu
hanya 43,7
persen.
Selebihnya
itu
rusak semua."
Soal
Angka
Buta Aksara------------
Bali Peringkat
Keempat
Terburuk di Indonesia
Denpasar
(Bali Post) -
Bali
Post/eka
NOTA KESEPAKATAN - Mendiknas Prof. Dr. Bambang Sudibyo,
MBA disaksikan Gubernur Dewa Beratha dan Ketua DPRD IB
Wesnawa saat penandatanganan nota kesepakatan, Rabu
(26/4) malam kemarin.
Menteri
Pendidikan
Nasional (Mendiknas)
Prof. Dr. Bambang
Sudibyo, MBA
mengatakan
Propinsi Bali
masih
menyimpan sejumlah
aib di
bidang
pendidikan. Dikatakannya,
angka
buta aksara
di
propinsi seribu
pura
ini ternyata
sangat
tinggi yakni
mencapai 15,56%
dari total
jumlah
penduduk usia 15
tahun
ke atas.
Persentase
buta
aksara yang dicatat
Bali
itu
menempati peringkat
keempat
terburuk di
Indonesia.
''Dari sisi
persentase
buta
aksara, Bali hanya
lebih
baik dari
Propinsi NTB, Papua
dan
Jawa Timur.
Target kita,
angka
buta aksara
di Bali
terpangkas hingga
di
bawah lima persen
pada
tahun anggaran 2009
mendatang,''
kata
Mendiknas Bambang
Sudibyo
di sela-sela
acara
penandatanganan Nota
Kesepakatan
Rehabilitasi
Gedung
Sekolah, Wajib
Belajar
Pendidikan Dasar 9
Tahun
dan Penuntasan
Buta
Aksara, di
Gedung
Wiswa Sabha
Kantor
Gubernur Bali, Rabu
(26/4) kemarin.
Ia
menambahkan, ''prestasi''
buruk
juga dicatat Bali
dalam
hal kondisi
fisik
gedung-gedung sekolahnya.
Sekitar 56,3%
gedung
sekolah yang tersebar
di
seluruh Bali kondisinya
rusak
parah. ''Itu
aib
Bali yang
kedua
di bidang
pendidikan.
Termasuk
berat
Bali
ini.
Gedung
sekolah yang utuh
itu
hanya 43,7
persen.
Selebihnya
itu
rusak semua,''
katanya
sambil menambahkan,
masalah
gedung-gedung sekolah
yang rusak
itu
merupakan aib
dunia
pendidikan yang sangat
kentara,
sehingga
tidak
boleh ada
keraguan
berinvestasi
untuk
merehab gedung-gedung
sekolah yang
rusak
itu secepatnya.
Kendati
memiliki
sejumlah
aib,
kata Mendiknas,
dunia
pendidikan Bali juga
mencatat
sejumlah
prestasi yang
membanggakan.
Ditegaskannya,
kualitas
pendidikan
di
Bali
secara
umum bagus.
Apabila
angka buta
aksara
tidak diperhitungkan,
maka
pendidikan Bali (pendidikan
dasar,
menengah dan
pendidikan
nonformal-red)
masuk
dalam peringkat
lima
besar
terbaik nasional.
Peringkat
terbaik
dan kedua
diraih DI
Yogyakarta
dan DKI
Jakarta.
Sementara
posisi Bali
antara
tiga hingga
lima
terbaik
bersama Jawa
Tengah
dan Jawa
Timur. Bali
juga
berhasil mencatatkan
diri
sebagai delapan
besar
terbaik dalam
hal
pendidikan anak
usia
dini (PAUD).
Untuk SD/MI, Bali
masuk
tiga terbaik
setelah DI
Yogyakarta
dan DKI Jakarta yang
penilaiannya
berdasarkan
angka
partisipasi murni
maupun
hasil ujian
sekolah.
Pada
jenjang
pendidikan SMP/Mts,
Bali
masuk
peringkat delapan
besar
setelah angka
partisipasi
kasar
dan hasil
ujian
nasional diperhitungkan.
Sedangkan
untuk SMA/SMK,
Bali
masuk
peringkat tiga
terbaik
setelah DKI Jakarta dan
DI Yogyakarta.
''Khusus
untuk
penuntasan Wajib
Belajar
Pendidikan Dasar 9
tahun,
akhir 2006 ini
Bali
ditargetkan
sudah
bisa mencapainya.
Paling tidak,
tahun
anggaran 2007 harus
sudah
tercapai.
Kalau
sampai 2007
belum
tercapai, itu
kebangetan
namanya,''
tegasnya.
Sementara
itu,
Kepala Dinas
Pendidikan
Propinsi Bali TIA
Kusuma
Wardhani, S.H., M.M.
mengatakan penandatanganan
Nota
Kesepakatan Bersama
antara
Mendiknas dengan
Gubernur Bali
dan
antara Gubernur Bali
dengan
Bupati/Wali Kota se-Bali
untuk memperbaiki
gedung SD/MI, SMP/MTs,
SMA/SMK/MA negeri/swasta
yang rusak,
penuntasan
wajib
belajar pendidikan
dasar 9
tahun dan
penuntasan
buta
aksara.
Dikatakannya, rehab
gedung
sekolah yang rusak
itu
dilaksanakan secara
swakelola/block grant
oleh
kepala sekolah
bersama-sama
dengan
komite sekolah
dengan
sasaran 7.136 lokal.
Perbaikan
ribuan
sekolah yang rusak
menelan
dana
Rp 369,460
milyar.
Sedangkan penuntasan
wajib
belajar 9 tahun
didanai
Rp 62,13 milyar
lebih
dan penuntasan
buta
aksara dengan
sasaran 76.006
orang
didanai Rp 41,822
milyar
lebih. ''Total keseluruhan
dana yang
dibutuhkan
adalah
Rp 473,41
milyar
lebih. Dari
dana
tersebut,
pemerintah
pusat
melalui Depdiknas
membantu 50
persen,
sedangkan pemerintah
propinsi
dan
kabupaten/kota masing-masing
mendanai 25
persen,''
katanya
sambil menambahkan,
ketiga program
itu
ditargetkan tuntas
pada
tahun anggaran 2009
mendatang.
(kmb13)