kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 27 April 2006

 Bali

 

Dari Warung Global Inteaktif Bali Post
Positif, Pembatasan BBM ---

Pemborosan Terjadi di DPR dan Eksekutif

-----------------------------

KALAU kita melihat kendaraan dinas di jalan pada saat di luar jam kerja, apalagi saat hari libur, apakah yang terbayang dalam benak kita selaku masyarakat? Apakah pejabat sangat sibuk, atau memang karena kesempatan kebetulan jadi pejabat, atau malah pejabat tidak punya kendaraan pribadi? Maka tidaklah salah kalau asas manfaat juga bermain di dalamnya. Tetapi terasa sangat tidak adil kalau dalam situasi ekonomi yang melilit rakyat ini, para pejabat malah menikmati sarana pemerintah. Kalau akhirnya dari pusat akan dikeluarkan aturan pembatasan jatah BBM, kebijakan ini terkesan terlambat, namun cukup baik daripada tidak sama sekali. Pembatasan BBM tersebut sangat positif. Namun, di pemkab-pemkab sebenarnya bukan BBM yang tinggi, tetapi maintenance-nya (perawatan) yang tinggi di samping dikorupsi sopirnya tetapi juga personalianya, serta bengkelnya. Yang paling memberatkan bagi APBD dan APBN adalah kunjungan legislatif ke luar negeri karena biaya transportasi lebih besar daripada biaya operasional daerah. Inilah yang perlu dibatasi. Karena sekarang kita bisa lihat pemborosan terjadi di DPR dan eksekutif, baik melalui korupsi-korupsinya atau anggaran operasionalnya. Inilah yang perlu dipangkas sehingga kepercayaan masyarakat akan bangkit kembali. Demikian antara lain wacana yang terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan di Radio Global FM 96,5, Rabu (26/4) kemarin. Acara ini juga direlai oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

---------------------------------

Andika di Mengwi menjelaskan, sebagai pengguna kendaraan sepeda motor dinas, aparat desa sehari-harinya tidak pernah meminta pada anggaran karena malu. Hanya untuk penggantian ban atau Samsat atau di atas Rp 75.000, barulah mengambil dari anggaran. Karena sadar juga bahwa setiap saat menggunakan kendaraan tersebut. Jika kenyataannya banyak pejabat yang kendaraan dinasnya dipergunakan oleh kerabatnya, misalnya anggota DPR mudah sekali meminjamnya, itulah hukum rimba.

Bratayasa di Sangeh setuju pembatasan BBM agar pejabat tersebut dalam menggunakan kendaraannya lebih dibatasi mengingat harga BBM terus melambung tinggi. Di samping itu yang berhak menggunakan mobil-mobil dinas hanya pejabat bersangkutan, bukan istri atau anak pejabat dan digunakan hanya pada jam-jam tugas.

Nang Tualen di Penebel menyatakan kendaraan pelat merah harusnya memang digunakan pada saat bertugas, jangan di luar jam dinas, apalagi dipinjamkan kepada tetangga, karena hal ini sering sekali ditemukan di jalan. Ketika kita kritisi mereka cenderung tidak malu, sehingga mental-mental seperti itu harus dihilangkan. Maka dari itu pembatasan jatah BBM ini mari kita dukung.

Adnyana di Pedungan mengingatkan, pembatasan ini baru akan, berarti belum. Semestinya segera agar betul-betul efektif dalam pengertian tidak mengganggu pelayanan. Adanya banyak berkeliaran mobil pelat merah hal ini sudah lumrah. Sehingga pembatasan ini harus didukung.

Yogi di Negara menilai semestinya ada batas toleransi tertentu, tidak terlau kejam, seumpama ada kepentingan pribadi sedikit bisa dilaksanakan. Mengenai pembatasan BBM tersebut sangat positif. Namun di pemkab-pemkab sebenarnya bukan BBM yang tinggi, tetapi maintenance-nya (perawatan) yang tinggi, di samping dikorupsi oleh sopirnya juga personalianya serta bengkelnya. Yang paling memberatkan bagi APBD dan APBN adalah kunjungan legislatif ke luar negeri karena biaya transportasi lebih besar daripada biaya operasional daerah. Inilah yang perlu dibatasi.

Made Karya di Mengwi melihat bahwa fenomena sosial yanag terjadi sekarang ini sudah menyeret rakyat pada jurang kemiskinan. Adapun kebijakan yang diambil pemerintah untuk pembatasan BBM ini akan menimbulkan dampak yang sulit kita ketahui. Sebagai rakyat dia bertanya apakah ada perbaikan di sektor lain seperti ekonomi, sosial, masih dipertanyakan. Jika ini masih buram maka kebijaksanaan ini tidak berarti apa-apa.

Ade di Denpasar berpendapat, memang pada saat seperti itu setiap ada kenaikan BBM sudah semestinya pemerintah tidak membebankan kepada masyarakat atau rakyat. Tetapi cobalah sekali-sekali beban ini ditanggung oleh mereka-mereka yang duduk di pengurusan pemerintahan atau dewan. Karena ironis sekali saat ada kenaikan dibebankan kepada rakyat, sementara di sisi lain berlomba untuk membuat anggaran atau gaji naik. Sekarang kita bisa lihat pemborosan terjadi di DPR dan eksekutif, baik melalui korupsi-korupsinya atau anggaran operasionalnya. Inilah yang perlu dipangkas sehingga kepercayaan masyarakat akan bangkit kembali, karena saat ini kepercayaan kepada mereka hanya tinggal 20%.

Menurut Sukadana di Klungkung, bukan saja penggunaan BBM yang dibatasi, tetapi mobil dinas hanya boleh keluar pada jam kerja. Kalau hari libur diam di instansi, tidak boleh dibawa pulang. Kalau kerja bawa kendaraan pribadi, jangan dibawa pulang, nanti dipakai anak atau keluarga. Karena sering sekali dia melihat kendaraan dinas digunakan istri atau anak sang pejabat.

Gede Duriasa di Denpasar berpendapat jangan BBM yang dibatasai, tetapi mobil pejabat tersebut diganti dengan menggunakan sepeda motor atau sepeda gayung.

Sementara Agung Putra di Denpasar mengharapkan yang diefektifkan selain untuk BBM juga dana taktis harus dipangkas atau diefektifkan. Ini harus terkonsep dan terstruktur. Karena pembatasan BBM ini baru dilakukan karena harga BBM dunia naik. Seharusnya pembatasan ini segera, jangan menunda-nunda lagi.

IB Rai di Denpasar berpendapat bahwa ini kesannya baru bangun atau terlambat setelah sebegini parahnya. Seharusnya bersiap-siap apa yang harus dilakukan. Walau terlambat tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita ingat ketika zamannya Soeharto kedengaran pengencangan ikat pinggang, galakkan produksi dalam negeri dengan mencintainya, namun sekarang hal-hal itu tidak ada. Kalau memang bermanfaat kenapa tidak kita gunakan, apalagi dalam situasi terpuruk seperti ini. Kalau mau mengadakan pembatasan yang ada kaitannya dengan BBM, pertama kendaraannya perlu dibatasi, kedua BBM perlu dibatasi. Namun ironisnya dalam situasi rakyat kejepit ini pemerintah dan DPRD seolah-olah tidak ada perhatian sama sekali. Maksudnya, anggaran mereka dibesar-besarkan dan juga gajinya dinaikkan. Kalau terus-terusan seperti ini bagaimana rakyat nantinya? Ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah akan semakin parah.

Bagi Gusti di Jimbaran, sebaiknya mobil dinas ditiadakan, Kalau swasta silakan saja harus mempunyai mobil pribadi. Biar adil.

* panca

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)